Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar,muisulsel.or.id – Membaca bukan sekadar kegiatan memindai kata-kata. Ia adalah perjalanan jiwa, petualangan akal, dan ibadah hati. Dari membaca, seseorang mengenal dunia, memahami makna kehidupan, dan menemukan arah bagi dirinya. Tidak berlebihan jika dikatakan, membaca adalah pintu pertama menuju kebijaksanaan.
Allah ta’ala sendiri memulai wahyu pertama kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perintah membaca, sebagai tanda bahwa ilmu dan kemajuan manusia dimulai dari sana. Allah ta’ala berfirman
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq: 1)
Perintah pertama ini bukan hanya ajakan untuk membaca huruf, tetapi juga untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala di alam semesta. Membaca adalah ibadah, selama diniatkan untuk mengenal Allah ta’ala dan menambah manfaat bagi sesama.
Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah pernah berkata
العلم ما نفع، ليس العلم ما حفظ
Artinya: “Ilmu adalah yang bermanfaat, bukan sekadar yang dihafal.”
Salah satu cara agar ilmu itu bermanfaat adalah dengan membaca dan merenungkannya dengan hati yang hidup, bukan sekadar mata yang terbuka.
Namun, tidak sedikit orang yang ingin rajin membaca tetapi terhambat oleh rasa malas, bosan, atau tidak tahu harus mulai dari mana. Untuk itu, penting bagi kita memulai dari hal yang sederhana. Bacalah buku-buku ringan yang sesuai dengan minat kita.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
Membaca pun demikian, jangan memaksakan diri langsung dengan buku yang berat. Mulailah perlahan tapi konsisten, karena kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus akan menumbuhkan cinta yang besar terhadap ilmu.
Jadikan membaca bagian dari rutinitas hidup. Sisihkan waktu khusus setiap hari, misalnya sepuluh menit setelah Subuh atau sebelum tidur. Dalam waktu yang tampak singkat itu, Allah ta’ala dapat menumbuhkan cahaya ilmu di hati.
Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata
من أراد العلم فليغتنم أوقاته، فإنها تمر مر السحاب
Artinya: “Barangsiapa menginginkan ilmu, hendaklah ia memanfaatkan waktunya, karena waktu itu berlalu seperti awan.”
Bagi yang lebih mudah memahami melalui suara, membaca dapat digabung dengan mendengarkan. Buku-buku suara (audiobook) bisa menjadi sarana efektif untuk memperkuat pemahaman. Gabungkan mendengar dan membaca teksnya agar otak belajar dengan dua cara sekaligus. Selain itu, biasakan mencatat hal-hal penting. Gunakan pena untuk menandai kalimat yang menyentuh hati atau menuliskan refleksi pribadi. Ulama salaf dahulu tidak hanya membaca, tapi juga menulis ulang faidah yang mereka temukan.
Anas bin Malik radhiallahu anhu pernah berkata kepada anaknya
كان أنسٌ يقول لبنيه : يا بَنيَّ ! قَيِّدوا العِلمَ بالكِتابِ
Artinya: “Wahai anakku ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Yang terpenting, kita nikmati prosesnya, bukan hanya hasilnya. Dan tidak terburu-buru ingin menyelesaikan buku, tapi membacanya dengan rasa syukur karena Allah ta’ala masih memberi kesempatan untuk belajar. Sebab ilmu tidak turun kepada hati yang tergesa, melainkan kepada hati yang tenang. Jadikan membaca sebagai bentuk syukur. Setiap halaman yang kita baca adalah bukti bahwa Allah ta’ala masih menuntun kita kepada kebaikan. Betapa banyak orang yang punya waktu, tapi tidak punya semangat, punya buku, tapi tidak punya arah. Maka bersyukurlah, karena kita masih ingin membaca.
Ketika kita membaca dengan nama Allah ta’ala sebagaimana dalam firmanNya
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
Itu berarti kita sedang menyandarkan kegiatan ilmu kepadaNya. Membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga memperdalam hubungan kita dengan Allah ta’ala.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah ta’ala diukur dari kesungguhannya dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya.
Selain itu, usahakan membaca di tempat yang tenang dan nyaman. Hindari gangguan dari scroll media sosial atau hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian. Jika kita sudah mengatur media sosial kita untuk lebih memberi ruang bagi ilmu, teruskan langkah itu. Gunakan waktu untuk membaca, mendengarkan, dan merenung. Jika suatu saat kita ingin kembali ke media sosial, lakukan dengan bijak dan secukupnya.
Manfaatkan pula waktu-waktu singkat seperti saat menunggu atau dalam perjalanan untuk membuka buku dan membaca beberapa halaman. Jadikan buku sebagai teman perjalanan, karena satu halaman yang kita baca bisa menjadi cahaya di hati. Dan jangan kecewa dan putus asa bila kita memahami dengan lambat, sebab tidak mengapa seseorang lambat dalam memahami ilmu, selama ia tekun dan jujur dalam menuntutnya.
Oleh karena itu, membaca adalah amal yang menumbuhkan ilmu, iman, dan kedewasaan jiwa. Ia menghidupkan akal yang mati dan melembutkan hati yang keras. Maka hendaknya kita jadikan membaca sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar karena kewajiban, tapi karena cinta.
اللهم ارزقنا علماً نافعاً، وعملاً صالحاً، وقلباً خاشعاً، ولساناً ذاكراً، ونوراً في البصر والبصيرة.
Artinya: “Ya Allah, anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, hati yang khusyuk, lisan yang selalu berdzikir, serta cahaya dalam pandangan dan hati kami”.Aamiin…
Irfan Suba Raya
