RAMADHAN & DELAYED GRATIFICATION: Menunda yang Sesaat, Memetik yang Abadi

Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar)

Kita hidup di zaman yang tak sabar. Segala sesuatu ingin serba cepat, pesan dibalas seketika, keinginan dipenuhi segera, kesenangan tak boleh tertunda. Dunia mengajarkan kita untuk berkata, “Sekarang juga.” Namun Ramadhan datang dengan satu kalimat sunyi yang menantang arus itu: “Tahan.” Yakni tahan lapar, tahan haus, tahan amarah, taha keinginan.

Inilah yang dalam istilah modern disebut delayed gratification, yakni kemampuan menunda kenikmatan sesaat demi kebaikan yang lebih besar di masa depan. Secara sederhana, ia adalah seni berkata “nanti” demi sesuatu yang lebih bermakna.

Allah telah mengisyaratkan prinsip ini jauh sebelum teori psikologi lahir:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”(QS. an-Nazi‘at: 40–41)

Menahan diri adalah kunci. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita memilih yang lebih tinggi. Bukan karena tak mampu, tetapi karena sadar bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Ramadhan melatih kita untuk tidak menjadi budak dorongan. Rasulullah SAW. bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa itu adalah perisai.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perisai dari apa? Dari impuls sesaat yang bisa merusak masa depan. Dari keputusan tergesa yang lahir tanpa pertimbangan akhirat. Di tengah realitas sosial hari ini, korupsi karena tak sabar kaya, konflik karena tak sabar menahan ego, hutang karena tak sabar memiliki. Ramadhan adalah sekolah kedewasaan. Ia mengajarkan bahwa kematangan bukan tentang seberapa cepat kita mendapatkan, tetapi seberapa mampu kita mengendalikan.
Allah mengingatkan:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. al-A‘la: 16–17)

Setiap kali kita menahan diri di siang hari Ramadhan, sesungguhnya kita sedang melatih jiwa untuk memilih yang kekal daripada yang fana. Dan ketika azan Maghrib berkumandang, seteguk air terasa begitu nikmat. Mengapa? Karena ia ditunda. Karena ia diperjuangkan. Begitulah hidup. Kenikmatan ditahan dengan sabar selalu lebih bermakna daripada kesenangan yang diraih tergesa.

Maka Ramadhan bukan sekedar bulan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan pembentukan karakter. Ia mendidik kita menjadi manusia yang tidak dikendalikan oleh keinginan, tetapi oleh kesadaran. Manusia yang mampu berkata, “Aku bisa, tapi aku memilih menunggu.” Dan di situlah letak kemuliaannya, menunda yang sesaat, demi meraih yang abadi.

#Wallahu a‘lam bish-shawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.