Chamdar Nur, Lc,.SH,. S. Pd. I,. M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Bulan Dzulqa’dah (ذو القعدة) adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriyah. Nama “Dzulqa’dah” berasal dari dua kata Arab: “Dzu” (ذو) yang berarti pemilik atau yang memiliki, dan “Qa’adah” (قعدة) yang berarti duduk. Maka, Dzulqa’dah berarti bulan yang di dalamnya orang-orang duduk atau tidak berperang.
Penamaan ini berasal dari kebiasaan bangsa Arab sebelum Islam yang menghentikan peperangan dan perjalanan ekspedisi perang pada bulan ini, sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralannya. Mereka “duduk” di rumah, tidak memulai penyerangan atau permusuhan, karena bulan ini dianggap bulan haram (suci).
Dalam Islam, Dzulqa’dah termasuk empat bulan haram (suci) yang disebutkan dalam Al-Qur’an
إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36).
Empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam hadits
إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السماوات والأرض السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاثة متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان
Artinya: “Sesungguhnya zaman telah kembali seperti keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (suci); tiga di antaranya berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta (bulan) Rajab Mudhar yang berada antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim).
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Jahiliyah juga menghormati bulan Dzulqa’dah dengan menahan diri dari peperangan dan menjaga perdamaian, tetapi mereka juga melakukan penyimpangan, di antaranya
1. Melakukan haji dengan cara yang rusak seperti bertawaf dengan telanjang di Ka’bah, sekaligus ini menunjukkan bahwa menutup aurat (berhijab) secara sempurna bukan budaya Arab.
عن ابن عباس قال كان الرجال والنساء يطوفون بالبيت عراة إلا أن تأتي الرجال بثوب فيطوفون فيه وكانت المرأة تطوف وهي عريانة
Artinya: “Dulu kaum laki-laki dan perempuan bertawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, kecuali jika seseorang membawa pakaian dari orang Quraisy maka ia memakainya. Perempuan bertawaf juga dalam keadaan telanjang…” (HR. Bukhari & Muslim).
2. Mengubah-ubah bulan suci (An-Nasi’) untuk kepentingan mereka.
إنما النسيء زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاما ويحرمونه عاما ليواطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله
Artinya: “Sesungguhnya (menunda-nunda bulan haram) itu hanyalah menambah kekafiran. Dengan itu orang-orang kafir disesatkan; mereka menghalalkannya pada satu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka menyesuaikan dengan jumlah bulan yang diharamkan oleh Allah, lalu mereka menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah…” (QS. At-Taubah: 37).
Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya
فكان أحدهم إذا أراد القتال في الشهر الحرام أحله وجعل مكانه شهرا آخر
Artinya: “Salah seorang dari mereka, bila ingin berperang di bulan haram, maka ia menghalalkannya dan mengganti tempatnya dengan bulan lain.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. At-Taubah: 37).
Setelah datangnya Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan kembali kesucian bulan Dzulqa’dah dan karenanya sangat dianjurkan beberapa amalan, di antaranya
1. Menjaga diri dari dosa dan kezaliman apalagi pertumpahan darah, karena bulan haram adalah bulan pengagungan Allah, maka dosa di dalamnya lebih berat, dan amal kebaikan lebih besar pahalanya.
فلا تظلموا فيهن أنفسكم
Artinya: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36).
Berkata Imam Qatadah yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir rahimahumallohu
قال قتادة إن الظلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئة ووزرا من الظلم فيما سواها وإن كان الظلم على كل حال عظيما ولكن الله يعظم من أمره ما يشاء
Artinya: “Sesungguhnya kezaliman dalam bulan-bulan haram lebih besar dosanya dan lebih berat timbangannya daripada kezaliman pada bulan lainnya, meskipun kezaliman pada semua waktu adalah dosa besar. Namun Allah mengagungkan apa yang Dia kehendaki.”
2. Persiapan untuk ibadah Haji dan Umrah, ketika menjelang Dzulhijjah, bulan Dzulqa’dah digunakan oleh kaum muslimin untuk bersiap-siap melakukan haji, bahkan Rasulullah SAW melaksanakan umrah hanya pada bulan ini.
اعتمر رسول الله صلى الله عليه وسلم أربع عمر كلهن في ذي القعدة إلا التي مع حجته
Artinya: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan empat kali umrah, semuanya di bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilakukan bersama haji beliau.” (HR. Bukhari).
3. Banyak berzikir, beristighfar, dan membaca Al-Qur’an, karena keutamaan waktu, hendaknya diisi dengan ibadah lisan dan hati, sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci.
Allah berfirman
واستغفروا الله إن الله غفور رحيم
Artinya: “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
Artinya: “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an (dan lancar) akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala.”
Bulan Dzulqa’dah bukan sekadar penanda waktu, tetapi ruang suci yang Allah bukakan bagi hamba-hambaNya untuk kembali pada cahaya. Di saat kaum jahiliyah dahulu menodai kesuciannya, Islam datang menegaskan kesuciannya melalui wahyu serta mengangkatnya sebagai bulan ketenangan, refleksi, dan penghambaan karenanya dianjurkan untuk diisi dengan amal shalih.
Maka jangan biarkan hari-hari mulia ini berlalu tanpa dzikir yang lembut, istighfar yang tulus, tilawah yang menyejukkan hati, serta keteguhan dalam menahan diri dari dosa dan maksiat. Siapa pun kita baik yang telah mahir maupun yang masih terbata-bata dalam membaca kalamNya semua berhak atas rahmat dan pahala yang luas, selama kita tulus mendekat, meskipun di tengah kesibukan dunia. Inilah saatnya menghormati waktu suci dengan jiwa yang suci.
اللهم اجعل شهر ذي القعدة شهراً مباركاً علينا، نزداد فيه طاعةً لك، وابتعاداً عن معاصيك، ونحيا فيه بسلامٍ مع خلقك، ونستعد فيه للقاءك بأعمالٍ صالحةٍ تقربنا إليك، يا أرحم الراحمين.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah bulan Dzulqa’dah bulan yang penuh berkah bagi kami, yang di dalamnya kami bertambah taat kepada-Mu, menjauhi maksiatMu, hidup damai bersama sesama makhlukMu, dan bersiap untuk bertemu denganMu dengan amal shalih yang mendekatkan kami kepadaMu. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.
Irfan Suba Raya
