HIKMAH HALAQAH: Penggantian Imam dalam Salat

AG Prof Dr KH M Faried Wadjedy, Lc MA (Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulsel)

Makassar, muisulsel.or.id – Apabila imam tiba-tiba keluar dari salat yang sementara berlangsung dengan alasan berhadas, kelupaan sesuatu, atau bahkan tidak berhadas sekalipun, maka boleh ia minta kepada seseorang menggantikan posisinya untuk melanjutkan salat.

Hal itu disandarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA ketika Rasulullah sakit dan akan wafat. Dalam kondisi itu Rasulullah berpesan agar meminta kepada sahabatnya yakni Abu Bakar RA, dan hal itu membuatnya senang.

Pada saat Abu Bakar memimpin salat, ia melihat Rasulullah dari balik jendela kemudian Abu Bakar memberi isyarat agar dirinya digantikan sebagai imam dalam salat, lalu Nabi Saw. pun menggantikan posisinya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Namun, dalam penggantian salat itu di syaratkan agar imamnya dalam waktu yang dekat, sehingga bisa sesuai salatnya imam yang baru dan imam yang lama yang artinya masih di rakaat pertama.

Akan tetapi, boleh juga yang menggantikan imam dari salah seorang makmum dengan anjuran makmum di belakang adalah orang-orang yang dianggap mampu menjadi imam.

Maka tidaklah sah apabila penggantian imam itu dilakukan oleh perempuan sementara imamnya adalah laki-laki. Dan apabila hal ini terjadi, maka batallah semua salatnya.

Dalam urusan salat, ada banyak hal-hal yang perlu kita perhatikan. Simak penjelasan lengkapnya pada link LIVE berikut ini.

Kontributor: Nur Abdal Patta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.