Dr KH Nasrullah Bin Sapa, Lc MM (Anggota Komisi Fatwa MUI Sulsel)
Makassar, muisulsel.or.id – Di antara banyaknya peluang emas yang Allah anugerahkan dalam Islam ada dua hari istimewa di bulan Muharram yang sangat dianjurkan untuk berpuasa, yaitu hari Tasu’a (9 Muharram) dan hari Asyura (10 Muharram). Meski bersifat sunnah, keduanya memiliki keutamaan luar biasa yang sayang jika dilewatkan begitu saja.
Hukum dan Keutamaannya. Puasa Asyura adalah puasa sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Rasulullah bersabda: Puasa pada hari Asyura, Aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa tahun sebelumnya. (HR. Muslim, dari Abu Qatadah al-Harits bin Rab’i RA). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah sangat perhatian terhadap hari ini.
Hikmah Disyariatkannya. Lalu, Kenapa disunnahkan juga untuk berpuasa di hari Tasu’a 9 Muharram?.
Imam nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa disunahkan mengiringi Asyura dengan puasa Tasu’a karena tiga hal:
1. Agar tidak menyerupai orang Yahudi, yang hanya berpuasa di 10 Muharram.
2. Sebagai bentuk kehati-hatian dalam penanggalan Hijriyah, karena bisa saja terjadi kesalahan hitung.
3. Menyambung Acura dengan hari lain, sebagaimana dilarang mengkhususkan Jumat dengan puasa tanpa menyambungnya.

Rasulullah bersabda: Jika aku masih hidup sampai tahun depan, Sungguh aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan. (HR. Muslim). Sayangnya, beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya tetapi sabdanya ini menjadi dalil kuat keutamaan puasa Tasu’a.
Mengapa hari Asyura menjadi begitu istimewa? Saat Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari itu. Ketika ditanya, mereka menjawab: Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, Maka Musa berpuasa pada hari ini.
Lalu Rasulullah bersabda: Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian. Dan beliau pun berpuasa serta memerintahkan kaum muslimin untuk ikut berpuasa.
Namun perlu diketahui bahwa Rasulullah telah lebih dahulu berpuasa Asyura sejak di Mekah, sebelum melihat orang Yahudi melakukannya. Artinya, bukan karena meniru mereka, melainkan karena Asyura memang telah memiliki nilai Agung dalam Islam sejak dahulu.
Ada tiga tingkatan puasa Asyura menurut Ibnu Qayyim. Yaitu paling sempurna adalah 9, 10 dan 11 Muharram. Adapun tingkatan tengah adalah 9 dan 10 saja. Dan tingkatan paling dasar hanya 10 Muharram saja.
Mari isi hari-hari awal Muharram dengan amal saleh, dimulai dari puasa Tasu’a dan Asyura. Bukan sekedar mengikuti sunnah tapi juga menghidupkan semangat meneladani para nabi dan bersyukur atas nikmat keselamatan dari Allah.
Kontributor: Nur Abdal Patta
