Prof Dr KH Abustani Ilyas M Ag
Makassar, muisulsel.or.id – Dalam Bahasa Arab, puasa disebut juga shaum atau shiam. Kata ini berasal dari kata shaamu, yashuumu dan shauman wa shiyaaman. Arti puasa menurut bahasa adalah menahan, yakni menahan diri dari melakukan sesuatu.
Dalam konteks syariat atau ajaran agama, puasa mengacu pada ibadah untuk menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa mulai dari mula terbit fajar hingga terbenam matahari.
Tindakan ini dilakukan atas perintah Allah semata-mata, dengan disertai niat dan pemenuhan syarat-syarat tertentu.
Allah swt juga mensyariatkan puasa kepada Maryam, wanita suci yang mengandung Nabi Isa alaihissalam. Peristiwa ini bahkan diabadikan dalam Al-Quran, yang bahkan terdapat surah khusus yang diberi nama Surat Maryam.Meski Allah swt mensyariatkan puasa kepada Maryam, namun bentuk atau tata cara puasa yang dilakukan Maryam bukan sekadar tidak makan dan tidak minum.
Lebih dari itu, syariatnya menyebutkan untuk tidak boleh berbicara kepada manusia. Dalam Alquran Surat Maryam ayat 26, Allah SWT berfirman: Yang artinya, “Maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia manapun.”
Dan karena sedang berpuasa yang tidak membolehkan makan, minum, dan berbicara itulah maka ketika Siti Maryam ditanya tentang siapa ayah dari putera yang ada di gendongannya, Maryam saat itu tidak menjawab dengan perkataan.
Maryam hanya menunjuk kepada Nabi Isa, anaknya itu, lalu Nabi Isa yang masih bayi itu pun menjawab semua pertanyaan kaumnya
Hal ini sebagaimana diabdikan dalam Alquran Surat Maryam ayat 28-30. Allah SWT berfirman:
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا
Yang artinya, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina’. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’ Berkata Isa; ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, dia memberiku Al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”
Puasa yang dilakukan Maryam lebih kepada fisik krena hanya sebatas menahan diri untuk tidak berbicara sedangan puasa di Ramadan merupakan puasa yang dilakukan dengan fisik dan non fisik, seperti menahan lapar dan haus dan juga menahan diri untuk tidak berkata jelek , menghindari ghibah dan fitnah.
Selengkapnya simak video dibawah ini…

