Opini

Goresan Pagi: Mengutamakan Pihak Lain

Oleh: Dr. KH. Syamsul Bahri Abd. Hamid, Lc, MA (Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sulsel)

Makassar, muisulsel.com – Salah satu prinsip agung Islam adalah nikmat itu harus dapat dirasakan bersama dan tidak dimonopoli seseorang atau pihak tertentu saja. Dalam hal kesempatan mencicipi nikmat, maka orang beriman hendaknya mengutamakan pihak lain dari dirinya sendiri

قَالَ الله تَعَالَى:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Para sahabat Nabi saw membuktikan rasa bahu membahu dengan sesama muslim dengan memikirkan kemaslahatan umat di atas kemaslahatan pribadi. Rasa bahu membahu tersebut mengutamakan pihak lain dari dirinya sendiri.

Rasul saw pernah kedatangan tamu lalu Nabi panggil salah seorang istrinya untuk membawa jamuan makanan untuk tamu, maka jawab istrinya itu hanya ada air putih yang tersedia, lalu Nabi panggil istrinya yang lain jawaban sama. Hingga semua istri Nabi saw menjawab sama, maka Nabi sampaikan ke tamu bahwa kami hanya bisa jamu dengan air putih.

Nabi lalu sampaikan kepada para sahabat Anshar adakah yang bisa jamu tamu malam ini? seorang Anshar angkat tangan, saya bisa ya rasulullah saw. Singkat cerita, ternyata Anshar itu juga makanannya hanya cukup untuk anak-anakmya, lalu ia pun menyibukkan anak-anaknya dengan permainan hingga tertidur, lalu mematikan lampu agar tamunya makan seakan ditemani tuan rumah yang berpura-pura makan dalam kegelapan malam. Sementara mereka kelaparan hingga pagi.

Setelah itu, Rasul saw memuji rasa bahu membahu sahabat Anshar itu bahwa Allah memuji perbuatan mereka yang utamakan tamu lebih dari kebutuhan keluarga sendiri.

Keraguan pada sedikit jumlah makanan dibandingkan dengan kapasitas tamu dapat ditaksir minimal bila jumlah persiapan 1/2 dari jumlah kebutuhan tamu terhadap makanan

((كلوا جميعًا ولا تفرقوا فإن طعام الواحد يكفي
الاثنين)). الحديث

Makanlah secara bersama sesungguhnya makanan satu orang bisa cukup untuk dua orang.

Ada rasa tenggang rasa bagi orang-orang yang makan makanan sementara makanannya sedikit adalah dengan sendirinya mereka ambil makanan sesuai porsi yang sisanya mencukupkan semua yang hadir, ditambah keberkahan rasa kenyang pada mereka karena ikut berbagi jatah atas lainnya ini. Kondisi ini selalu ada pada orang-orang yang makan bersama.

Hal lain adalah kelebihan pangan sedikit pada setiap orang bila dikumpul maka itu menjadi hal besar bila dibagi pada lainnya, seperti contoh kaum Asy’ariyyin di Madinah. Bila persiapan pangan mereka berkurang dan ada yang sudah habis kebutuhan pokoknya, maka mereka kumpulkan kelebihan-kelebihan pangan mereka walau sedikit, lalu dibagi ke yang membutuhkan. Inilah hal yang sangat indah di kalangan sahabat Nabi saw.

Sebagai contoh teladan termulia ketika Nabi saw dibuatkan kain selimut oleh seorang wanita sebagai hadiah rajutan tangan terbaiknya untuk dipakai Nabi saw. Lalu Nabi pakai sebagai sarung untuk beribadah shalat, Sahl bin Saad ra melihatnya sebagai sarung Nabi saw lalu ia meminta sarung itu kepada Nabi, ia ingin memilikinya, Nabi pun memberinya setelah dipakai sekali ke masjid, para sahabat protes ke Saad bahwa itu tidak layak karena Nabi suka dan sementara dipakai Nabi saw. saad ternyata beral

Saad ternyata beralasan bahwa ia meminta kepada Nabi bukan untuk dipakai keseharian tetapi ia cari keberkahan pada barang yang pernah dipakai Nabi untuk kelak ia jadikan kain kafannya, dan itulah kain kafannya setelah ia wafat.

Perbuatan mengutamakan pihak lain dari diri sendiri adalah sudah jadi prinsip mulia yang dianut diberbagai bangsa dan negara, yang paling penting difahami adalah bahwa prinsip ini sudah dipraktekkan 14 abad yang lalu di Medinah zaman Nabi saw. wallahu a’lam.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.