3 GOLONGAN YANG DITINGGALKAN ALLAH

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin) Banyak hal ditakuti manusia: miskin, sakit, kehilangan jabatan, atau dicela orang. Namun ada satu kehilangan yang jauh lebih berat: *ketika Allah berpaling dari seorang hamba.* Apa arti harta, popularitas, dan pujian manusia jika Allah tidak meridhai kita?. Seorang mukmin sejati tidak mengukur sukses dari pandangan manusia, tetapi dari kedekatannya…

Baca Selengkapnya

Harta yang Benar-Benar Milikmu Ternyata Hanya Tiga

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin) Setiap hari kita bekerja keras mengumpulkan harta. Kita berkata, “Ini milikku… ini hasil jerih payahku.” Namun, Rasulullah SAW. justru mengoreksi cara pandang itu dengan sebuah sabda yang sangat menggugah. Beliau bersabda: يَقُولُ الْعَبْدُ: مَالِي مَالِي، وَإِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى،…

Baca Selengkapnya

Jika Hatimu Gelisah, Bacalah Enam Hikmah Ini

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada kalanya hidup terasa begitu berat. Bukan karena ujian yang terlalu besar, tetapi karena hati lupa kepada enam kebenaran sederhana yang menjadi penopang kehidupan. Ahli hikmah berkata: ثَلَاثٌ إِذَا عَدَدْتَ عَلَيْهَا هَانَتْ عَلَيْكَ الدُّنْيَا: أَنْ تَرْضَى بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ، وَأَنْ تَتَوَقَّعَ النَّقْصَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنْ تَعْلَمَ…

Baca Selengkapnya

MENJADI ISTRI YANG MEMIKAT: Ketika Cinta Tidak Ikut Menua Bersama Usia

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tidak ada perempuan yang mampu menghentikan waktu, sebab waktu adalah pelukis paling jujur. Ia akan menggambar garis-garis halus di wajah, memutihkan rambut yang dahulu hitam berkilau, mengurangi kekuatan tubuh yang dahulu begitu bertenaga, dan perlahan mengajarkan bahwa tidak ada satu pun keindahan fisik yang mampu menolak datangnya senja….

Baca Selengkapnya

MENJADI SUAMI YANG MENAWAN: Pesona yang Tidak Pernah Pudar oleh Waktu

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tidak ada pohon yang lahir dalam keadaan besar. Ia selalu bermula dari sebutir benih yang nyaris tak terlihat, terkubur dalam gelap, ditempa hujan, diterpa angin, dan berjuang dalam kesunyian sebelum akhirnya menembus permukaan bumi. Dunia hanya menyaksikan kerindangannya, tetapi tidak pernah melihat perjuangan akarnya. Bukankah demikian pula perjalanan…

Baca Selengkapnya

NGOMEL: Kebiasaan Sepele Yang Merusak Kebahagiaan

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Rumah tangga tidak selalu retak karena perselingkuhan, kemiskinan, atau konflik besar. Tidak sedikit keluarga yang perlahan kehilangan kehangatan hanya karena satu kebiasaan yang dianggap sepele: *Terlalu sering mengomel.* Omelan hadir hampir setiap hari. Ibu mengomel karena rumah belum rapi, pakaian masih berserakan, dapur berantakan, anak-anak sulit diatur, pembantu…

Baca Selengkapnya

BERKELUH KESAH: Sibuk Menghitung Luka, Lupa Menghitung Nikmat

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada luka yang sesungguhnya tidak terlalu dalam, tetapi menjadi begitu menyakitkan karena terus kita sentuh dengan keluhan. Sebaliknya, ada nikmat yang begitu besar, tetapi terasa biasa karena terlalu lama kita abaikan. Betapa anehnya manusia, satu kegagalan mampu menghapus ingatan atas seribu keberhasilan, satu kehilangan sanggup menutupi lautan karunia…

Baca Selengkapnya

DEMOKRASI SEOLAH-OLAH: Saat Hukum Menjadi Alat Legitimasi Kekuasaan Otoriter

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada ironi yang sering luput dari perhatian. Semakin sering sebuah negara berbicara tentang demokrasi, belum tentu semakin demokratis. Semakin banyak lembaga yang mengatasnamakan rakyat, belum tentu semakin dekat dengan aspirasi rakyat. Bahkan semakin banyak aturan yang dibuat, belum tentu semakin tegak keadilan. Demokrasi bukan sekadar pemilu, parlemen, atau…

Baca Selengkapnya

ANTI-DEMOKRASI: Ketika Rakyat Hanya Menjadi Penonton

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Bahaya terbesar bagi sebuah bangsa tidak selalu datang dari luar. Ia sering tumbuh perlahan dari dalam, tanpa suara ledakan, tanpa parade senjata, bahkan tanpa perubahan yang tampak mencolok. Semua terlihat normal. Pemilu tetap berlangsung, lembaga negara tetap bekerja, dan hukum tetap berjalan. Namun diam-diam, kekuasaan mulai menjauh dari…

Baca Selengkapnya

Lima Fondasi Kecerdasan dalam Wahyu Pertama

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) (Membaca Wahyu Pertama sebagai Peta Jalan Kehidupan) Tidak ada wahyu yang turun tanpa hikmah. Terlebih lagi wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW. di Gua Hira. Menariknya, Allah tidak memulai risalah Islam dengan perintah membangun kekuasaan, mengumpulkan harta, atau menghadapi musuh. Wahyu pertama justru dimulai dengan satu kata yang…

Baca Selengkapnya
Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.