Keutamaan Menyongsong Magrib di Bulan Ramadan: Zikir Sore yang Menguatkan Cahaya Hati

KH.Syamsul Bahri Abd. Hamid, Lc., M.A (Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sulsel)

Makassar, muisulsel.or.id – Di bulan Ramadan, menjelang Magrib adalah waktu yang penuh getaran. Tubuh lelah, tenggorokan kering, tetapi hati justru paling dekat dengan doa.

Banyak orang hanya fokus pada makanan yang tersaji. Padahal sebelum Magrib adalah ruang emas dzikir dan munajat. Siapa yang mengisi waktu ini dengan ingat kepada Allah, ia tidak hanya menunggu berbuka, ia sedang menjemput pahala yang besar.

Dzikir Sebelum Magrib: Amal yang Berat Nilainya

Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، كَانَ أَفْضَلَ مِنْ مِائَةِ بَدَنَةٍ…
“Barang siapa membaca ‘Subḥānallāh’ seratus kali sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, itu lebih utama daripada seratus unta kurban…”¹

Dalam riwayat yang sama disebutkan:
• Seratus al-ḥamdulillāh lebih utama daripada seratus kuda yang dipersiapkan di jalan Allah.
• Seratus Allāhu akbar lebih utama daripada membebaskan seratus budak.
• Seratus kali lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah… tiada seorang pun pada hari kiamat datang dengan amal lebih utama darinya kecuali yang melakukan seperti itu atau lebih.¹

Bayangkan, hanya beberapa menit menjelang Magrib— tetapi nilainya melampaui pengorbanan harta yang besar.

Makna “Sebelum Terbenam Matahari”

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikir sebelum terbenam matahari adalah setelah shalat Ashar hingga menjelang Magrib.

Ibn al-Qayyim dalam al-Wābil al-Ṣayyib menegaskan bahwa dua ujung siang yang disebut dalam Al-Qur’an adalah setelah subuh hingga terbit matahari, dan setelah ashar hingga terbenam matahari.²

Allah berfirman:
﴿وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾
“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”³
﴿وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ﴾
“Dan bertasbihlah sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam.”⁴

Ramadhan membuat waktu sore lebih istimewa. Karena ia bukan hanya waktu dzikir, tetapi juga waktu dikabulkannya doa orang yang berpuasa.

Jika Terlewat Waktunya

Para ulama menjelaskan bahwa dzikir disyariatkan di setiap waktu. Namun keutamaan khusus yang terikat waktu hanya diperoleh jika dilakukan pada waktunya.

Syaikh Ibn Bāz رحمه الله menjelaskan bahwa menjaga dzikir pagi dan sore pada waktunya lebih utama; jika terlewat, dzikir tetap berpahala, tetapi tidak memperoleh keutamaan yang terikat pada waktu tersebut.⁵ Ini mengajarkan kita disiplin ruhani. Waktu bukan sekadar jam berlalu. Ia adalah amanah.

Keutamaan Dzikir Seratus Kali Tanpa Batas Waktu

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda kepada Ummu Hāni’ رضي الله عنها:
سَبِّحِي اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ… وَاحْمَدِي اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ…
“Bertasbihlah seratus kali… bertahmidlah seratus kali…”⁶
Disebutkan bahwa seratus tasbih setara dengan membebaskan seratus budak, dan seratus tahmid setara dengan seratus kuda di jalan Allah. Hadis ini menunjukkan bahwa dzikir memiliki nilai besar, bahkan tanpa terikat waktu tertentu.

Namun jika dilakukan pada waktu yang mulia—seperti menjelang Magrib di Ramadan—
maka nilainya semakin bercahaya.

Tuntunan Para Ahli Ḥaqīqah: Sore Hari adalah Ujian Hati

Para ahli ḥaqīqah memandang waktu sore sebagai ujian kesungguhan. Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa dzikir di akhir siang adalah penutup amal harian; siapa yang menutup harinya dengan ingat kepada Allah, ia telah menjaga hatinya dari kelalaian.⁷

Ibn ‘Arabī memberi isyarat bahwa waktu petang adalah saat perpindahan tajallī; hati yang sadar akan memanfaatkan momentum ini untuk kembali kepada Allah sebelum gelap menutup siang.⁸

Al-Shādhilī menekankan bahwa wirid sore adalah benteng dari kegelisahan dunia.⁹
Sore hari di Ramadan bukan hanya tentang berbuka. Ia adalah detik-detik pertemuan antara sabar dan syukur.

Realitas Kita Hari Ini

Sering kali menjelang Magrib kita sibuk dengan dapur, pesan singkat, atau layar.Padahal waktu itu adalah waktu doa mustajab.Waktu hening sebelum adzan berkumandang. Jika kita mampu menahan lapar seharian, mengapa tidak menahan diri beberapa menit untuk berdzikir?

Simpulan dan Ajakan
Sambutlah Magrib dengan dzikir, bukan sekadar dengan hidangan. Sebelum tangan meraih kurma, biarkan lisan lebih dulu meraih pahala. Sebelum air menyentuh tenggorokan, biarkan istighfar menyentuh hati. Ramadhan mengajarkan kita menahan diri. Dan menjelang magrib adalah puncak latihan itu.
Jika kita mampu bersabar dari subuh hingga sore, maka jangan sia-siakan lima menit terakhirnya. Isi dengan: Subḥānallāh… Al-ḥamdulillāh… Allāhu akbar… Lā ilāha illallāh…

Sebab mungkin justru di detik itulah doa kita diangkat, dan ampunan Allah turun tanpa kita sadari. Ramadhan bukan hanya tentang berbuka, tetapi tentang bagaimana kita menutup hari dengan cahaya.(Irfan Suba Raya)

Catatan Kaki :
1. Aḥmad ibn Shu‘ayb al-Nasā’ī, al-Sunan al-Kubrā, Jil. 6, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991, hlm. 16–17; dinilai ḥasan oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ al-Targhīb wa al-Tarhīb, Jil. 1, Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000, hlm. 273.
2. Muḥammad ibn Abī Bakr Ibn al-Qayyim, al-Wābil al-Ṣayyib, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997, hlm. 73–76.
3. Al-Qur’an, QS. al-Aḥzāb [33]: 41–42.
4. Al-Qur’an, QS. Qāf [50]: 39.
5. ‘Abd al-‘Azīz ibn Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, Jil. 11, Riyadh: Dār al-Qāsim, 1996, hlm. 422–423.
6. Aḥmad ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad, Jil. 6, Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2001, hlm. 344–346; dinilai ḥasan oleh al-Albānī dalam al-Silsilah al-Ṣaḥīḥah, Jil. 6, hlm. 277.
7. Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jil. 1, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, hlm. 305–307.
8. Muḥyī al-Dīn Ibn ‘Arabī, al-Futūḥāt al-Makkiyyah, Jil. 2, Beirut: Dār Ṣādir, 2006, hlm. 415–417.
9. Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī, Laṭā’if al-Minan, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, hlm. 52–54.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.