Dari Paksaan Menuju Kenikmatan

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Tidak ada perjalanan menuju kebaikan yang tanpa diawali perjuangan. Demikian pula jalan ibadah. Ia bukan sekadar rutinitas gerakan dan bacaan, tetapi jalan penghambaan yang membentuk makna hidup.

Ibadah adalah kebutuhan ruh, sebagaimana makan dan minum adalah kebutuhan jasmani. Namun seperti obat yang pahit di awal tapi menyembuhkan di akhir, ibadah pun harus dimulai dengan pemaksaan.

Tidak semua hati langsung tunduk. Tidak semua jiwa langsung merasa nikmat dalam sujud. Karena itulah, ibadah perlu dipaksakan. Sebagaimana keikhlasan harus dilatih dan dibiasakan. Ulama salaf memahami betul bahwa jiwa manusia punya tabiat malas sehingga ibadah itu akan terasa berat di awal, tapi kalau kita terus latih diri, lama-lama jadi kebiasaan. Dan kalau sudah terbiasa, akan datang rasa nikmat dan ketergantungan.

أولها تكلف، ووسطها تألف، وآخرها تلذذ وتعلق

Artinya: “Awalnya ibadah itu keterpaksaan, tengahnya jadi kebiasaan, dan akhirnya jadi kenikmatan serta ketergantungan.”

Allah pun mengakui bahwa shalat itu berat. Tapi ada pengecualian, yaitu bagi mereka yang khusyuk.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Itulah sebabnya, jangan menunggu niat atau mood untuk ibadah. Jangan menunggu hati terasa ikhlas dulu. Justru keikhlasan pun harus dilatih dan dibiasakan. Ibadah bukan soal nyaman, tapi soal tunduk kepada Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ

Artinya: “Ilmu itu didapatkan dengan belajar, dan sikap sabar itu diperoleh dengan membiasakan diri bersabar.” (HR. AlKhathib AlBaghdadi).

Begitu pula ikhlas dan semangat dalam ibadah, semua itu bisa tumbuh kalau kita mau memaksakan diri untuk terus melakukannya.

Allah memerintahkan kita untuk mendidik keluarga dalam ibadah, walaupun butuh kesabaran panjang

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Artinya: “Perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (QS. Taha: 132).

Ingat juga sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa shalat itu bukan beban, tapi kenikmatan

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Artinya: “Dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. An-Nasa’i).

Bayangkan, shalat yang kadang kita anggap beban, bagi Rasulullah justru menjadi ketenangan dan kebahagiaan.

Satu hal yang perlu kita ingat, kalau kita mau bersungguh-sungguh untuk taat, Allah ta’ala akan menolong kita. Sebagaimana janjiNya

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ

Artinya: “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka.” (QS. Al-Ankabut: 69).

Oleh karena itu, jangan kita menjadi lemah. Jangan menyerah hanya karena terasa berat di awal. Teruskan langkah ibadah kita, meskipun hati belum sepenuhnya merasakan kenikmatan. Paksakan diri untuk tetap sujud, tetap berdzikir, tetap membaca ayat-ayatNya. Sebab akan datang masanya, hati justru merasa butuh untuk beribadah. Dan ketika hati sudah merasa butuh, di situlah ibadah akan berubah menjadi kenikmatan sejati. Kita akan merasakan gelisah jika melewatkannya, merasa hampa jika jauh dari dzikir, tilawah, dan sujud. Karena hati yang sudah terikat dengan Allah ta’ala tak akan pernah tenang kecuali dalam ibadah kepadaNya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِطَاعَتِكَ، وَأَنْفُسَنَا مُحِبَّةً لِذِكْرِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى الثَّبَاتِ فِي عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا حَلَاوَةَ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْتَلِذُّونَ الطَّاعَةَ، وَيَكْرَهُونَ الْمَعْصِيَةَ، وَيَسْعَوْنَ إِلَى رِضَاكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya: “Ya Allah, jadikan hati kami cinta kepada ketaatanMu, jiwa kami senang mengingatMu. Bantu kami untuk terus istiqamah dalam ibadah, anugerahkan kepada kami manisnya iman. Jadikan kami hamba-hambaMu yang merasa nikmat dalam ketaatan, membenci maksiat, dan selalu berusaha mencari ridhaMu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Aamin…

 

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.