Makassar, muisulsel.or.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan memberikan apresiasi terhadap pemikiran geopolitik yang disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Republik Indonesia, Anis Matta, saat Diskusi Kebangsaan di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Senin (17/11/2025)
Melalui Komisi Fatwa, Dr. Nasrullah Sapa menilai pemaparan Wamenlu—terutama konsep “berpikir ruang”—sangat relevan bagi generasi muda. Konsep tersebut menekankan pentingnya melihat persoalan bangsa melalui perspektif geografi, posisi strategis Indonesia, dinamika hubungan antarnegara, hingga arah pergerakan kekuatan global.
Menurut Anis Matta, pola pikir ini wajib dimiliki mahasiswa agar mampu membaca peluang, memahami tantangan geopolitik, dan memaksimalkan posisi Indonesia dalam percaturan dunia. Dengan memahami ruang, wilayah, serta konteks global, bangsa Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pemain yang menentukan.
Dr. Nasrullah Sapa mengaitkan gagasan tersebut dengan nilai-nilai Islam. “Sebagai seorang ulama, saya melihat pesan tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya basirah—pandangan luas dan kedalaman analisis. Al-Qur’an memerintahkan umat untuk membaca bumi, memahami perjalanan sejarah, dan mengambil pelajaran dari dinamika antarbangsa sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kemaslahatan umat,” ujarnya disela kehadirannya.

Ia menambahkan, pemikiran geopolitik yang disampaikan Wamenlu menjadi pengingat bagi generasi muda Muslim bahwa peran mereka tidak hanya berada di ruang ibadah. Pemahaman terhadap realitas dunia, kekuatan bangsa, dan dinamika global merupakan bagian dari kontribusi penting bagi kemuliaan umat.
“Dengan wawasan yang luas dan kemampuan membaca zaman, umat Islam dapat tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang membawa manfaat bagi bangsa dan dunia,” tambahnya.
Sementara dalam pemaparannya juga dalam pemaparannya, Wamenlu menekankan bahwa geopolitik kini bukan lagi wilayah eksklusif diplomat dan elite, melainkan pengetahuan publik yang menentukan cara bangsa ini mengambil keputusan. “Kesadaran geopolitik harus menjadi bagian dari literasi bersama, termasuk di kampus,” ujarnya.
Dialog kebangsaan tersebut dipandu Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unismuh Makassar, Dr. Luhur A. Prianto, dan dihadiri perwakilan ormas Islam serta sivitas akademika Unismuh Makassar.
*Irfan Suba Raya*
