Munawir Kamaluddin (Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
Pesantren sejatinya lahir sebagai ruang teduh bagi tumbuhnya ilmu, adab, dan ketenangan jiwa. Ia tidak dibangun hanya dengan semen, dinding, dan bangunan fisik, tetapi dibangun dengan doa para ulama, pengorbanan para pendiri, serta harapan ribuan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka agar tumbuh menjadi generasi berakhlak, santun, lembut dalam berdakwah, dan menyejukkan masyarakat.
Di pesantren, para orang tua berharap anak-anak mereka belajar tentang cinta damai, penghormatan kepada guru, kasih sayang kepada sesama, dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Mereka ingin anak-anaknya pulang membawa cahaya ilmu, kematangan akhlak, dan keteduhan perilaku.
Namun harapan itu terasa pilu ketika pesantren justru terseret dalam pusaran konflik internal yang berkepanjangan.
Apa yang belakangan terjadi di Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros menghadirkan kegelisahan mendalam di tengah masyarakat. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai salah satu mercusuar pendidikan Islam di Sulawesi Selatan perlahan diselimuti ketegangan akibat perebutan pengaruh dan konflik di kalangan elite yayasan, keluarga pendiri, dan pihak-pihak yang merasa memiliki legitimasi terhadap arah pesantren.

Yang paling menyakitkan bukan sekadar adanya perbedaan pandangan. Perbedaan adalah sesuatu yang manusiawi. Tetapi luka itu menjadi jauh lebih dalam ketika konflik berubah menjadi pertunjukan permusuhan terbuka yang disaksikan setiap hari oleh para santri dan masyarakat luas.
Para pengurus yayasan, keluarga pendiri, dan pihak-pihak yang seharusnya menjaga marwah pesantren justru saling melaporkan, saling mempolisikan, saling menyerang, bahkan saling mengkriminalisasi demi mempertahankan pengaruh dan kekuasaan. Ruang publik dipenuhi ketegangan. Media sosial dipenuhi sindiran dan serangan. Masyarakat pun dipaksa menyaksikan tontonan menyedihkan yang perlahan meruntuhkan wibawa pendidikan pesantren itu sendiri.
Pesantren yang dahulu dipenuhi lantunan ayat suci perlahan berubah menjadi ruang penuh kegaduhan. Santri tidak lagi hanya menyaksikan guru mengajarkan ilmu, tetapi juga melihat orang-orang dewasa saling menghina, menjatuhkan martabat satu sama lain, mempertontonkan kemarahan, bahkan menormalisasi permusuhan yang jauh dari keteladanan Islam.
Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa keadaan, santri tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif. Mereka mulai terseret ke dalam pusaran konflik. Ada yang dijadikan tameng massa. Ada yang diarahkan membela kelompok tertentu. Ada yang perlahan dibentuk untuk membenci pihak lain. Bahkan tidak jarang mereka dipertontonkan aksi-aksi keras, intimidatif, dan bernuansa kekerasan demi kepentingan elite yayasan.
Di sinilah tragedi moral itu terasa sangat menyakitkan. Ruang pendidikan perlahan berubah menjadi ruang reproduksi kemarahan dan fanatisme. Padahal pendidikan sejati bukan hanya apa yang diajarkan melalui ceramah, tetapi apa yang dicontohkan melalui perilaku sehari-hari.
Jika setiap hari santri menyaksikan caci maki, kebencian, ancaman, sikap kasar, dan tindakan anarkis, maka sesungguhnya mereka sedang menerima “kurikulum tersembunyi” yang sangat berbahaya. Secara perlahan mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang emosional, keras, antagonis, mudah membenci, tidak menghargai perbedaan, dan terbiasa menyelesaikan persoalan dengan tekanan maupun kekerasan.
Inilah yang paling mengkhawatirkan. Dimana Pesantren yang seharusnya melahirkan dai penuh kesejukan justru berpotensi melahirkan generasi yang kehilangan kelembutan hati. Santri yang mestinya menjadi penjaga moral masyarakat malah bisa tumbuh dengan karakter toksik, temperamental, gemar bermusuhan, dan miskin sensitivitas etika. Mereka jauh dari semangat kasih sayang dan cinta damai. Bahkan tanpa disadari dapat terbentuk lebih dekat kepada kultur premanisme daripada kultur keilmuan.
Padahal pesantren sejak dahulu dihormati bukan karena kemegahan bangunannya, tetapi karena kemuliaan adab yang lahir dari dalamnya. Pesantren dihargai karena mampu melahirkan manusia-manusia yang lembut lisannya, santun sikapnya, dan damai cara berpikirnya. Ia menjadi benteng moral masyarakat, tempat orang mencari kesejukan di tengah kerasnya kehidupan.
Karena itu, semua pihak yang sedang berkonflik hendaknya merenung dengan hati yang jernih.Bahwa sudah saatnya pertikaian dihentikan. Sudah saatnya ruang publik tidak lagi dipenuhi tontonan saling menjatuhkan yang hanya mempermalukan dunia pendidikan Islam di hadapan masyarakat. Tidak ada kemuliaan dalam kemenangan yang diperoleh dengan merusak ketenangan santri. Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan jabatan jika harus mengorbankan masa depan anak-anak.
Para pengurus yayasan, keluarga pendiri, tokoh pesantren, dan seluruh pihak yang terlibat hendaknya menurunkan ego dan mengedepankan kebijaksanaan. Duduk bersama dengan hati yang dingin jauh lebih mulia daripada mempertontonkan permusuhan yang terus melukai marwah pesantren.
Sebab masyarakat tidak sedang menunggu siapa yang paling kuat mempertahankan kekuasaan. Masyarakat sedang menunggu siapa yang paling dewasa menjaga amanah pendidikan umat.
Pesantren harus segera dikembalikan kepada fungsi sucinya, yakni sebagai penjaga moral, pusat pembentukan karakter, dan tempat lahirnya generasi yang santun, ramah, cinta damai, penuh kasih sayang, serta mampu berdakwah dengan kelembutan dan hikmah.
Santri harus kembali dididik dengan keteladanan, bukan dengan kemarahan. Dengan adab, bukan dengan kebencian. Dengan kasih sayang, bukan dengan fanatisme kelompok. Karena sesungguhnya masa depan pesantren tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai jabatan, tetapi oleh siapa yang mampu menjaga akhlak dan keberkahan di dalamnya.
Jika konflik ini terus dipelihara, maka yang rusak bukan hanya reputasi lembaga, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai benteng moral bangsa. Namun jika semua pihak bersedia berdamai, menahan ego, dan kembali kepada semangat perjuangan para pendiri, maka pesantren akan kembali menjadi cahaya yang menerangi umat.
Dan bukankah pesantren sejak awal memang dilahirkan bukan untuk melahirkan permusuhan… melainkan untuk menanamkan ilmu, adab, cinta damai, dan kasih sayang bagi sesama manusia?…..
#Wallahu A’lam Bishawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir. Munawir Kamaluddin*
