Pendidikan Karakter sebagai Warisan Terbaik untuk Anak Bangsa: Refleksi Hari Anak Nasional 2025

Dr. Jumadi, S. Pd.I., M. Pd.I (Akademisi, Peneliti, Muballigh dan Penggiat sosial keagamaan)

Makassar, muisulsel.or.id – Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali komitmen kita terhadap masa depan generasi muda.

Dalam dunia yang kian kompleks, pendidikan karakter menjadi fondasi yang tak bisa ditawar dalam membentuk anak-anak Indonesia yang tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia menuju Indonesia Emas Tahun 2045.

Pendidikan karakter bukanlah konsep baru, tetapi seringkali terpinggirkan oleh dominasi pencapaian akademik semata. Padahal, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, kerja keras, dan cinta tanah air justru menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Seorang anak yang unggul secara intelektual namun miskin karakter berisiko tumbuh menjadi individu yang rapuh dalam menghadapi dinamika zaman.Dalam konteks keluarga dan sekolah, sinergi peran orang tua dan guru sangatlah vital.

Orang tua sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak harus menjadi teladan
dalam keseharian, sementara guru/dosen menjadi penguat nilai-nilai luhur dalam
lingkungan Pendidikan, kemudian tokoh Masyarakat ikut andil dalam mendukung dan
membimbing anak ke-arah yang lebih baik, Di sinilah urgensi kolaborasi edukatif antar rumah, sekolah dan masyarakat menjadi sangat penting.

Lebih dari itu, pendidikan karakter tidak hanya ditanamkan melalui ceramah atau aturan, tetapi melalui keteladanan, pembiasaan, dan pengalaman bermakna. Misalnya,mengajak anak terlibat dalam kegiatan sosial, mendiskusikan nilai-nilai dari kisah tokoh inspiratif, atau melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan sederhana di rumah dan sekolah.

Hari Anak Nasional harus mendorong kita semua untuk kembali menempatkan anak
sebagai subjek pembangunan bangsa. Merekalah pewaris negeri ini, maka warisan
terbaik bukanlah harta benda, jabatan dll melainkan karakter yang tertanam kuat untuk
menuntun mereka menjadi pemimpin masa depan yang jujur, adil, dan peduli pada sesama.

Menurut Imam Ali Bin Abi Thalib “Bukan dikatakan anak yang baik ketika mereka
mengatakan inilah karya dari Bapakku, keluarga dll, tetapi mereka yang mengatakan inilah hasil dari tanganku sendiri”.

Penulis: Jumadi Al Bimawi (SEKUM KDK MUI Sul-Sel).

 

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.