Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar,muisulsel.or.id – Dalam rentang sejarah Islam, bulan Safar sering kali dianggap sebagai bulan duka dan pengingat akan peristiwa-peristiwa penuh pelajaran. Salah satu kisah yang menggugah jiwa dan mencabik hati orang-orang beriman adalah kepulangan Bilal bin Rabah radhiallahu anhu ke Madinah, setelah bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan kota yang pernah menyimpan ribuan kenangan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bilal bin Rabah radhiallahu anhu bukan sekadar muadzin pertama dalam Islam. Ia adalah simbol loyalitas, pengorbanan, dan cinta yang tulus kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, Bilal radhiallahu anhu merasa dunianya runtuh. Ia tak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Tangisnya pecah saat sampai pada lafaz
أشهد أن محمداً رسول الله
Ia berhenti, suaranya pecah, hatinya remuk. Bagaimana bisa ia menyeru nama orang yang ia cintai tapi telah dipanggil oleh Allah.
Karena itulah, Bilal radhiallahu anhu memilih pergi meninggalkan kota Madinah. Ia ikut jihad ke Syam. Ia ingin menyibukkan dirinya dalam amal-amal besar agar tidak tenggelam dalam kenangan yang menyiksa. Namun cinta itu tidak pernah padam.
Tahun-tahun berlalu. Hingga pada suatu ketika, menurut riwayat dari Ibnul Jauzi rahimahullah dan juga disebutkan oleh alHafizh Ibnul Katsir rahimahullah dalam alBidayah wa Nihayah, Bilal radhiallahu anhu datang kembali ke Madinah, dan itu terjadi di bulan Safar. Ia datang memenuhi permintaan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Hasan dan Husain radhiallahu anhuma yang berkata
يا بلال، نشتهي أن نسمع أذانك كما كنت تؤذن لجدّنا رسول الله
Artinya: “Wahai Bilal, kami rindu mendengar adzanmu seperti saat engkau dahulu mengumandangkannya untuk kakek kami, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”
Bilal radhiallahu anhu tak kuasa menolak. Ia berdiri di atas tempat yang biasa ia adzankan semasa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih hidup.
Lalu ia mulai…
الله أكبر الله أكبر…
Seketika itu, Madinah terdiam sunyi senyap seketika menangis. Orang-orang keluar dari rumah. Mereka menyangka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah kembali, saking mendalamnya kerinduan dan kuatnya kenangan pada suara Bilal radhiallahu anhu.
Dan ketika Bilal radhiallahu anhu sampai pada lafaz
أشهد أن محمداً رسول الله
Bilal radhiallahu anhu kembali terisak. Madinah pun meraung dalam tangis. Tak satu rumah pun di Madinah, kecuali dipenuhi tangisan hari itu.
Kisah ini diriwayatkan secara mursal oleh Sa’id bin Abdul Aziz rahimahullah dan dikuatkan maknanya dalam banyak atsar shahih lainnya. Tangisan karena cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bentuk dari mahabbah (cinta) yang agung. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآني بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ
Artinya: “Di antara umatku yang paling besar cintanya kepadaku adalah orang-orang yang datang setelahku, yang rela menukar keluarga dan hartanya demi melihatku.” (HR. Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah berkata
هذا فيه بيان فضيلة المحبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتمني رؤيته مما يدل على صدق الإيمان
Artinya: “Hadis ini menunjukkan keutamaan mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kerinduan untuk melihat beliau merupakan tanda keimanan yang jujur.” (Syarh Shahih Muslim).
Bulan Safar tak lagi menjadi bulan mitos sebagaimana di masa jahiliah. Ia menjadi saksi akan cinta yang agung. Bukan hanya cinta romantis yang banyak diagung-agungkan, tapi cinta spiritual yang melampaui ruang dan waktu. Tangis Bilal radhiallahu anhu adalah simbol ketulusan iman, sebuah pelajaran bahwa mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah bagian dari keimanan
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ…
Artinya: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mencintai kalian…” (QS. Ali Imran: 31).
Bulan Safar mengingatkan kita pada sebuah air mata yang jujur, tangisan Bilal radhiallahu anhu karena cinta. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha hidupkan cinta kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bukan hanya dengan lisan, tapi dengan meneladani sunnahnya, mencintai keluarga dan sahabat sahabatnya, serta membela risalahnya.
اللَّهُمَّ اجعلنا من المحبين الصادقين لنبيك، وابعثنا في زمرته، واحشرنا تحت لوائه، واسقنا من حوضه، ولا تحرمنا شفاعته يا أرحم الراحمين.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai NabiMu shallallahu alaihi wasallam dengan cinta yang tulus, kumpulkanlah kami bersamanya, sertakan kami dalam barisannya, beri kami minum dari telaganya, dan jangan Engkau haramkan kami dari syafaatnya, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Aamiin..
Irfan Suba Raya
