Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Keduanya sama-sama menjadi misteri. Bedanya, cinta sering datang membawa kebahagiaan, sedangkan kematian mengakhiri semua perjalanan di dunia. Namun keduanya memiliki kesamaan, kita tidak bisa memanggilnya sesuka hati, tidak bisa mempercepat atau menundanya, dan tidak bisa memaksanya datang.
Cinta bukanlah hasil pencarian yang tergesa atau sesuatu yang bisa direkayasa. Cinta sejati hadir sebagai pertemuan tak terduga antara dua jiwa yang saling terhubung dengan alami, bukan karena paksaan. Allah ta’ala berfirman
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Artinya: “Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.” (QS. Al-Rum: 21).
Para ulama menafsirkan bahwa المودة adalah rasa cinta yang tulus di hati, dan الرحمة adalah sikap saling menjaga dan berkorban demi kebaikan pasangan.
Begitu pula dengan kematian. Tak ada satu pun manusia yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana ia akan datang. Ia pasti tiba pada waktunya tanpa bisa ditolak. Allah ta’ala berfirman
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
Keduanya membawa akibat yang berbeda. Cinta yang benar, yang dilandasi karena Allah, akan membawa berkah, ketenangan, dan pahala. Sebaliknya, cinta yang salah, yang dibangun di atas nafsu, akan membawa penyesalan dan dosa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
Artinya: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka ia telah sempurna imannya.” (HR. Abu Daud).
Kematian juga demikian. Bagi orang beriman, ia adalah pintu menuju kebahagiaan abadi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الْمَوْتُ تَحْفَةُ الْمُؤْمِنِ
Artinya: “Kematian adalah hadiah bagi seorang mukmin.” (HR. Thabari).
Namun bagi orang yang lalai, kematian adalah awal dari penyesalan yang tiada akhir.
Karena itu, kita tidak perlu terlalu memaksakan diri mengejar sesuatu yang akan datang sendiri. Kita boleh berusaha, merancang, dan berharap, tetapi kita harus sadar bahwa ada hal-hal besar yang berada di luar kendali kita. Yang terpenting adalah menjalani hidup sebaik-baiknya, menjaga hati, memperbanyak amal, dan membiarkan cinta serta kematian datang pada waktunya ketika Allah telah menentukannya.

Imam Hasan Bashri rahimahullah pernah berkata
أَصْلِحْ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ، يُصْلِحِ اللَّهُ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ لَكَ مِنْ مَوْتٍ، فَأَعِدَّ لَهُ زَادًا
Artinya: “Perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan manusia. Dan ketahuilah, engkau pasti akan mati, maka persiapkanlah bekalnya.”
Oleh karena itu, cinta dan kematian adalah dua anugerah dan kepastian hidup yang tak bisa kita atur waktunya. Cinta datang sebagai hadiah, kematian hadir sebagai pintu menuju akhirat. Yang terpenting bukanlah mengejarnya, tetapi mempersiapkan hati dan amal agar saat keduanya tiba, kita siap menyambutnya dengan bahagia.
اللَّهُمَّ اجعل حياتنا مليئةً بالمودة والرحمة، واختم لنا بخاتمة السعادة، وارزقنا لقاءك وأنت راضٍ عنّا، واجمعنا بمن نحب في جنات النعيم.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hidup kami penuh dengan cinta dan kasih sayang, tutuplah akhir kehidupan kami dengan kebahagiaan, anugerahkanlah kepada kami perjumpaan dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami, dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang kami cintai di surga yang penuh kenikmatan.” Aamiin
*Irfan Suba Raya*
