Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
(Refleksi Hari Pendidikan Nasional)
Ada manusia yang begitu fasih berbicara tentang masa depan, tetapi gagap memahami akar pendidikan. Ada yang bersemangat merancang sistem yang canggih, tetapi abai terhadap jiwa-jiwa yang menghidupkannya. Dan ada pula yang sibuk membangun kecerdasan buatan, tetapi lupa memanusiakan manusia yang selama ini membentuk kecerdasan itu sendiri.
Kita hidup di zaman yang bergerak cepat, terlalu cepat untuk merenung, terlalu mudah untuk menilai, dan terlalu ringan untuk menuduh. Perdebatan tumbuh subur, tetapi sering kehilangan arah. Kata-kata menjadi tajam, namun miskin hikmah. Ego berdiri tegak, sementara adab perlahan tersingkir tanpa pembelaan. Di tengah arus ini, pendidikan justru terjebak dalam paradoks, bahwa ia mengajarkan ilmu, tetapi kehilangan kebijaksanaan, ia mengejar prestasi, tetapi mengabaikan karakter, ia membangun masa depan, tetapi meruntuhkan nilai.
Di sinilah krisis itu bermula, bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena hilangnya makna.
Ketika kita berbicara tentang “Future of Education”, yang terbayang sering kali adalah teknologi, kecerdasan buatan, pembelajaran digital, kurikulum adaptif, dan sistem yang serba otomatis. Semua itu memang penting, bahkan tak terelakkan. Namun pertanyaan mendasar yang sering luput adalah: di mana posisi manusia dalam semua itu?, Lebih jauh lagi di mana posisi guru?
Sebab sejatinya, teknologi hanyalah alat, sementara guru adalah ruh. Teknologi bisa mempercepat proses, tetapi guru yang memberi arah. Teknologi bisa menyajikan informasi, tetapi guru yang menanamkan makna. Maka ketika pendidikan bergerak maju tanpa memuliakan guru, sesungguhnya ia sedang berjalan tanpa jiwa.
Setiap tahun, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan penuh seremoni. Kata-kata indah diucapkan, penghargaan simbolik diberikan, dan harapan-harapan kembali digaungkan. Namun di balik itu semua, ada realitas yang tak selalu kita lihat. Masih ada guru yang mengajar dengan dedikasi tinggi, tetapi hidup dalam keterbatasan. Masih ada pendidik yang mencurahkan hati dan pikirannya, tetapi dihargai dengan angka yang jauh dari layak. Mereka berdiri di garis depan peradaban, tetapi sering ditempatkan di pinggir perhatian.
Lalu kita pun patut bertanya dengan jujur: apakah kita benar-benar menghargai guru, atau hanya memanfaatkan jasanya?. Apakah sistem pendidikan kita membebaskan, atau justru membebani?. Mengapa mereka yang membentuk masa depan bangsa justru tidak memiliki kepastian masa depan yang layak?. Mengapa tuntutan terhadap kualitas pendidikan begitu tinggi, tetapi pemenuhan hak para pendidik begitu rendah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar kritik, tetapi cermin. Cermin yang memantulkan wajah kita sendiri, apakah kita telah berlaku adil, atau justru ikut melanggengkan ketidakadilan.
Dalam perspektif Islam, ilmu dan para pengajarnya menempati posisi yang sangat mulia. Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah SAW.bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)
Jika demikian tinggi kedudukan mereka, maka menjadi ironi ketika dalam realitas sosial, para pendidik justru berada dalam posisi yang lemah. Mereka dituntut untuk profesional, inovatif, dan inspiratif, tetapi sering kali tidak diberi ruang, dukungan, dan penghargaan yang memadai. Di sinilah letak ketimpangan yang tidak boleh dibiarkan.
Lebih dalam lagi, ada luka batin yang jarang terucap. Seorang guru yang pulang dengan lelah, tetapi tetap harus memikirkan kebutuhan keluarganya. Seorang pendidik yang mengajarkan harapan, tetapi diam-diam menyimpan kegelisahan. Mereka tetap tersenyum di depan kelas, meski di dalam hati ada beban yang tak ringan. Dan ketika kondisi ini terus berlangsung, pendidikan tidak hanya kehilangan kualitas, tetapi juga kehilangan ruhnya.
Padahal setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Allah mengingatkan:
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
“Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. As-Saffat: 24)
Ayat ini menggugah kesadaran kita bahwa setiap kebijakan, setiap keputusan, bahkan setiap kelalaian terhadap keadilan, akan dipertanyakan. Termasuk bagaimana kita memperlakukan mereka yang telah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa.
Maka, Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi titik balik, momentum untuk mengembalikan ruh pendidikan. Pendidikan tidak boleh dipandang sebagai industri semata, guru tidak boleh diperlakukan sebagai alat, dan ilmu tidak boleh direduksi menjadi komoditas.
Perubahan harus dimulai dari kesadaran kolektif, bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecanggihan sistem, tetapi dari seberapa manusiawi kita memperlakukan para pendidiknya. Bahwa kemajuan tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang keadilan. Dan bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan kecerdasan, tetapi juga dengan nurani.
Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan bukanlah tentang seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi tentang seberapa dalam kita menghargai manusia yang ada di dalamnya. Bisa jadi, guru yang kita abaikan hari ini adalah alasan mengapa generasi kita kehilangan arah di masa depan.
Maka di momen ini, mari kita berhenti sejenak. Bukan untuk merayakan, tetapi untuk merenung. Bukan sekadar mengingat, tetapi memperbaiki. Dan bukan hanya berharap, tetapi benar-benar bertindak.
Sebab pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghidupkan hati. Dan tanpa hati, segala kemajuan hanyalah perjalanan panjang yang kehilangan arah dan makna.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab
🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir. Munawir Kamaluddin*
