Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
(Ketika Kebenaran Dipotong, dan Pemadam Konflik Tertuduh)
Ada saat di mana kejernihan berpikir kalah oleh kecepatan menilai. Ada ruang di mana kesabaran memahami digantikan oleh keberanian menghakimi. Dan ada zaman ketika persepsi lebih cepat dibangun daripada kebenaran dicari.
Kini, kata-kata tak lagi berjalan sebagai pesan yang utuh dan jujur.Ia diseleksi, dipotong, lalu dirangkai ulang sesuai arah yang diinginkan.Makna tidak lagi tumbuh dari keseluruhan, tetapi dari serpihan-serpihan yang dipilih secara sepihak. Dari sinilah lahir apa yang dapat kita pahami sebagai pemenggalan makna, mengambil sebagian pernyataan, menanggalkan konteksnya, lalu menggiringnya menuju tafsir yang berbeda, bahkan berlawanan dari maksud aslinya.
Dalam praktiknya, ini bukan sekadar kekeliruan memahami. Ia bisa menjelma menjadi strategi yang halus namun tajam, menghapus latar, menyingkirkan maksud, dan membentuk opini publik dengan arah tertentu. Dampaknya tidak sederhana, kebenaran menjadi kabur, reputasi menjadi rentan, dan ruang publik dipenuhi kegaduhan yang sering kali tak berakar pada fakta yang utuh.
Fenomena ini menjadi terasa ketika mencermati polemik yang menyeret nama Jusuf Kalla dalam orasi kebangsaan di Universitas Gadjah Mada pada Maret 2026. Apa yang seharusnya dipahami sebagai refleksi geopolitik dan upaya membaca potensi konflik global, justru dipersempit, dipotong, lalu dipresentasikan seolah-olah sebagai bentuk penistaan agama.
Padahal, bila dilihat secara utuh, narasi tersebut justru mengurai akar konflik antaragama sebagai pelajaran agar tidak terulang. Ia bukan menghasut, melainkan mengingatkan.Bukan memprovokasi, melainkan mencegah. Bahkan pada bagian akhirnya, pesan yang disampaikan mengarah pada satu titik yang jelas, yakni menghindari konflik, menjaga harmoni, dan tidak menjadikan agama sebagai bahan bakar permusuhan.

Di sinilah muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah ini benar-benar persoalan hukum, atau sekadar permainan persepsi yang dipolitisasi?
Karena terasa janggal ketika sosok seperti Jusuf Kalla, yang rekam jejaknya dipenuhi upaya perdamaian, justru ditempatkan dalam posisi sebagai pihak yang dituduh merusak harmoni. Sejarah mencatat, ia hadir di titik-titik paling genting bangsa ini, yaitu meredakan konflik di Aceh, menengahi ketegangan di Poso, dan menjadi jembatan bagi kelompok-kelompok yang berseberangan. Ia tidak membangun panggung konflik, tetapi membongkar sekat-sekat yang memisahkan.
Sejak awal, jalan hidupnya bukan jalan konfrontasi, melainkan jalan rekonsiliasi. Ia tidak dikenal sebagai sosok yang menjatuhkan, tetapi yang mengangkat. Tidak memperuncing perbedaan, tetapi merawat keberagaman. Maka ketika langkah hukum diarahkan kepadanya, muncul kesan kuat bahwa arah tersebut keliru bukan hanya secara substansi, tetapi juga secara nurani.
Lebih dari itu, upaya mempolisikan sosok dengan karakter dan rekam jejak seperti itu justru berpotensi melahirkan persoalan baru. Alih-alih meredakan, ia bisa membuka ruang konflik baru yang lebih luas. Luka lama yang telah sembuh perlahan bisa kembali terbuka. Ketegangan yang telah mereda bisa kembali mengeras. Harmoni antar umat beragama yang selama ini dijaga dengan susah payah justru bisa menjauh, bahkan membuka celah disintegrasi yang berbahaya bagi masa depan bangsa.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa mengabaikan dampak sosial yang mungkin muncul. Sosok Jusuf Kalla bukan sekadar figur publik biasa. Ia memiliki basis kepercayaan, simpati, dan loyalis yang tersebar luas di hampir seluruh penjuru negeri. Bagi banyak orang, ia adalah simbol keteladanan, sosok penyejuk di tengah konflik, dan representasi dari kepemimpinan yang mengedepankan perdamaian.
Maka ketika ia dipolisikan sebagai pihak yang dipersoalkan secara hukum, bukan tidak mungkin akan muncul gelombang reaksi sosial. Rasa tidak terima, kekecewaan, bahkan potensi mobilisasi massa bisa terjadi. Bukan semata karena figur tersebut, tetapi karena persepsi ketidakadilan yang dirasakan oleh mereka yang mengenal dan mempercayainya. Dalam situasi seperti ini, langkah hukum yang tidak proporsional justru bisa menjadi pemicu ketegangan baru yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Di titik inilah kita perlu melihat persoalan ini dengan kejernihan yang lebih dalam. Bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar polemik pernyataan, tetapi potensi gesekan sosial yang bisa meluas. Bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya nama seseorang, tetapi stabilitas bersama.
Lebih jauh lagi, dinamika ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks politik yang lebih luas. Kritik-kritik yang selama ini disampaikan oleh Jusuf Kalla terhadap berbagai kebijakan strategis, baik dalam negeri maupun luar negeri, bisa saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak tertentu. Dalam konteks seperti ini, isu sensitif seperti agama menjadi instrumen yang paling mudah untuk membangun tekanan dan membentuk opini.
Narasi dipotong, emosi digerakkan, dan hukum berpotensi dijadikan alat, bukan untuk menegakkan keadilan, tetapi untuk membungkam suara kritis.
Jika hal ini dibiarkan, maka yang akan rusak bukan hanya individu, tetapi juga kualitas moral masyarakat. Kepercayaan akan runtuh, objektivitas akan pudar, dan masyarakat akan terjebak dalam siklus kecurigaan yang tak berujung.
Karena itu, pemulihan harus dimulai dari dalam. Dari kesadaran untuk tidak mudah terprovokasi. Dari keberanian untuk bersikap adil. Dan dari kebijaksanaan untuk melihat persoalan secara utuh, bukan melalui potongan-potongan makna yang menyesatkan.
Kita perlu kembali pada nilai dasar kebersamaan, bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, dan kritik bukan alasan untuk dibungkam. Bahwa hukum harus berdiri tegak sebagai penjaga keadilan, bukan sebagai alat kepentingan.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak konflik, tetapi lebih banyak kearifan. Tidak membutuhkan lebih banyak tuduhan, tetapi lebih banyak kejujuran. Tidak membutuhkan lebih banyak suara yang memecah, tetapi lebih banyak hati yang menyatukan.
Dan mungkin, di tengah riuhnya narasi hari ini, yang paling kita butuhkan bukan sekadar keberanian untuk berbicara, tetapi keberanian untuk tetap adil, jernih, dan bijak, meski berada di tengah arus yang mencoba menarik kita ke arah sebaliknya.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir. Munawir Kamaluddin*
