Makassar, muisulsel.or.id – Sekretaris Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Dr H Andi Aderus Banua, Lc, MA, membawakan hikmah Ramadan dan ceramah tarwih malam kedua di Masjid Raya, Makassar.
Dalam ceramahnya Andi Aderus yang juga selaku Ketua Umum Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa keberadaan kita pada malam hari ini adalah berkat doa kita semua yang meminta agar umur kita sampai pada bulan Ramadan yang sebelumnya telah melewati bulan Rajab dan Sya’ban.
Wakil Rektor dua kampus UINAM ini mengatakan pula, kalau manusia itu memiliki banyak potensi dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain.
“Malaikat Allah yang jelas-jelas dekat dengan-Nya itu hanya memiliki satu potensi saja. Potensinya yaitu hanya menaati Allah Swt. Begitupun dengan hewan, di mana Allah menciptakan mereka hanya dengan potensi hawa nafsu saja,” ulas Andi Aderus.
“Satu-satunya makhluk yang mendekati potensi manusia adalah bangsa Jin. Mereka memiliki potensi untuk iman dan kufur, juga bangsa Jin ini memiliki potensi ikhtiar yang mirip dengan manusia,” sambungnya dalam ceramahnya pada Selasa, 12 Maret 2024 malam hari.
Andi Aderus melanjutkan, dengan potensi yang dimiliki oleh bangsa Jin ini, maka sesungguhnya Allah Swt menciptakan surga dan neraka ini adalah untuk bangsa Jin dan bangsa Manusia.
Sedangkan malaikat di hari akhirat kelak hanya sebagai panitia saja di surga dan neraka nantinya.

Manusia dengan segala potensi yang dimilikinya, dapat berbuat berbagai macam kebajikan, ketaatan maupun kedurhakaan. Dengan potensi besar yang ada, maka manusia perlu dilatih dan kemudian ada agama agar jalan manusia itu lurus.
Hal itu disebabkan agar manusia juga memiliki ketahanan, dan integritas untuk senantiasa melakukan ibadah. Dan salah satu ibadah yang di turunkan oleh Allah kepada umatnya, adalah ibadah puasa.
Kata penutup yang di ucapkan oleh Sekretaris Bidang MUI Sulsel ini yakni puasa adalah sebuah jalan untuk melatih manusia agar memiliki ketahanan, memiliki integritas, tidak mudah terpengaruh dan tidak mudah terprofokasi.
Puasa telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, bahkan Nabi Adam AS saat bertaubat kepada Allah atas dosanya, maka Ia diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Kaum Bani Israel pun demikian, mereka diperintahkan untuk berpuasa saat tentara Thalut akan berperang dengan tentara Jalut.
Demikian halnya dengan umat-umat Nabi yang lain, sebagaimana dalam Alquran telah disebutkan bahwa perintah puasa juga dilakukan oleh umat-umat sebelum Nabi Muhammad Saw.
Kontributor: Nur Abdal Patta

