Jadi Pemateri Dalam Orientasi Muballigh, Sekum MUI Paparkan Moderasi Beragama

Bantaeng, muisulsel.or.id – Sekretaris umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Prof Dr KH Muammar Bakry, Lc MA, bawakan materi pada kegiatan orientasi muballigh, yang sekaligus dirangkai dengan peresmian gedung kantor dan pengukuhan pengurus MUI kecamatan se Kabupaten Bantaeng.

Kegiatan tersebut berlangsung di kantor baru MUI Bantaeng kelurahan Lamalaka kecamatan Bantaeng yang di resmikan oleh Wakil Bupati Bantaeng bersama Sekum MUI Sulsel serta dihadiri oleh para pengurus MUI kecamatan yang ada di Bantaeng, pada Senin (18/9/2023).

Muammar Bakry menjelaskan arti kata wasathiyah atau pertengahan yang menjadi tema dalam pembahasannya, di mana kalimat tersebut juga berada dalam surat Albaqarah ayat 143 yang berada di tengah surat dan menyebutkan kalimat wasathan.

Rektor UIM Al-Gazali Makassar ini mengatakan bahwa wasathan ini meskipun ia berada di tengah, namun tidak menutup kemungkinan dirinya berada di pinggir. Sehingga dapat pula di artikan wasathan ini bermakna Pertimbangan atau bertawazul yakni makna moderatnya i’tidal.

Dalam hal akidah, menurut guru besar UINAM ini, Islam wasathiyah tidak ada tawar menawar. Artinya apa yang telah digariskan oleh Allah dan Rasulnya itu mutlak dilaksanakan tanpa ada tawar menawar lainnya. Namun, dalam hal syariat muamalah itu beragam pendapat dari para ulama.

Ia memberikan salah satu contoh bagaimana beragama yang ekstrem, di kutip dari beberapa kitab tafsir bahwa Yahudi dan Nasrani itu memiliki syariat yang ekstrem, misalnya bagi Yahudi jika di tampar sekali maka ia harus membalasnya lebih keras dari itu, dan bagi Nasrani jika di tampar pipi kirinya maka ia akan memberikan pipi kanannya lagi.

Berbeda halnya dengan Islam yang moderat, jika yang disakiti adalah telinga maka balasannya juga hanya telinga saja, atau jika tangan kanan yang disakiti maka tangan kanan itu pula sebagai balasannya. Akan tetapi jika ia tidak membalas maka itulah yang terbaik.

Nah, dalam Islam jika membahas isi dari konsep agama Islam secara internal maka kita menggunakan ilmu fiqih yang bahasannya sangat luas, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai kebenaran yang mutlak.

Ilmu fiqih dalam membahas suatu persoalan, maka akan muncul berbagai macam hukum dan pendapat, sehingga penetapan hukumnya menjadi pilihan bagi umat, oleh karena semua pendapat itu benar dengan dalil yang di kemukakan.

Contoh kecil dikemukakan lagi olehnya, pada pembacaan basmalah yang di jaharkan atau di tsir kan dalam salat, semua pendapat itu benar. Begitu pun melakukan qunut pada salat subuh, ada yang melakukannya dan ada yang tidak melakukannya. Akan tetapi tidak boleh menyalahkan pendapat orang lain yang melakukannya.

Di akhir paparannya, Muammar Bakry mengimbau kepada para pengurus MUI untuk memperkaya ilmu agama sebagai bekal literasi dalam berdakwah, yang akan memberikan kesejukan dalam masyarakat tanpa menyalahkan suatu kaum yang tidak sependapat dengannya.

Orientasi muballigh ini diikuti oleh seluruh pengurus MUI kecamatan se Kabupaten Bantaeng, dan di saksikan oleh ketua dan sekretaris MUI Bantaeng bersama puluhan pengurus lainnya.

Kontributor: Nur Abdal Patta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.