Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsle.or.id – Rasa ingin tahu adalah anugerah besar yang Allah ta’ala tanamkan dalam diri manusia. Ia adalah pintu awal dari ilmu, sebab tanpa rasa ingin tahu, manusia tidak akan mencari, mempelajari, dan menemukan sesuatu yang baru. Namun, anugerah ini akan berubah menjadi bumerang jika salah arah. Banyak orang menjadikan rasa ingin tahu hanya sebagai alat untuk mengintip kehidupan orang lain, membicarakan aibnya, atau sekadar memenuhi dahaga gosip. Padahal, Allah ta’ala telah mengingatkan
وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
Artinya: “Dan janganlah kalian saling memata-matai, dan jangan pula sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (QS. al-Hujurat: 12).
Ayat ini memberi pesan bahwa mengarahkan rasa ingin tahu pada urusan pribadi orang lain adalah tercela. Sebaliknya, Islam mendorong agar rasa ingin tahu itu diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat, membangun pengetahuan, memperkaya wawasan, dan membawa manusia kepada kemajuan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menekankan agar manusia hanya menaruh perhatian pada apa yang bermanfaat baginya. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. al-Tirmizi)
Hadits ini sangat jelas, sibuk mencari tahu urusan orang lain justru tanda buruknya agama seseorang. Sebaliknya, mengarahkan keingintahuan kepada hal-hal yang mendidik dan membangun adalah bagian dari kesempurnaan iman.

Karena rasa ingin tahu yang sejati adalah yang mendorong penemuan, inovasi, dan pemahaman mendalam tentang dunia. Itulah rasa ingin tahu yang produktif, bukan sekadar penasaran pada kehidupan orang lain, tetapi pada ide, gagasan, dan pemikiran. Rasa ingin tahu yang seperti ini menjadi bahan bakar bagi peradaban.
Para ulama salaf pun sangat menekankan pentingnya mengisi waktu dan rasa ingin tahu dengan hal yang bermanfaat.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata
إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها
Artinya: “Menyia-nyiakan waktu itu lebih buruk daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian hanya memutusmu dari dunia dan penghuninya.” (Fawa’id)
Betapa berbahayanya jika rasa ingin tahu kita hanya dihabiskan untuk perkara remeh seperti gosip, komentar kosong, atau penghakiman terhadap orang lain. Waktu yang semestinya bisa digunakan untuk menambah ilmu justru habis sia-sia.
Sebaliknya, jika rasa ingin tahu diarahkan pada hal yang bermanfaat, maka ia akan menjadi jalan cahaya. Allah ta’ala berfirman
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون
Artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” (QS. az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa martabat manusia akan terangkat dengan ilmu, bukan dengan gosip dan rasa ingin tahu yang dangkal.
Maka, hendaknya kita arahkan rasa ingin tahu kita pada hal-hal yang membangun, membaca, meneliti, berdiskusi tentang ide, dan mendalami Al-Qur’an serta Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kita jadikan rasa ingin tahu sebagai bahan bakar untuk memperkaya pengetahuan, menguatkan iman, dan membangun peradaban. Sebab, menjadi manusia yang berpikir, berkarya, dan mencipta jauh lebih mulia daripada sekadar menjadi pengamat kehidupan orang lain.
اللَّهُمَّ اجعلْ فُضولَنا فِيما يرضيك، وفضولَ قلوبِنا فِي طاعتِك، ورغبتَنا فِيما يقربُنا إليك. اللَّهُمَّ طهِّر ألسنتَنا من الغِيبةِ والنميمة، وأعيُنَنا من التَّجَسُّس، ووجِّه أفكارَنا إلى ما يرفعنا عندك في الدنيا والآخرة.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah rasa ingin tahu kami hanya pada hal yang Engkau ridai. Jadikanlah keinginan hati kami tertuju pada ketaatan kepadaMu, dan arahkanlah segala kerinduan kami hanya kepada apa yang mendekatkan kami kepadaMu. Ya Allah, sucikanlah lisan kami dari ghibah dan namimah, sucikanlah pandangan kami dari sikap mematai, dan arahkanlah pikiran kami kepada hal yang meninggikan derajat kami di sisiMu, di dunia maupun di akhirat. Aamiin..
Irfan Suba Raya
