Makassar, muisulsel.or.id – Ketua Umum Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) Sulawesi Selatan, Prof Dr KH Andi Aderus Banua, Lc, MA, memaparkan konsep persatuan umat Islam dalam Dialog Silaturahmi Pencinta Masjid yang digelar oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel di RM Wong Solo, Makassar, Ahad, 4 Januari 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Sekretaris Umum MUI Sulsel, serta sejumlah tokoh dan pimpinan ormas Islam yang turut menjadi pembicara.
Dialog berlangsung hangat dan penuh refleksi, dengan masjid kembali ditegaskan sebagai ruang pemersatu umat.
Dalam pemaparannya yang berbeda dengan pembicarasebelumnya, Prof Andi Aderus menegaskan bahwa wacana persatuan umat Islam bukanlah isu baru.
Menurutnya, sejak lama para tokoh Islam telah menulis dan menggagas “proyek besar” persatuan umat guna meredam perbedaan, baik yang bersifat organisatoris maupun politis.
“Sejak dahulu, para ulama dan pemikir Islam telah banyak menulis tentang pentingnya mempersatukan umat. Tujuannya satu, agar perbedaan-perbedaan yang ada tidak menjadi sumber perpecahan,” ujar Wakil Rektor UIN Alauddin ini.
Sekretaris Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel ini menekankan bahwa umat Islam sejatinya memiliki titik temu yang sangat kuat. “Kita sama-sama berpegang pada Alquran dan sunnah, memiliki satu kitab dan satu nabi. Ini adalah fondasi besar yang seharusnya mempersatukan, bukan memisahkan,” lanjutnya.
Dalam forum tersebut, Prof Andi Aderus memaparkan sedikitnya enam konsep penting dalam membangun persatuan umat. Pertama, mengakui bahwa perubahan adalah sunnatullah.
Kedua, menjadikan Alquran, sunnah, teologi, dan maqashid syariah sebagai dasar persatuan. Ketiga, menyadari bahwa perbedaan dan mazhab adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan toleransi.
Keempat, ia mengingatkan bahaya sikap saling mentakfirkan dan membid’ahkan. Kelima, pendidikan dan tarbiyah disebutnya sebagai jalan utama menjaga Islam.
Keenam, persatuan umat merupakan jalan terbaik menuju kebangkitan Islam.
“Pentakfiran dan pembid’ahan itu sangat berbahaya bagi persatuan umat. Jalan terbaik menjaga Islam adalah melalui pendidikan dan persatuan,” tegasnya.
Paparan yang disampaikan secara lugas dan mudah dipahami itu mendapat perhatian serius dari peserta dialog.
Silaturahmi ini pun diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat ukhuwah dan merawat persatuan umat melalui masjid sebagai pusat peradaban.
Kontributor: NAP
