Ujian Adalah Anugrah

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Dalam senyap kehidupan, ada orang-orang mungkin tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa di mata manusia. Namun, ketika badai datang dan hidup berguncang, justru mereka yang berdiri paling tegak. Bukan karena tak merasa sakit, bukan karena tak punya luka, tapi karena mereka memilih untuk pantang menyerah. Inilah para pejuang sejati, yang menempa jiwanya dalam bara ujian, dan memahat harapannya dari reruntuhan kenyataan.

Kesulitan sering kali datang tanpa diundang. Ia hadir tiba-tiba, menghantam tanpa peringatan. Tapi justru di situlah ruang pertumbuhan terbesar terbuka. Mereka yang kuat bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, tapi mereka yang selalu bangkit meski berkali-kali dihantam keadaan.

اللّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

Artinya: “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalahNya.” (QS. Al-An‘am: 124)

Ayat ini menegaskan bahwa takdir besar tidak sembarangan diberikan. Ia harus dijemput oleh jiwa-jiwa tangguh yang berani menghadapi jalan terjal, bukan jiwa manja yang hanya menunggu kesempatan datang dalam kenyamanan. Takdir besar akan menemukan rumahnya di hati yang kokoh, dalam langkah yang terus melaju meski tertatih.

Orang biasa yang awalnya mungkin tampak rapuh dan tak diperhitungkan bisa menjadi luar biasa ketika menghadapi rintangan. Bukan karena rintangannya hilang, tetapi karena ia belajar bertahan, beradaptasi, dan menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya. Seperti biji yang harus pecah dulu untuk bertunas, manusia pun sering kali harus remuk lebih dahulu sebelum bisa benar-benar tumbuh.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).

Ayat ini bukan sekadar hiburan, tapi janji yang pasti. Bukan setelah kesulitan, tapi bersama kesulitan, karena di tengah getir kehidupan, selalu ada ruang untuk harapan. Di saat hati diremuk oleh duka dan luka, sesungguhnya sedang disiapkan ruang yang lebih lapang untuk menerima cahaya.

Dalam dunia para pejuang, penderitaan tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai sekolah kehidupan yang membentuk watak, karakter, menajamkan makna, dan menyingkap potensi terdalam. Maka tak heran, banyak tokoh besar lahir bukan dari ruang dan zona nyaman, tapi dari lorong-lorong sempit penuh duka, luka dan air mata.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ…

Artinya: “Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti orang-orang sebelum kalian?” (QS. Al-Baqarah: 214).

Kesulitan adalah jalan yang dilalui para nabi, para sahabat, dan para pejuang sejati dalam sejarah. Lihat bagaimana Nabi Ayyub alaihi salam diuji dengan sakit bertahun-tahun, Nabi Yusuf alaihi salam dengan fitnah dan penjara, bahkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sendiri, dicaci, diboikot, terusir, dan disakiti. Tapi justru dari situ, mereka menjelma menjadi manusia luar biasa yang mengubah rel sejarah.

Filosofinya sederhana namun mendalam, kesulitan bukan akhir, melainkan awal dari kualitas. Mereka yang mampu bertahan, bukan hanya akan melewati badai, tetapi akan tumbuh bersamanya. Mereka akan keluar dari badai bukan sebagai orang yang sama, tapi sebagai pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mulia.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

Artinya: “Bersabarlah. Dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Maka tetaplah berjuang. Jangan biarkan sakit membuat menyerah. Jangan biarkan luka, cacian dan cibiran manusia mengubur semangat. Karena siapa tahu, jalan terjal yang di tempuh hari ini adalah jalan yang akan mengantar menuju panggilan hidup yang lebih tinggi. Yang terpenting bukan seberapa sering terjatuh, tapi seberapa sering memilih untuk bertahan dan bangkit.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، وَقَوِّنِي فِي الشِّدَّةِ، وَارْزُقْنِي صَبْرًا لَا يَنْفَدُ، وَيَقِينًا لَا يَزُولُ، وَقُوَّةً لَا تَخُورُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ إِذَا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا، انْفَتَحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَإِذَا سَقَطَ قَامَ، وَإِذَا بَكَى ابْتَسَمَ، وَإِذَا ضَعُفَ تَوَكَّلَ، وَإِذَا كُسِرَ لَجَأَ إِلَيْكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

Artinya: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agamaMu. Kuatkan aku dalam kesulitan, anugerahkan padaku kesabaran yang tak habis, keyakinan yang tak tergoyahkan, dan kekuatan yang tak melemah. Ya Allah, jadikan aku di antara orang-orang yang ketika dunia menyempit padanya, langit pun terbuka untuknya, ketika jatuh, ia bangkit, ketika sedih, ia tetap tersenyum; ketika lemah, ia berserah, dan ketika hancur, ia kembali kepadaMu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”

Aamiin…

 

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.