KH Nasrullah Bin Sapa Jadi Khatib Idul Adha di Masjid Nururrahman BTP

Makassar, muisulsel.or.id – Pengurus Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Dr KH Nasrullah Sapa menyampaikan Khutbah salat Idul Adha di masjid Nururrahman BTP, Makassar, Jumat, 6 Juni 2025.

Pada Khutbah hari raya Idul Adha tersebut, Nasrullah Sapa mengemukakan tema khatibnya dengan judul “Idul Adha Sebagai Momentum Dakwah dan Keteguhan Iman Meneladani Nabi Ibrahim As”. Ia menegaskan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari yang istimewa untuk umat Islam di seluruh dunia, meski terdapat perbedaan namun umat Islam merayakannya dengan penuh khidmat dan kebahagiaan.

Dosen Pascasarjana kampus UINAM ini menyampaikan bahwa saat ini saudara-saudara kita yang memenuhi panggilan Allah sedang menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Mekah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kita doakan semoga mereka menjadi haji yang mabrur dengan menebarkan kebaikan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Sedangkan bagi yang tidak sedang melaksanakan haji, mari kita optimalkan ibadah salat Idul Adha. Dilanjutkan ibadah qurban sampai berakhirnya hariTasyrik. Intinya bagi orang beriman baik sedang berhaji ataupun tidak momentum Idul Adha harus meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah.

Hari raya Idul Adha menjadi rekonstruksi sejarah masa lampau yang tidak pernah pudar untuk direfleksikan dan diaktualisasikan di sepanjang zaman. Prosesi sejarah yang mengharu biru yang senantiasa dikenal dan menjadi teladan bagi orang-orang beriman. Sebagian besar perjalanan hidup Nabi Ibrahim adalah untuk memperjuangkan tauhid dan pertarungan melawan kesyirikan. Bagian inilah yang mengambil porsi terbesar dalam banyak ayat alquran yang menceritakan perjuangan Nabi Ibrahim.

Ini yang menjadi pelajaran pertama, bahwa generasi muda yang keren adalah sebagaimana Nabi Ibrahim yang menghabiskan waktu mudanya untuk berdakwah, tidak egois dan tidak cuek masalah keumatan. Memiliki keimanan yang kuat, tidak larut dengan zaman yang mengitarinya, berani memperjuangkan kebenaran dan menghadapi tantangan dakwah apapun risikonya.

Pelajaran kedua bahwa sungguh tidak sulit bagi Allah untuk mengabulkan doa-doa kita orang beriman. Allah hanya menginginkan kita beribadah dengan serius bermunajat dan berdoa dengan khusyuk. Allah hanya menghendaki kita bekerja keras dan ikhtiar maksimal, Allah menginginkan kita memberikan segalanya untuk perjuangan agamanya all3ah, hanya kita yakin dan taat dengan syariatnya.

Setelah beberapa tahun kemudian kepergiannya, Nabi Ibrahim kembali ke Mekah membersamai keluarganya. Di tengah kebahagiaan yang luar biasa Allah menguji keimanan dan kecintaannya Nabi Ibrahim dengan datangnya perintah Allah lewat mimpi “Wahai Ibrahim korbankan putramu Ismail”. Perintah dalam mimpi itu membuat gejolak batin yang luar biasa, setan pun berusaha membuat konflik dalam diri Nabi Ibrahim antara cinta dan kearifan, diri sendiri dan Tuhan, keraguan dan keyakinan.

Meski dengan rasa sangat berat Nabi Ibrahim berhasil mengalahkan kecintaan kepada anak untuk membuktikan cintanya kepada Allah, dan ada sebuah dialog yang indah dari keduanya dalam surat As-Shaffat ayat 102. Fragmen ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail sebagai anak semata wayangnya adalah bukti kepasrahan total kepada Allah Swt, akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing.

Pelajaran ketiga, Nabi Ibrahim tidak pernah tahu kalau api yang membakarnya menjadi dingin, dia juga tidak tahu kalau lembah yang tandus dan kering kerontang akan memancarkan air zamzam, ia juga tidak tahu anaknya Ismail yang disuruh untuk disembelih ternyata diganti dengan seekor domba. Berkorban adalah bukti cinta dan keimanan kita kepada Allah, perintah berkorban unta, sapi, atau kambing sebagai bukti keimanan karena Allah tidak memerlukan daging-daging kurban, tetapi nilai ketakwaannya.

Kita yang sering mengaku meneladani Nabi Ibrahim sudahkah sebanding dakwah dan pengorbanan beliau? Sebandingkah dengan semangat pengorbanan dan kesalihan Ismail yang masih bocah? Sebandingkah dengan semangat pengorbanan dan ketaatan istri beliau, Siti Hajar?.

Ironisnya di sebagian masyarakat, momentum Idul Adha menjadi keretakan ukhwah. Hanya karena masalah tulang, kulit, kepala atau karena pembagian oleh panitia yang dianggap tidak adil atau rata. Tentu kondisi tersebut masih jauh dan bertentangan dengan semangat berkorban yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim. Ini yang menjadi pelajaran tarbiyah dan dakwah kita semua untuk memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar tentang Idul Adha, semoga momentum ini memberikan makna dan hikmah kepada kita semua.

Kontributor: Nur Abdal Patta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.