MAKASSAR, muisulsel.or.id – Komisi Dakwah Khusus (KDK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Halal Bihalal dan Upgrading dalam penguatan keilmuan dakwah bagi para muballigh, Jumat 17 April 2026. Pertemuan strategis ini menegaskan komitmen MUI Sulsel dalam membangun fondasi masyarakat yang beriman, berilmu, dan beradab melalui dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ketua KDK MUI Sulsel, Dr. KH. Masykur Yusuf, MA., menyampaikan bahwa kegiatan ini direncanakan akan menjadi agenda rutin. Ia menekankan pentingnya sinergi antara keilmuan klasik dengan adaptasi teknologi.
“Pertemuan ini adalah bagian dari upaya besar untuk meneguhkan ilmu dan dakwah yang relevan dengan zaman digital. Kita ingin dakwah tetap menjadi fondasi utama dalam membina umat,” ujar KH. Masykur Yusuf.
Dalam arahannya, KH. Masykur Yusuf juga menyoroti manajemen dakwah di masjid-masjid. Ia mengingatkan para muballigh untuk menghormati protokol ketat yang diterapkan pengurus masjid demi menjaga kualitas syiar. Pertama, Komunikasi Efektif. Muballigh wajib melapor jika berhalangan hadir dan dilarang mengirim pengganti secara sepihak, karena pihak masjid telah menyiapkan naib (pengganti resmi).

Adapun Kedua, Kerjasama Lintas Wilayah. KDK MUI Sulsel membuka peluang kerjasama dengan pengurus masjid di daerah lain, seperti Gowa, dalam penyediaan muballigh berkualitas. Menjaga Amanah menjadi yang ketiga. Kepercayaan yang diberikan MUI Sulsel harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab oleh seluruh dai.
Sekretaris Umum MUI Sulsel, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc., MA., memaparkan konsep Arkanul KDK (Rukun KDK) yang harus dipenuhi dalam berdakwah. Pertama, Dai (Subjek). Dai harus memiliki kompetensi dan integritas. Kedua adalah Mad’u (Objek). Dimana Adanya jamaah atau masyarakat yang diajar.
Yang Ketiga adalah Materi Dakwah. Perlu diperbanyak dan dikemas dalam “paket” tematik, seperti paket hakikat, khutbah nikah, hingga materi adat seperti mappasikarawa. Manhaj (Metode) menjadi pilar terakhir dimana Cara berdakwah yang terus diperbarui.
“Pertemuan ini penting untuk meng-update isi ceramah. Dai KDK tidak boleh hanya sekadar ceramah, tapi harus terus meng-upgrade diri sehingga memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan yang lain,” tegas Prof. Muammar Bakry.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Bidang Dakwah MUI Sulsel, Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag., mengingatkan bahwa semangat saja tidak cukup dalam mengembangkan dakwah di era modern.
“Dakwah yang relevan dengan zaman memerlukan ilmu yang mendalam dan penguasaan alat digital. Dai sekarang harus hadir di platform seperti TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya untuk menjangkau umat secara lebih luas,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pesan kuat bahwa hubungan sosial yang dibangun KDK MUI Sulsel berakar pada tiga pilar utama: Iqra’ (literasi/ilmu) sebagai titik awal, Silaturahmi sebagai penguat ukhuwah, dan Dakwah sebagai jalan pengabdian. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam menuntun umat menuju kehidupan yang lebih baik
