Fatmawati Hilal (Pengurus KPRK MUI Sulsel /Jamaah Haji Kloter UPG 5)
Makassar, muisulsel.or.id – Sejak 1 Juni 2026, jamaah haji Indonesia mulai kembali ke tanah air secara bertahap. Saya sendiri, sebagai jamaah Kloter UPG 5, tiba di Indonesia pada 5 Juni 2026 dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan. Setelah menanti selama 15 tahun, Allah SWT akhirnya mengizinkan saya menunaikan rukun Islam yang kelima. Bagi setiap jamaah, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual yang penuh pengorbanan, kesabaran, dan harapan.
Kebahagiaan sepulang dari haji diekspresikan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menampakkannya melalui ucapan syukur, perubahan sikap, atau cara berbusana saat bertemu kembali dengan keluarga dan masyarakat. Namun, di tengah suasana haru dan sukacita tersebut, muncul pula berbagai komentar dan penilaian. Tidak sedikit yang lebih sibuk menyoroti penampilan lahiriah daripada memahami perjalanan panjang yang telah dilalui para tamu Allah.
Fenomena ini semakin mudah terjadi di era media sosial. Hanya melalui potongan video atau foto yang beredar, berbagai penilaian dan bahkan vonis dengan cepat bermunculan. Jamaah haji Bugis-Makassar yang pulang mengenakan pakaian adat berwarna-warni, songko’, cipo’, aksesori bernuansa emas, atau wewangian khas Arab sering kali menjadi sasaran komentar. Sebagian menganggapnya berlebihan, tidak mencerminkan kesederhanaan, bahkan ada yang langsung mengaitkannya dengan kemabruran haji seseorang. Padahal, apa yang tampak di mata belum tentu mewakili makna yang sesungguhnya.
Ibadah Haji: Perjalanan Menemukan Diri
Haji sesungguhnya bukanlah tentang pakaian yang dikenakan saat pulang ke kampung halaman. Haji adalah proses penyucian diri dan perjalanan menemukan kembali hakikat kehambaan. Di Arafah, manusia belajar tentang kesetaraan. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa. Semua berdiri di hadapan Allah dengan pakaian yang sama, membawa dosa dan harapan yang sama.
Di Muzdalifah dan Mina, manusia belajar tentang kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan. Sementara di hadapan Ka’bah, manusia menyadari betapa kecil dirinya dibandingkan kebesaran Allah SWT. Karena itu, kemabruran haji tidak pernah diukur dari simbol-simbol lahiriah, tetapi dari perubahan akhlak yang tumbuh setelahnya. Semakin baik hubungan seseorang dengan Allah, semakin baik pula hubungannya dengan sesama manusia.Namun memahami substansi haji tidak berarti menafikan budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Tradisi dan Syariat Tidak Selalu Berhadap-hadapan
Islam tidak datang untuk memberangus seluruh tradisi. Banyak tradisi yang tetap hidup sejak masa Rasulullah SAW. selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Dalam khazanah fikih dikenal konsep al-‘urf, yaitu kebiasaan masyarakat yang dapat diterima dan dijadikan pertimbangan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama serta membawa kemaslahatan.
Dalam konteks masyarakat Bugis-Makassar, tradisi penyambutan jamaah haji merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan atas kepulangan para tamu Allah dari Tanah Suci. Momen tersebut diekspresikan melalui berbagai simbol budaya, seperti penggunaan busana adat, songko’, cipo’, aksesori bernuansa emas, hingga wewangian khas Arab.
Semua itu bukan bagian dari rukun haji dan bukan pula kewajiban agama. Ia hanyalah ekspresi budaya yang lahir dari rasa syukur dan kegembiraan atas selesainya perjalanan spiritual yang sangat dinantikan. Pakaian yang tampak mewah dan berkilau bukan semata-mata simbol kemegahan, tetapi juga harapan agar para jamaah yang pulang dari Tanah Suci membawa cahaya kebaikan, memperkuat keimanan, serta menebarkan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.Karena itu, tradisi tidak seharusnya dipertentangkan dengan syariat. Yang perlu dijaga adalah agar tradisi tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai Islam.
Jangan Menggeneralisasi dari Segelintir Peristiwa
Sayangnya, ruang publik hari ini sering kali dipenuhi kecenderungan untuk menggeneralisasi. Ketika ada satu atau dua orang yang belum sempurna menjaga aurat saat mengenakan pakaian adat, maka seluruh tradisi dianggap bermasalah. Ketika ada segelintir jamaah yang tampil kurang proporsional, maka budaya yang diwariskan turun-temurun ikut dipersalahkan.
Padahal cara pandang seperti ini jelas tidak adil. Jika ada individu yang belum sepenuhnya menjalankan tuntunan agama, maka yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan tradisinya secara keseluruhan.
Faktanya, sangat banyak jamaah haji Bugis-Makassar yang tetap mengenakan pakaian adat, mengikuti tradisi penyambutan, sekaligus menjaga aurat, menjaga adab, dan memegang teguh tuntunan syariat. Namun mereka jarang menjadi sorotan. Yang viral justru pengecualian, lalu dari pengecualian itu lahirlah kesimpulan yang ditujukan kepada seluruh komunitas.Inilah salah satu ironi kehidupan modern: kita semakin mudah menilai, tetapi semakin sedikit meluangkan waktu untuk memahami.
Jangan Berhenti pada Apa yang Tampak
Kita sering lupa bahwa perubahan manusia adalah sebuah proses. Ketika ada seorang hajjah yang masih belum sempurna dalam berbusana, bukan berarti seluruh perjuangan spiritualnya harus diabaikan. Boleh jadi sebelum berangkat haji ia sedang berusaha meninggalkan kebiasaan lama, belajar memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah sedikit demi sedikit. Bukankah usaha seperti itu juga layak dihargai?
Sering kali, yang paling membutuhkan perbaikan bukanlah orang yang sedang kita nilai, melainkan cara kita memandangnya. Terlalu mudah menunjuk kekurangan orang lain membuat kita lupa memeriksa kekurangan diri sendiri. Terlalu sibuk mengomentari pakaian seseorang membuat kita lalai menata hati yang dipenuhi prasangka.
Padahal boleh jadi, di sisi Allah, seorang hamba yang masih berjuang memperbaiki diri lebih dicintai daripada mereka yang merasa telah sampai pada puncak kesalehan.
Karena itu, jangan berhenti pada apa yang tampak. Belajarlah melihat lebih dalam daripada sekadar penampilan. Hargailah setiap ikhtiar menuju kebaikan, sekecil apa pun bentuknya. Jika belum mampu membantu seseorang menjadi lebih baik, setidaknya jangan menjadi penghalang bagi proses perubahannya. Sebab setiap manusia memiliki waktu dan jalan masing-masing dalam menempuh perjalanan menuju Allah.
Dakwah dengan Hikmah, Bukan Hujatan
Islam mengajarkan agar kita berhati-hati dalam menilai manusia. Tidak semua yang tampak saleh memiliki hati yang bersih, dan tidak semua yang tampak kurang sempurna berarti jauh dari rahmat Allah. Kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya.
Karena itu, dakwah yang benar tidak dibangun di atas hujatan, cibiran, atau rasa paling benar. Jika terdapat praktik yang perlu diperbaiki, maka nasihat dan pembinaan harus disampaikan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang. Sebab tujuan dakwah adalah mengajak manusia menuju kebaikan, bukan mempermalukan mereka di hadapan publik.
Sudah saatnya kita belajar menjadi masyarakat yang lebih arif dalam menilai. Tidak tergesa-gesa menghakimi hanya karena apa yang terlihat. Tidak mudah menyalahkan tradisi hanya karena perilaku sebagian kecil pelakunya. Tidak menutup mata terhadap nilai-nilai luhur yang hidup di balik sebuah budaya.
Mabrur di Mata Allah, Bukan di Mata Manusia
Hidayah Allah tidak selalu datang dalam bentuk perubahan yang instan. Ia sering hadir melalui langkah-langkah kecil yang terus dijaga dengan istiqamah. Karena itu, kemabruran haji tidak dapat diukur hanya dari apa yang tampak di permukaan. Di balik seorang haji yang pulang dengan pakaian adat dan aksesori yang mencolok, bisa jadi terdapat perjalanan panjang yang tidak diketahui orang lain: tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, doa yang tak pernah putus dipanjatkan, air mata yang jatuh di Arafah, serta penyesalan dan harapan yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT.
Hakikat haji tidak terletak pada pakaian yang dikenakan seseorang ketika pulang dari Tanah Suci, melainkan pada nilai-nilai yang dibawanya pulang ke dalam kehidupan. Kemuliaan seorang haji tidak terletak pada simbol yang melekat di tubuhnya, tetapi pada akhlak yang tumbuh dalam jiwanya.
Karena itu, kemabruran bukanlah perkara yang dapat diputuskan oleh komentar manusia atau diukur dari seberapa sederhana maupun mewah penampilan seseorang. Kemabruran adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tugas kita bukan menjadi hakim atas keimanan orang lain, melainkan menjadi saudara yang mendoakan, membimbing, dan menguatkan.
Sebab boleh jadi, orang yang hari ini kita nilai hanya dari pakaian dan penampilannya, justru datang menghadap Allah dengan hati yang lebih bersih daripada hati kita yang sibuk menilainya. (Irfan Suba Raya)
