Ungguli dalam Masalah Akhirat

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Terkadang hati kita lemah, iman kita goyah, dan rasa iri itu muncul tanpa diundang. Kita melihat orang lain dengan mudah meraih kenikmatan dunia, memiliki rumah mewah, kendaraan baru, pendidikan tinggi, atau harta berlimpah, sedangkan kita justru sibuk dengan menuntut ilmu, berdakwah, dan beribadah, hingga dunia tak banyak kita genggam. Saat itu, hati bisa saja berkata, andai aku seperti mereka. Padahal, jalan terbaik bukanlah memendam iri terhadap dunia mereka, tetapi mengubah arah pandang kita, jika mereka unggul di dunia, maka kita ajak diri kita untuk mengungguli mereka dalam akhirat.

Ketika kita mendengar seseorang sudah memiliki rumah megah dengan cicilan yang lunas, kita bisa berkata dalam hati, aku pun sedang membangun rumah di surga dengan memakmurkan masjid dan memperbanyak amal shalih. Saat mengetahui anak orang lain fasih berbahasa asing, maka kita bisa bersyukur bahwa anak kita fasih berbahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan ketika kita mendengar ada yang menempuh studi di luar negeri, kita bisa menenangkan jiwa dengan mengingat bahwa kita sedang menapaki jalan ilmu Al-Qur’an, menghafal juz demi juz, hadits demi hadits.

Chamdar Nur Lc SPd MPd, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel

Hasan Bashri rahimahullah berkata

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Artinya: “Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat.”

Wahib bin Al-Warid rahimahullah juga menegaskan

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

Artinya: “Jika engkau mampu untuk tidak ada seorang pun yang mengunggulimu dalam perlombaan menuju ridha Allah, maka lakukanlah.”

Bahkan sebagian salaf mengatakan

لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك

Artinya: “Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat kepada Allah daripada dirinya, maka sudah selayaknya dia bersedih karena telah diungguli dalam ketaatan.”

Allah ta’ala memperingatkan kita agar tidak silau dengan gemerlap dunia, sebagaimana kisah Qarun. FirmanNya

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya: “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’” (QS. Al-Qashash: 79)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan

فلما رآه من يريد الحياة الدنيا ويميل إلى زخرفها وزينتها، تمنوا أن لو كان لهم مثل الذي أعطي

Artinya: “Tatkala Qarun dilihat oleh mereka yang menginginkan kehidupan dunia dan cenderung kepada gemerlap perhiasannya, mereka pun berangan-angan seandainya mereka mendapatkan seperti yang ia dapatkan.”

Namun, Allah mengingatkan kita dalam firmanNya

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya: “Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131).

Melihat kenikmatan orang lain tanpa bersyukur atas nikmat yang ada hanya akan menambah duka di hati. Imam Al-Baghawi rahimahullah meriwayatkan perkataan ‘Ubay bin Ka‘ab radhiallahu anhu

من لم يعتز بعز الله تقطعت نفسه حسرات، ومن يتبع بصره فيما في أيدي الناس طال حزنه

Artinya: “Barangsiapa yang tidak merasa mulia dengan kemuliaan dari Allah, maka dirinya akan terputus dalam kerugian. Dan barangsiapa yang mengikuti pandangannya kepada apa yang ada di tangan manusia, maka kesedihannya akan semakin panjang.”

Maka, jangan habiskan energi untuk iri pada dunia yang fana. Dunia ini seperti bayangan senja, sebentar lagi hilang. Tapi akhirat adalah kehidupan yang kekal. Jika harus iri, maka irilah pada mereka yang shalatnya khusyu’, bacaan Qur’annya indah, ilmunya bermanfaat, dan amalnya menggunung. Karena perlombaan sejati bukanlah siapa yang paling cepat mengumpulkan harta, tetapi siapa yang paling cepat menuju ridha Allah ta’ala.

اللهم اجعل همَّنا الآخرة، ولا تجعل الدنيا أكبر همِّنا ولا مبلغ علمنا، ووفِّقنا لمنافسة الصالحين في طاعتك، واجعلنا من السابقين إلى رضوانك وجناتك، واغفر لنا تقصيرنا، وثبّت قلوبنا على دينك حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah akhirat sebagai puncak cita-cita kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan batas pengetahuan kami. Bimbinglah kami untuk berlomba-lomba bersama orang-orang shalih dalam ketaatan kepadaMu, jadikan kami termasuk orang-orang yang mendahului menuju ridha dan surgaMu. Ampunilah segala kekurangan kami, teguhkan hati kami di atas agamaMu hingga kami berjumpa denganMu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.” Aamiin…

 

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.