Makassar, muisulsel.or.id — Momentum Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ dijadikan refleksi spiritual untuk membangun kualitas iman umat Islam di awal tahun 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. KH. Syamsul Bahri, Lc., M.A. dalam khutbah Jumat di Masjid Baiturrahim Mall Nipa, Makassar, Jumat (16/1/2026).
Dalam khutbahnya,KH Syamsul Bahri menegaskan bahwa pergantian tahun tidak semestinya hanya diikuti oleh bertambahnya usia dan perubahan kalender, melainkan juga harus disertai dengan pertumbuhan iman dan kedewasaan spiritual.
“Angka di kalender berubah, tetapi pertanyaan besarnya tetap sama: apakah iman kita ikut bertumbuh, atau hanya usia kita yang bertambah?” ujarnya yang juga Selaku Sekertaris Komisi Fatwa MUI Sulsel.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi ke langit, tetapi merupakan peta jalan pembinaan iman di bumi, khususnya di tengah realitas kehidupan modern yang sarat tekanan ekonomi, konflik sosial, dan krisis makna.
Menurutnya, Isra Mi’raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ—saat wafatnya Khadijah dan Abu Thalib serta penolakan dakwah di Thaif. Dari peristiwa itu, jamaah diajak memahami bahwa ketika bumi terasa sempit, Allah justru membuka pintu langit.
Iman, Luka, dan Kesabaran
Pelajaran pertama Isra Mi’raj, lanjutnya, adalah bahwa iman sering kali lahir dari luka yang disikapi dengan kesabaran. Ia menyebutkan banyak umat yang di awal 2026 menghadapi persoalan hidup, mulai dari beban utang, kehilangan pekerjaan, hingga keretakan rumah tangga.
“Allah tidak selalu mengangkat masalah kita, tetapi Dia mengangkat derajat jiwa kita di tengah masalah,” tuturnya.
Shalat sebagai Poros Iman
Pelajaran kedua yang ditekankan adalah shalat sebagai poros utama realitas iman. Ia mengingatkan bahwa shalat merupakan buah terbesar Isra Mi’raj, yang diterima Nabi secara langsung di Sidratul Muntaha.
“Jika iman adalah bangunan, maka shalat adalah tiangnya. Jika shalat rapuh, iman akan condong,” tegasnya seraya mengajak jamaah melakukan evaluasi keikhlasan dan kekhusyukan shalat.
Dari Langit Kembali ke Bumi
Sementara pelajaran ketiga, kata Syamsul Bahri, adalah keharusan menurunkan nilai-nilai langit untuk memperbaiki realitas bumi. Ia menegaskan bahwa shalat yang benar harus berdampak pada akhlak, kejujuran, amanah, serta kepedulian sosial.
“Jika shalat tidak memperhalus akhlak dan menjauhkan dari kezaliman, maka makna Isra Mi’raj belum hidup dalam diri kita,” ujarnya.
Resolusi Langit di Awal Tahun
Pada khutbah kedua, jamaah diajak tidak hanya menyusun resolusi duniawi di awal tahun, tetapi juga resolusi langit, seperti memperbaiki kualitas shalat, menjaga lisan, membersihkan hati, serta menguatkan keharmonisan keluarga.
Ia menutup khutbah dengan menegaskan bahwa meskipun umat tidak akan mengalami Mi’raj secara fisik, setiap sujud adalah Mi’raj kecil bagi jiwa, sebagai momen terdekat seorang hamba dengan Allah SWT.
Khutbah ditutup dengan doa agar tahun 2026 menjadi tahun yang diberkahi, dengan kehidupan yang seimbang antara iman, amal, dan tanggung jawab sosial. (Irfan Suba Raya).
