MENJADI SUAMI YANG MENAWAN: Pesona yang Tidak Pernah Pudar oleh Waktu

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tidak ada pohon yang lahir dalam keadaan besar. Ia selalu bermula dari sebutir benih yang nyaris tak terlihat, terkubur dalam gelap, ditempa hujan, diterpa angin, dan berjuang dalam kesunyian sebelum akhirnya menembus permukaan bumi. Dunia hanya menyaksikan kerindangannya, tetapi tidak pernah melihat perjuangan akarnya. Bukankah demikian pula perjalanan…

Baca Selengkapnya

NGOMEL: Kebiasaan Sepele Yang Merusak Kebahagiaan

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Rumah tangga tidak selalu retak karena perselingkuhan, kemiskinan, atau konflik besar. Tidak sedikit keluarga yang perlahan kehilangan kehangatan hanya karena satu kebiasaan yang dianggap sepele: *Terlalu sering mengomel.* Omelan hadir hampir setiap hari. Ibu mengomel karena rumah belum rapi, pakaian masih berserakan, dapur berantakan, anak-anak sulit diatur, pembantu…

Baca Selengkapnya

BERKELUH KESAH: Sibuk Menghitung Luka, Lupa Menghitung Nikmat

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada luka yang sesungguhnya tidak terlalu dalam, tetapi menjadi begitu menyakitkan karena terus kita sentuh dengan keluhan. Sebaliknya, ada nikmat yang begitu besar, tetapi terasa biasa karena terlalu lama kita abaikan. Betapa anehnya manusia, satu kegagalan mampu menghapus ingatan atas seribu keberhasilan, satu kehilangan sanggup menutupi lautan karunia…

Baca Selengkapnya

DEMOKRASI SEOLAH-OLAH: Saat Hukum Menjadi Alat Legitimasi Kekuasaan Otoriter

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Ada ironi yang sering luput dari perhatian. Semakin sering sebuah negara berbicara tentang demokrasi, belum tentu semakin demokratis. Semakin banyak lembaga yang mengatasnamakan rakyat, belum tentu semakin dekat dengan aspirasi rakyat. Bahkan semakin banyak aturan yang dibuat, belum tentu semakin tegak keadilan. Demokrasi bukan sekadar pemilu, parlemen, atau…

Baca Selengkapnya

ANTI-DEMOKRASI: Ketika Rakyat Hanya Menjadi Penonton

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Bahaya terbesar bagi sebuah bangsa tidak selalu datang dari luar. Ia sering tumbuh perlahan dari dalam, tanpa suara ledakan, tanpa parade senjata, bahkan tanpa perubahan yang tampak mencolok. Semua terlihat normal. Pemilu tetap berlangsung, lembaga negara tetap bekerja, dan hukum tetap berjalan. Namun diam-diam, kekuasaan mulai menjauh dari…

Baca Selengkapnya

Lima Fondasi Kecerdasan dalam Wahyu Pertama

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) (Membaca Wahyu Pertama sebagai Peta Jalan Kehidupan) Tidak ada wahyu yang turun tanpa hikmah. Terlebih lagi wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW. di Gua Hira. Menariknya, Allah tidak memulai risalah Islam dengan perintah membangun kekuasaan, mengumpulkan harta, atau menghadapi musuh. Wahyu pertama justru dimulai dengan satu kata yang…

Baca Selengkapnya

EKOTEOLOGI: Ketika Mencintai Tuhan Harus Terlihat dari Cara Kita Mencintai Bumi

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) (Refleksi atas Pencerahan Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.) Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kepentingan, eksploitasi sumber daya alam, kerusakan lingkungan, konflik identitas, dan krisis kemanusiaan, manusia sesungguhnya sedang menghadapi satu pertanyaan besar yang jarang disadari, apakah kita benar-benar memahami hubungan antara…

Baca Selengkapnya

TERTAWA DALAM TIMBANGAN LANGIT

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tertawa adalah salah satu bahasa paling tua dalam kehidupan manusia. Sebelum manusia pandai berbicara, ia telah mengenal senyum. Sebelum mengenal banyak hal tentang dunia, seorang bayi telah mampu tertawa. Karena itu, tertawa bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama. Justru ia merupakan bagian dari fitrah yang Allah tanamkan dalam…

Baca Selengkapnya

1 MUHARRAM 1448 H: Kita Sedang Berhijrah atau Hanya Berpindah Kalender

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar) Tahun baru Islam sesungguhnya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan pergantian cara pandang dalam menjalani kehidupan. Muharram datang bukan hanya untuk mengingatkan bahwa usia bertambah, tetapi juga untuk mempertanyakan apakah kualitas diri ikut bertumbuh. Sebab tidak sedikit manusia yang bertambah tua, tetapi tidak bertambah bijaksana, bertambah pengalaman,…

Baca Selengkapnya
Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.