Tashdieq Ulil Amri Arhamzah (Anggota PKU MUI Sulsel)
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) IX MUI Sulawesi Selatan, saya teringat sebuah pernyataan Imam Besar Al-Azhar, Syekh Ahmad Al-Tayyib. Dalam sebuah kesempatan, beliau pernah ditanya tentang apa yang ingin dikerjakannya jika suatu hari tidak lagi menjadi Grand Syekh Al-Azhar. Saya pribadi membayangkan seorang ulama besar seperti beliau pastinya akan memilih menjadi penasihat di lembaga internasional, mengisi forum dunia, atau menikmati masa tua dengan segala penghormatan yang melekat pada posisinya. Namun jawabannya justru sangat sederhana. Ia ingin menjadi guru ngaji bagi anak-anak.
Kelihatannya sangat sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam. Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari jabatan dan kedudukan, seorang ulama dengan pengaruh mendunia justru memimpikan kembali ruang pengajian yang sederhana. Duduk bersama anak-anak, mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an, lalu menyaksikan generasinya tumbuh dengan mencintai ilmu dan agamanya. Kalau bisa disederhanakan, seakan-akan beliau ingin mengingatkan bahwa setinggi apa pun amanah yang pernah diemban, muara pengabdian seorang ulama itu tetaplah pendidikan dan pembinaan umat.
Terus terang, ketika mendengar pernyataan tersebut, saya langsung teringat pada para gurutta di Sulawesi Selatan. Kita tahu, banyak di antara mereka yang memikul berbagai amanah, baik di MUI, pesantren, organisasi kemasyarakatan maupun lembaga pendidikan. Namun di tengah kesibukan itu, mereka hampir tidak pernah meninggalkan dunia mengajar. Ada yang tetap mengisi pengajian subuh, membimbing santri di pesantren, mengajar kitab di masjid, atau menerima masyarakat yang datang meminta nasihat hingga larut malam. Di tengah pergantian amanah dan perjalanan usia, ada satu mata air yang tak pernah kering dalam diri mereka: hasrat untuk mengajar, menitipkan cahaya kepada generasi yang akan datang. Begitulah sedikit yang saya rasakan ketika diajar langsung oleh gurutta pada Program Kader Ulama MUI Sulsel.
Karena itu, Musda MUI Sulsel yang akan segera digelar semestinya tidak dipahami sekadar sebagai agenda memilih ketua dan menyusun kepengurusan baru. Musda tentu penting sebagai mekanisme organisasi, tetapi maknanya jauh lebih besar dari itu. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali arah pengabdian ulama di tengah masyarakat. Sebab yang sesungguhnya dibutuhkan umat bukan hanya pergantian kepemimpinan, melainkan keberlanjutan semangat membimbing, dan merawat kehidupan keagamaan sekaligus kebangsaan.

Menyingggung tentang pengabdian ulama kepada umat dan bangsa, sejarah Indonesia sesungguhnya memberi banyak pelajaran. Sejarah Indonesia menunjukkan peran ulama selalu berada di garis depan perjalanan bangsa. Dari dulu, ulama tidak hanya sibuk mengurus urusan mimbar. Mereka hadir di tengah masyarakat, mengajar, membimbing, dan menjadi tempat orang mencari arah ketika keadaan terasa tidak menentu. Ketika bangsa ini diuji, mereka ikut berdiri di barisan terdepan. Itulah sebabnya jejak ulama tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Indonesia. Di banyak momen penting, mereka ikut merawat apa yang hari ini kita nikmati sebagai sebuah bangsa.
Para ulama kita tidak pernah melihat Agama dan Indonesia sebagai dua hal yang saling berhadapan. Muslim yang baik tidak membuat seseorang berjarak dari bangsanya. Kita bisa melihat jejak itu pada Pangeran Diponegoro yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme di tanah Jawa, Tuanku Imam Bonjol yang menjadi simbol perjuangan rakyat Minangkabau, hingga KH Hasyim Asy’ari yang menggelorakan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan republik yang baru lahir. Di Sulawesi Selatan, semangat yang sama dapat kita lihat pada Anregurutta Muhammad As’ad yang menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan, melahirkan generasi ulama, dan menjadi mata rantai tumbuhnya banyak pesantren di daerah ini.
Hari ini, warisan para ulama terdahulu justru terasa makin penting. Kita hidup di zaman ketika informasi datang dari segala arah. Siapa saja bisa berbicara tentang agama, menyampaikan pendapat, bahkan mengklaim kebenaran. Persoalannya, tidak semua dibangun di atas ilmu yang memadai. Akibatnya, hoaks, provokasi, dan berbagai bentuk polarisasi sering kali menyebar lebih cepat daripada penjelasan yang jernih. Dalam suasana seperti ini, masyarakat membutuhkan penuntun yang tidak hanya paham agama, tetapi juga bijak membaca keadaan.
Di sinilah MUI dibutuhkan. Tidak sebatas semata karena fatwa keagamaannya, tetapi karena masyarakat selalu membutuhkan penuntun di tengah riuhnya zaman. Ketika ruang publik dipenuhi beragam opini, ketika media sosial sering membuat orang lebih cepat marah daripada memahami, kehadiran ulama yang meneduhkan menjadi semakin penting. MUI diharapkan tetap menjadi rumah besar umat, tempat kebijaksanaan mendapat ruang yang lebih luas daripada kegaduhan, dan tempat nilai Islam terus hadir sebagai rahmat bagi kehidupan bersama.
Untungnya, Sulawesi Selatan memiliki modal yang tidak sedikit untuk menjalankan peran itu. Tradisi keulamaan di daerah ini tumbuh bersama kehidupan masyarakatnya. Para gurutta tidak hanya dihormati karena keluasan ilmu yang mereka miliki, tetapi juga karena kedekatannya dengan umat. Mereka hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat, dari urusan pendidikan dan keluarga hingga persoalan sosial yang lebih luas. Ketika masyarakat membutuhkan nasihat, mereka datang kepada gurutta. Ketika muncul kegelisahan, mereka mencari penjelasan kepada gurutta. Yng menurut saya, kedekatan seperti ini tentu tidak lahir dalam semalam, melainkan tumbuh dari pengabdian panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Barangkali di situlah makna penting dari kisah Syekh Ahmad Al-Tayyib yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Setelah mencapai salah satu posisi paling terhormat dalam dunia Islam, beliau justru memimpikan menjadi guru ngaji bagi anak-anak. Sebuah cita yang tampak sederhana, tetapi menyimpan filosofi pengabdian yang mendalam. Bahwa kemuliaan seorang ulama tidak diukur dari jabatan yang pernah disandangnya, melainkan dari ilmu yang diwariskan dan manfaat yang terus hidup setelahnya.
Menyambut Musda MUI Sulawesi Selatan, harapan kita sebenarnya sederhana. Semoga forum ini melahirkan kepemimpinan yang mampu melanjutkan jejak pengabdian para gurutta, menjaga kedekatan dengan umat, serta terus merawat cara pandang keislaman yang sejuk, terbuka, dan berpihak pada kemaslahatan bersama. Karena pada akhirnya, masyarakat mungkin lupa siapa yang pernah menjabat dan berapa lama masa kepemimpinannya. Tetapi masyarakat tidak pernah lupa kepada mereka yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan menebar manfaat. Khairunnas anfa’uhum linnas “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian harus tetap menyala. Selamat ber-Musda.
