Makassar, muisulsel.or.id – Kajian Muslimah yang digelar oleh PPRK MUI Sulawesi Selatan, YASDIC IMMIM, dan Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) lantai 3 Gedung YASDIC IMMIM berlangsung penuh makna dan haru pada Rabu 24 September 2025.
Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Fatmawati, S.Ag., M.Ag. tampil sebagai narasumber utama. Beliau memaparkan secara mendalam berbagai problema dalam mewujudkan prinsip-prinsip pernikahan menurut perspektif Islam. Mulai dari melemahnya pemahaman pernikahan sebagai ibadah, rapuhnya komunikasi yang seharusnya melahirkan sakinah, mawaddah wa rahmah, hingga persoalan tanggung jawab, keadilan, serta musyawarah dalam rumah tangga.
Prof. Fatmawati menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar pemenuhan tuntutan sosial atau ekonomi, melainkan ibadah yang harus dijalani dengan niat tulus, komunikasi sehat, dan komitmen menjaga peran masing-masing pasangan. “Jika nilai ibadah dalam pernikahan ditinggalkan, rumah tangga akan mudah goyah dan kehilangan arah,” tegasnya.

Suasana kajian semakin hidup ketika beberapa peserta antusias mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan merespon materi yang disampaikan. Puncak keharuan terjadi saat tiga orang perwakilan komunitas tuli maju ke depan membagikan pengalaman suka duka mereka dalam berumah tangga. Dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan, mereka menuturkan tantangan komunikasi, keterbatasan pemahaman pasangan, hingga perjuangan menjaga keharmonisan keluarga. Kisah itu membuat banyak peserta terharu, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata.
Kegiatan yang dikemas penuh kekeluargaan ini tidak hanya memberi pencerahan teoretis tentang pernikahan, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata yang menyentuh hati. Para peserta berharap kajian semacam ini dapat terus dilaksanakan, agar muslimah dan keluarga muslim memperoleh bekal spiritual dan praktis dalam membangun rumah tangga yang kokoh di tengah tantangan zaman.
Yang menarik, kajian Muslimah kali ini didominasi oleh puluhan peserta dari komunitas tuna Rungu dan bisu yang berasal dari Kota Makassar dan sekitarnya. Mereka tampak khusyuk menyimak setiap materi yang disampaikan, dibantu oleh para penerjemah bahasa isyarat yang profesional dan komunikatif.
Irfan Suba Raya
