Risalah (Puasa) Ramadan

Abdul Syatar (Dosen UIN Alauddin Makassar)

Makassar, muisulsel.or.id – Ramadan menjadi bulan yang selalu dinantikan kehadirannya oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia lebih khusus bagi yang memiliki keimanan dan ketakwaan. Ramadan menjanjikan berbagai kebaikan, keutamaan dan kemuliaan. Rasulullah saw. mengklasifikasi Bulan Ramadan menjadi tiga bagian. Pertama, malam kesatu sampai malam kesepuluh merupakan pelimpahan rahmat (awwaluhu rahmatun). Kedua, malam kesebelas sampai malam keduapuluh merupakan ampunan dari Allah swt (awsaṭuhu magfiratun). Ketiga, malam keduapuluh satu sampai terakhir merupakan pembebasan dari api neraka (ākhiruhu ‘itqun min al-nār).

Kerugian besar bagi umat Islam yang menyia-nyiakan segala potensi kebaikan yang diberikan oleh Allah swt melalui fasilitas Bulan Ramadan. Bahkan, dalam riwayat Rasulullah saw juga memaksimalkan Bulan Ramadan itu ketika mulai disyariatkan pada tahun kedua hijriah yang ditandai dengan turunnya QS al-Baqarah/2: 183 yang menginformasikan kewajiban berpuasa pada Bulan Ramadan. Para ulama terdahulu ketika menjalani Bulan Ramadan selalu mengatakan “Bulan Ramadan datang sebagai ladang amal bagi hamba (yang beriman) untuk mensucikan hati dari segala kerusakan”.

Dimensi Ramadan yang memberikan akses seluas-luasnya bagi umat Islam untuk lebih memperbaiki aspek spiritual individunya. Misalnya, puasa yang menjadi ritual klasik yang telah diinstruksikan kepada umat-umat terdahulu menjadi kewajiban individu. Potensi akhir dari ibadah puasa adalah menjadikan hamba itu orang yang lebih bertakwa. Imam al-Gazali menguraikan beberapa dimensi puasa yang baik diketahui jika kita menghendaki hasil optimal dan bukan sekadar hasil minimal, yaitu gugurnya kewajiban dan tetapnya identitas diri sebagai mukmin. Dimensi eksoteris dengan menahan kegiatan makan-minum dan hasrat seksualitas menjadi dimensi minimal dalam pelaksanaan puasa itu sendiri. Dimensi semi esoteris menjadikan seorang mukmin itu tidak sekadar menahan lapar, dahaga dan kemaluan tetapi anggota tubuh dan panca indra yang lain dari hal-hal yang sia-sia. Dimensi esoteris dengan berpuasa secara total dari syahwat badaniyah dan batiniyah dengan hanya mengharapkan semata-mata rida Allah swt. Ketiga dimensi itu seharusnya terangkum dari puasa Ramadan yang kita jalankan.

Tentunya, Bulan Ramadan tidak hanya identik dengan puasa. Banyak rutinitas yang dapat kita lakukan seperti tarawih, qiyamullail, zakat fitrah, taddarus, serta amalan-amalan wajib dan sunah lainnya. Dari sekian banyak aktivitas ibadah kita mengharapkan spritual personal kita menjadi meningkat dibanding selain Bulan Ramadan. Selama Ramadan, Allah mengkondisikan situasi dan kondisi sedemikian kondusif dengan memberi reward kepada orang yang dengan kesungguhan hati melakukannya dan punishment yang lebih berat bagi yang melakukan kemaksiatan.

Terlepas dari banyaknya aktivitas ibadah yang kita lakukan, sebenarnya Bulan Ramadan itu hadir untuk mendidik kita menjadi pribadi yang lebih tinggi secara spritual. Bulan Ramadan sebagai madrasah ruhaniyah dan batiniyah kita untuk lebih menajamkan mata batin kita ke depannya.

Ibadah puasa Ramadan yang kita jalankan bukan sekadar ibadah ritual saja, tetapi seharusnya puasa Ramadan itu mampu memahamkan kita bahwa di dalamnya ada ibadah sosial yang sepatutnya kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk itu, Ramadan hadir membawa risalah moral yakni:

  1. Ramadan mendidik kita menjadi pribadi yang jujur. Kita tidak akan mau untuk berbuka puasa selain pada waktunya yaitu dengan menahan segala hal dari yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kejujuran diri menjadi esensi dari puasa itu sendiri. Tanpa kejujuran dalam berpuasa kita akan merusak puasa kita sendiri. Karena memang puasa sejatinya ibadah yang bersifat sirri (rahasia), hanya Tuhan dan hamba yang berpuasa mengetahui. Allah swt dalam hadis qudsi berfirman “Sesungguhnya seluruh amalan anak cucu Adam adalah untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang langsung memberika imbalan”.
  2. Ramadan mendidik kita menjadi pribadi yang disiplin. Sahur sebelum fajar dan berbuka pada saat magrib menjadi waktu yang paling berharga bagi orang-orang berpuasa. Kita tidak mau tertinggal satu detik pun pada waktu berbuka puasa. Seharusnya sikap displin ini menjadi kebiasaan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
  3. Ramadan mendidik kita menjadi pribadi yang sabar. Ramadan juga disebut dengan bulan kesabaran (syahr al-shabr). Dikatakan demikian karena pada bulan itu umat Islam dilatih untuk bersabar melalui ibadah puasa. Menahan lapar dan haus adalah latihan kesabaran. Menahan dari syahwat seksualitas pada siang hari dan menahan agar tidak marah serta mengumpat adalah latihan kesabaran.
  4. Ramadan mendidik kita menjadi pribadi yang Orang yang berpuasa memiliki beragam motivasi. Ada yang melakukannya karena sadar bahwa itu kewajiban. Ada pula yang memang karena sekadar terbawa lingkungan. Ada juga yang menyadari bahwa puasa adalah salah satu kebutuhan manusia dalam hidupnya. Motivasi tertinggi dan mulia adalah kita melakukan puasa karena rasya syukur. Ramadan menjadi karunia tersendiri dari Allah swt yang harus kita tanamkan sikap bersyukur dengan kehadirannya dan segala karunia lain yang telah diberikan.

Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan tetapi tidak memperhatikan risalah moral tersebut tidak mendapatkan yang kita harapkan menjadi pribadi yang sehat secara spritual.  Bahkan, bisa saja yang didapatkan seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis “Berapa banyak orang yang berpuasa (pada Bulan Ramadan) tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.  Karena itulah, kita berharap dan berdoa semoga dengan Ramadan tahun ini kita semua diberikan kemudahn oleh Allah dalam mencapai risalah moral dari Ramadan itu lalu kita aktualisasi dan habituasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Allahu a’lam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.