Makassar, muisulsel.or.id – Panglima Divisi Infanteri 3 Komando Strategi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kostrad) Mayjen TNI Bangun Nawoko, bertandang ke kantor sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, sekaligus memohon doa dan barokahnya.
Kedatangan Panglima Divisi 3 Infanteri Kostrad ini disambut langsung oleh Ketua Umum MUI Sulsel Prof Dr KH Nadjamuddin AS, di dampingi Sekretaris Umum MUI Prof Dr KH Muammar Bakry, bersama Bendahara Umum MUI Ir H Andi Thaswin Abdullah, Ketua Bidang Fatwa Prof Dr KH Ruslan Wahab dan sejumlah pengurus MUI lainnya di Jl. Masjid Raya, Makassar.
Bangun Nawoko menyampaikan dalam sambutannya bahwa dirinya memohon untuk di doakan dan keberkahan. Pasalnya, dirinya sangat memahami bahwa doa dari para ulama itu sangat makbul dan penuh keberkahan.
“Dulu sewaktu saya mau daftar Akmil saya tinggal di pesantren selama 40 hari, hanya untuk mengejar doa dan barokah sang kyai. Dan alhamdulillah berhasil, dan dengan keberkahan itu hingga saya bisa jadi seperti saat ini,” tukas Panglima Divisi 3 Infanteri Kostrad ini.
“Oleh karenanya, saya datang kesini untuk memohon agar saya bersama prajurit di doakan. Utamanya prajurit yang akan berangkat ke tempat penugasan seperti ke Papua atau daerah konflik lainnya, agar diberi siraman rohani yang dapat memberikan semangat berjuang,” lanjut sang Jenderal dihadapan para kyai.
KH Muammar Bakry dalam kata sambutnya mengungkapkan seperti apa kinerja MUI selama masa periodenya. Baik itu dari segi kefatwaan maupun persoalan tanya jawab keumatan melalui sosial media di hadapan Mayjen Bangun Nawoko.
Senada dengan Sekum, Ketum MUI pun menyampaikan tugas dan fungsi seorang ulama. Dalam uraiannya ia menyampaikan, “Ulama itu bertugas sebagai khadimul ummah yang artinya pelayan umat. Jadi kami selaku pengurus MUI itu adalah pelayan yang bertugas melayani segala kebutuhan umat khususnya yang berkaitan dengan keagamaan,” ucapnya saat mengurai tugas-tugas ulama, Senin (27/5/2024).
“Tugas yang kedua adalah menjadi shadiqul hukumah yakni menjadi mitra pemerintah. Alhamdulillah sejauh ini MUI masih dipercaya dan selalu menjadi rujukan pemerintah apabila ada persoalan yang menyangkut keagamaan, baik itu bersifat fatwa maupun maklumat,” lanjutnya dihadapan sang Jenderal bersama para pendampingnya.
Selanjutnya yang terakhir kata KH Nadjamuddin adalah menjadi pelindung umat dari berbagai aliran-aliran yang dapat menyesatkan atau melenceng dari agama Islam. Sebagaimana di zaman sekarang sangat banyak aliran-aliran yang mengaku Islam tapi tidak sesuai dengan yang di syariatkan.
Di akhir sesi, keduanya saling bertukar cenderamata dan foto bersama.
Kontributor: Nur Abdal Patta
