RAMADHAN & RESILIENSI: Mengubah Kerapuhan Menjadi Kekuatan

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Kita sering salah memahami kekuatan. Kita mengira kuat itu tak pernah goyah, tak pernah lelah, tak pernah jatuh. Padahal kekuatan sejati justru lahir dari proses jatuh dan bangkit, dari rasa kurang yang melatih cukup, dari lapar yang mengajarkan kendali. Di situlah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam, bukan…

Baca Selengkapnya

RAMADHAN & HOSTILITY: Ketika Lapar Ditahan, Tetapi Amarah Dilepaskan

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ramadhan selalu datang dengan wajah yang lembut. Ia mengetuk pintu hati manusia dengan ayat-ayat pengampunan, dengan malam-malam yang basah oleh doa, dengan siang yang hening oleh kesabaran. Ia seharusnya menjadi musim damai, di mana hati dilunakkan, lisan diperhalus, dan jiwa disucikan. Namun di tengah keheningan itu, ada ironi…

Baca Selengkapnya

Ramadhan & Anxiety Disorder: Menemukan Tuhan di Tengah Degup yang Tak Terkendali

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tidak semua luka berdarah.Tidak semua badai terlihat dari luar.Ada kegelisahan yang tidak bersuara, tetapi bergetar pelan di dalam dada, mengganggu tidur, mengusik doa, bahkan menyelinap di sela-sela sujud. Sebagian orang tampak baik-baik saja. Ia hadir di majelis, tersenyum di hadapan kawan, bahkan aktif dalam ibadah. Namun ketika malam…

Baca Selengkapnya

Noumena dan Fenomena dalam Perspektif Ramadhan: Antara Euforia Musiman dan Kesadaran Transendental

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ramadhan selalu hadir dengan wajah yang memikat. Jalan-jalan bersinar oleh lampu hias, masjid-masjid melimpah oleh jamaah, lantunan ayat dan doa memenuhi udara. Fenomena keagamaan tampak begitu hidup, begitu indah, begitu menggetarkan. Namun di balik segala yang terlihat itu, ada satu wilayah yang lebih sunyi dan lebih dalam, noumena…

Baca Selengkapnya

RAMADHAN & DELAYED GRATIFICATION: Menunda yang Sesaat, Memetik yang Abadi

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Kita hidup di zaman yang tak sabar. Segala sesuatu ingin serba cepat, pesan dibalas seketika, keinginan dipenuhi segera, kesenangan tak boleh tertunda. Dunia mengajarkan kita untuk berkata, “Sekarang juga.” Namun Ramadhan datang dengan satu kalimat sunyi yang menantang arus itu: “Tahan.” Yakni tahan lapar, tahan haus, tahan amarah,…

Baca Selengkapnya

Ramadan & Logical Fallacy: Revolusi Akal dan Hati di Bulan Pencerahan

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada manusia yang rajin beribadah, tetapi cara berpikirnya masih penuh prasangka. Ada yang tekun berpuasa, tetapi lisannya tetap gemar menyimpulkan tanpa data. Ada yang khusyuk tarawih, namun mudah terjebak pada kabar yang belum tentu benar. Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur, apakah Ramadhan hanya melatih lapar dan…

Baca Selengkapnya

Genuine Forgiveness: Marhaban Ya Ramadhan, Revolusi Hati dan Pemurnian Jiwa

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada banyak orang memasuki Ramadhan dengan tubuh yang lapar, tetapi hati yang masih penuh dendam. Ada yang menahan haus sejak fajar, namun belum mampu menahan amarah yang disimpan bertahun-tahun. Kita rajin meminta maaf di lisan, tetapi enggan membebaskan di batin. Di sinilah pertanyaan itu muncul, apakah puasa hanya…

Baca Selengkapnya

Generalized Anxiety Disorder: Cemas Tanpa Wajah, Takut Tanpa Alasan yang Jelas

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada orang yang tidak sedang menghadapi bahaya apa pun, namun jantungnya berdebar seolah dunia runtuh. Ia tidak kehilangan apa-apa, tetapi merasa seakan akan kehilangan segalanya. Ia hidup, bekerja, berinteraksi seperti biasa, namun di dalam dirinya, kegelisahan berjalan tanpa jeda. Inilah yang dalam psikologi disebut *Generalized Anxiety Disorder (GAD)*…

Baca Selengkapnya

Paranoia Konjugal & Othello Syndrome: Ketika Keyakinan Salah Terasa Lebih Nyata dari Fakta

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Cinta seharusnya menghadirkan ketenangan. Tetapi ada cinta yang justru melahirkan kecemasan. Ada hubungan yang awalnya hangat, perlahan berubah menjadi ruang interogasi. Pesan singkat menjadi sumber curiga. Keterlambatan kecil menjadi bukti yang dibesar-besarkan. Senyum kepada orang lain terasa seperti ancaman. Di titik inilah kita berbicara tentang *paranoia konjugal,* atau…

Baca Selengkapnya

DISENCHANTMENT EFFECT: Antara Kekaguman dan Kekecewaan

Munawir Kamaludin (GuruBesar UIN Alauddin Makassar) Ada masa ketika seseorang kita anggap begitu tinggi, nyaris tanpa cela. Kita memujanya dalam diam, membelanya dalam perdebatan, dan menempatkannya di ruang paling bersih dalam pikiran kita. Namun waktu berjalan, tirai tersingkap, dan perlahan kita menyadari bahwa ia manusia biasa, tudak seagung bayangan kita, tidak sesempurna narasi yang dibangun….

Baca Selengkapnya
Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.