Makassar, muisulsel.or.id – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel Dr KH Syamsul Bahri Abd Hamid Lc MA mengingatkan dua hal pengobat hati. Hal ini disampaikan saat mengisi khutbah di Masjid Raudhatul Jannah RS Bhayangkara Makassar, Jumat 8 Nopember 2024.
Dalam ulasannya Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Cokroaminoto Makassar ini mengatakan obat hati yang yang pertama adalah selalu mendengar perintah dan larangan Allah SWT serta Rasulullah.
Jika seorang mengalami penyakit hati seperti iri, dengki, hasad dan lainya maka senantiasa mendengar perintah dan larangan Allah serta Rasulullah. sebagaimana hadis nabi “Janganlah kalian (wahai muslim) saling hasad (dengki), saling najsy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah kalian melakukan transaksi harta yang berdampak pada gagalnya transaksi orang lain. (HR Muslim).
Dari hadis ini mengingatkan kita agar senantiasa selalu mendengarkan perintah dan larangan Allah SWT serta Rasullulah karena ini menjadi kunci untuk mengobati penyakit hati.
Kemudian yang kedua meluangkan waktunya untuk berdua dengan Allah dalam keheningan atau kesendirian untuk beribadah. Menyendiri ditengah keheningan sangat dibutuhkan untuk menenangkan diri dengan Allah seraya membayangkan dosa atau mengintrospeksi diri.
Menyendiri atau tahannuts ini sering dilakukan Nabi Muhammad SAW saat melakukan tahannuts di Gua Hira sebagai wujud keprihatinannya terhadap masyarakat Arab kala itu. Selain itu Nabi Musa juga melakukan tahannuts di Bukit Tursina . Selain para nabi tahannuts juga dilakukan oleh sahabat, ulama dan tokoh islam lainya.
Beribadah saat sendiri atau tahannuts bisa dilakukan dimana saja asal nyaman,bisa di rumah dan masjid atau tempat lainya yang penuh dengan ketenangan dan jauh dari hiruk pikuk dunia.
Namun bertahannuts juga tidak dilakukan setiap hari karena seseorang harus bekerja atau memiliki tanggung jawab lainya sehingga harus meluangkan waktu untuk mengurusinya.
Dengan melakukan tahannuts ini seseorang akan terlihat lebih baik dan lebih menyadari akan dirinya.
Dengan melakukan dua hal tersebut maka segala penyakit hati bisa terobati dengan selalu mendengarkan perintah, larangan Allah SWT dan Rasulullah kemudian melakukan ibadah dengan berdua-duaan dengan Allah SWT dalam kesendirian atau tahannuts.
Irfan Suba Raya
