HIKMAH RAMADAN: Puasa dan Penguatan Solidaritas Keumatan

Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag.

Makassar, muisulsel.or.id – Pada prinsipnya salah satu proses penciptakan kita melalui al Alaq (ketergantungan). Kenapa kita memiliki ketergantungan karena proses penciptaan kita itu memang tergantung.

Tetapi kita dalam berhubungan bisa saling memangsa, karena ternodai dari perkataan atau perbuatan kita yang saling menodai sesama manusia.

Kita lahir sudah bertauhid dan membawa nilai kefitrahan dimana di situ ada keihlasan, membantu, mudah memaafkan dan seterusnya.

Agama dihadirkan melalui Rasulullah untuk mentazkiyah diri kita. Allah memerintahkan kepada kita untuk beribadah adalah cara Allah menjaga kefitraan kita dalam berhubungan kepada Allah dan sesama Manusia.

Termasuk ibadah puasa ini, kita lakukan untuk bisa mengendalikan pemenuhan kebutuhan kita yang halal, sehingga kalau ini terlatih, akan menghindari melakukan yang haram.

Selain itu untuk menggugah rasa solidaritas, kepedulian kita untuk membatu yang pada akhirnya memperkuat kebersamaa kita.

Ucapan juga menjadi pembatasan kita dalam berpuasa. Melakukan perbuatan yang sia-sia juga menjadi latihan buat kita selama sebulan.

Durasi Puasa kita didikan selama sebulan dalam setahun. Hasil survey menunjukkan bahwa rata-rata untuk mengubah karakter seseorang harus dilakukan paling lama 30 hari.

Kegiatan yang biasa kita lakukan secara individual kita akan diperkuat dengan solidaritas kita saat berbuka puasa. Berpuasa bersama membuat diri kita yang bersifat individu membimbing kita untuk menjaga solidaritas kita saat bulan Ramadan

Simak penjelasan lengkapnya pada video dibawah ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.