Membentuk Generasi Bukan Sekedar Mengajar

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar,muisulsel.or.id – Seorang guru sejati bukan sekadar penyampai materi, tetapi penuntun cahaya, penanam nilai, dan pembentuk masa depan para muridnya.

Keberhasilan seorang guru sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang tertanam dalam diri muridnya. Karena itu, guru yang baik tidak menahan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, dan selalu berusaha memperbaiki hasil belajar muridnya. Allah ta‘ala berfirman

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Sehingga kita dituntut untuk menjadi sosok penyemangat bagi para murid, terutama bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. Sebagian anak mendapat dukungan penuh dari orang tua, sementara sebagian lainnya tumbuh dalam keterbatasan dan tekanan. Di sinilah guru memainkan peran penting sebagai pendidik dan penguat semangat belajar, bukan sekadar pengajar. Allah ta‘ala berfirman

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).

Selain itu, guru hendaknya tidak monoton dalam mengajar. Menggunakan satu metode saja dapat membuat murid bosan dan kehilangan semangat. Mengajar dengan berbagai pendekatan, mulai dari ceramah, dialog, kisah inspiratif, praktik, hingga penggunaan media pembelajaran modern, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat bahwa beliau berbicara kepada sahabat radhiallahu anhum dengan kalimat-kalimat yang terukur sehingga tidak bosan.

Cinta terhadap ilmu akan tumbuh jika guru berhasil menanamkan kecintaan terhadap membaca dan menelaah, dengan memberi arahan, sehingga murid belajar berjalan di jalan ilmu itu. Allah ta‘ala berfirman

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1).

Guru juga memiliki peran besar dalam menemukan dan mengembangkan bakat serta potensi muridnya. Setiap anak memiliki benih keistimewaan yang bisa tumbuh jika dirawat dengan benar. Guru yang peka akan memperhatikan potensi tersebut, mendorong dan terus memotivasinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Artinya: “Setiap orang dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan baginya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam berinteraksi, guru hendaknya memahami perbedaan usia dan karakter muridnya. Anak-anak memiliki bahasa dan cara berpikir yang berbeda dengan remaja. Pemahaman tentang psikologi perkembangan menjadi kunci dalam mendidik mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi teladan dengan bersikap lembut kepada anak-anak dan menghormati yang lebih tua. Sabda beliau shallallahu alaihi wasallam

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

Artinya: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Ahmad).

Kesabaran adalah senjata utama seorang guru. Ia harus sabar menghadapi murid yang aktif maupun yang lambat memahami, menahan emosi dengan bijak, dan menempatkan teguran atau hukuman pada tempatnya, dengan niat mendidik, bukan melukai. Guru sejati tidak terburu-buru menilai, melainkan terus mencari cara agar ilmu dapat masuk ke hati mereka.

Allah ta’ala berfirman tentang besarnya pahala sabar

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Guru juga wajib menyampaikan ilmu dengan penuh kejujuran dan kehati-hatian. Ia tidak boleh memberikan informasi yang keliru, sebab setiap kata yang disampaikannya akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga.” (HR. Bukhari & Muslim).

Waktu belajar juga merupakan amanah. Guru tidak boleh menyia-nyiakannya dengan keterlambatan, percakapan pribadi, atau kesibukan lain yang bukan untuk kepentingan belajar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Guru yang baik menghargai pendapat muridnya. Ia mendengarkan dengan hati, mengoreksi dengan bijak, dan tidak merendahkan. Dalam Islam, musyawarah adalah nilai luhur. Allah ta‘ala berfirman

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

Artinya: “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Ash-Shura: 38).

Keadilan juga menjadi tiang dalam dunia pendidikan. Guru harus memperlakukan semua murid dengan adil tanpa pilih kasih, baik dalam ucapan, pandangan, maupun pemberian. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari & Muslim).

Lemah lembut dan rendah hati menjadi kunci keberhasilan guru dalam menaklukkan hati murid-muridnya. Guru yang arogan akan dijauhi, sedangkan guru yang santun akan dicintai. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari & Muslim).

Selain mengajarkan ilmu, guru juga berkewajiban memberikan nasihat dan arahan moral kepada muridnya, menuntun mereka pada akhlak mulia. Inilah warisan para nabi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Membangun hubungan positif antara guru dan murid juga sangat penting. Dengan kedekatan, kepercayaan tumbuh, sehingga ilmu lebih mudah masuk ke dalam jiwa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu menyapa sahabatnya dengan salam, tersenyum, dan menanyakan kabar mereka.

Akhirnya, guru yang cerdas memahami bahwa pendidikan bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam pengalaman. Kegiatan studytour, rihlah dan kebersamaan dapat mempererat hubungan, menyegarkan semangat belajar, dan membentuk jiwa sosial murid.

Oleh karena itu, jika kita sebagai pendidik merasa lelah, maka ingatlah bahwa kita sedang membentuk generasi, bukan sekadar mengajar. Setiap kesabaran kita hari ini adalah investasi abadi yang akan berbuah masa depan lebih baik bagi umat dan bangsa. Mungkin kita tidak selalu melihat hasilnya secara langsung, tetapi percayalah, cahaya itu akan terus menyala di dada murid-murid kita sepanjang masa. Itulah amal jariyah seorang guru yang tidak pernah padam, meski langkahnya telah terhenti di dunia fana.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا نُورًا، وَتَعْلِيمَنَا عِبَادَةً، وَصَبْرَنَا سَبَبًا لِهُدَى الطَّالِبِينَ، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِنَا وَأَعْمَالِنَا

Artinya: Ya Allah, jadikanlah ilmu kami cahaya, pengajaran kami sebagai ibadah, kesabaran kami sebagai sebab hidayah bagi para murid, dan berkahilah umur serta amal kami.Aamiin…

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.