Tingkatan Khusyuk Seorang Hamba Saat Salat

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata

الناس في الصلاة على مراتبَ

Artinya: “Manusia dalam shalat berada pada beberapa tingkatan.

Pertama, tingkatan orang yang menzhalimi dirinya sendiri, yaitu orang yang meremehkan wudhu, waktu-waktu shalat, batasan-batasannya, serta rukun-rukunnya.

Kedua, orang yang menjaga waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukun lahirnya, dan wudhunya, tetapi ia menyia-nyiakan mujahadah (kesungguhan melawan) dirinya dalam menghadapi was-was. Ia pun hanyut bersama bisikan-bisikan dan lintasan pikiran.

Ketiga, orang yang menjaga batasan-batasan dan rukun-rukunnya, serta bersungguh-sungguh melawan dirinya dalam menolak was-was dan lintasan pikiran. Maka ia sibuk berjihad melawan musuhnya agar tidak mencuri shalatnya. Ia berada dalam shalat dan juga jihad sekaligus.

Keempat, orang yang apabila berdiri untuk shalat, ia menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batasan-batasannya, lalu hatinya larut dalam memperhatikan batasan-batasan shalat agar tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Bahkan seluruh perhatiannya tercurahkan untuk menegakkannya sebagaimana mestinya, menyempurnakannya, dan menggenapkannya. Hatinya telah dipenuhi oleh urusan shalat dan penghambaan kepada Rabbnya di dalamnya.

Kelima, orang yang apabila berdiri untuk shalat, ia melakukan sebagaimana golongan sebelumnya, tetapi di samping itu hatinya dibawa dan diletakkan di hadapan Rabbnya. Ia memandang kepadaNya dengan hatinya, senantiasa muraqabah (merasa diawasi) olehNya, dipenuhi rasa cinta dan pengagungan kepadaNya, seakan-akan ia melihat dan menyaksikanNya. Bisikan-bisikan dan lintasan pikiran telah sirna, hijab-hijab antara dirinya dan Rabbnya terangkat. Maka perbedaan antara dirinya dengan selainnya dalam shalat adalah lebih besar dan lebih agung daripada jarak antara langit dan bumi. Ia dalam shalatnya sibuk hanya dengan Rabbnya.

Maka, golongan pertama mendapat hukuman, golongan kedua: akan dihisab, golongan ketiga: dihapuskan kesalahannya, golongan keempat: mendapat pahala, dan golongan kelima: akan senantiasa dekat dengan Rabbnya.

Oleh karena itu, shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan perjalanan hati menuju Allah. Tingkatan khusyuk menunjukkan sejauh mana seorang hamba benar-benar menghadirkan Rabbnya dalam shalat. Ada yang sekadar gugur kewajiban, ada yang berjuang melawan was-was, ada yang larut dalam kekhusyukan, dan ada pula yang menjadikan shalat sebagai penyejuk mata, tempat ia merasakan kehadiran Allah dengan cinta dan pengagungan. Semakin tinggi tingkatan ini, semakin besar pula kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَنَا قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَارْزُقْنَا فِيْهَا خُشُوْعًا صَادِقًا

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah shalat kami sebagai penyejuk mata kami, anugerahkan kepada kami kekhusyukan yang tulus. Aamiin ..

 

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.