Merdeka dengan Syukur, Jihad dengan Amal

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar,muisulsel.or.id – Delapan puluh tahun sudah bangsa ini menghirup udara kemerdekaan. Tahun 2025 menjadi saksi bahwa nikmat merdeka yang kita rasakan hari ini bukanlah hadiah yang jatuh dari langit, bukan pula kemurahan hati penjajah, melainkan lahir dari darah yang tertumpah, air mata yang mengalir, dan nyawa yang melayang demi satu kata yang agung. Merdeka. Semua itu terwujud hanya dengan izin Allah ta‘ala, agar bangsa ini terbebas dari belenggu penjajahan.

Para pahlawan kita, baik yang tercatat dalam buku sejarah maupun yang tak dikenal namanya, berjuang dengan ikhlas. Mereka meninggalkan keluarga, harta, bahkan nyawa demi mengusir penjajah dan mengibarkan merah putih di bumi pertiwi. Namun, apakah kita yang hidup hari ini hanya akan menjadi penikmat hasilnya tanpa menjaganya.

Allah ta‘ala mengingatkan

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: “Bersyukurlah atas nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. An-Nahl: 114).

Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tapi harus nyata dalam tindakan. Para pahlawan telah mengajarkan arti pengorbanan. Ada pejuang yang gugur tanpa sempat melihat bendera berkibar. Ada seorang ibu yang merelakan anaknya berangkat perang tanpa kembali pulang. Ada ulama, kiai, santri, petani, dan rakyat kecil yang rela mati demi kata Merdeka.

Hari ini, jihad kita berbeda. Dulu melawan penjajah bersenjata, kini melawan penjajah yang tak kasat mata: korupsi, kebodohan, perpecahan, dan kehancuran moral. Jika kita ingin menjaga kemerdekaan ini, maka ada amalan besar yang harus kita pegang teguh.

1. Menjaga Persatuan dan Menghindari Perpecahan

Allah ta‘ala berfirman

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Kemerdekaan akan rapuh jika bangsa ini tercerai-berai. Karena itu, menjaga persatuan adalah kewajiban seluruh rakyat. Berselisih boleh, berbeda pendapat wajar, tetapi jangan sampai terpecah belah.

Chamdar Nur Lc SPd MPd, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel

2. Menuntut Ilmu dan Memperbaiki Akhlak

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Kemerdekaan tidak akan bermakna tanpa ilmu dan akhlak. Ilmu menjaga kita dari kebodohan, sementara akhlak menjaga kita dari kehancuran moral. Bangsa yang berilmu dan berakhlak akan kokoh menghadapi tantangan zaman.

3. Memerangi Korupsi dan Kezaliman

Allah ta‘ala berfirman

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ

Artinya: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-hak mereka.” (QS. Hud: 85).

Korupsi adalah bentuk kezaliman yang merugikan hak orang banyak. Negeri akan hancur jika rakyatnya terbiasa menipu, mencurangi, dan mengambil hak yang bukan miliknya. Memerangi korupsi dan menegakkan keadilan adalah wujud menjaga kemerdekaan.

4. Peduli kepada Rakyat Kecil

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَم

Artinya: “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kemerdekaan sejati adalah ketika semua rakyat merasakan keadilan, termasuk yang kecil dan lemah. Jika para pemimpin peduli pada rakyat kecil, dan sesama masyarakat saling menolong, maka Allah akan menurunkan rahmatNya.

5. Berdoa untuk Negeri yang Aman dan Damai

Doa adalah senjata orang beriman. Nabiullah Ibrahim alaihi salam, ketika membangun fondasi Makkah, berdoa agar negeri itu diberi keamanan dan keberkahan rezeki. Allah ta‘ala abadikan dalam firmanNya

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya.” (QS. Al-Baqarah: 126).

Maka sudah sepantasnya kita meneladani doa ini, memohon agar Indonesia senantiasa menjadi negeri yang aman, damai, penuh keberkahan, jauh dari perpecahan dan kehancuran.

Allah ta‘ala telah memberikan kabar gembira kepada kita

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Oleh karena itu, mari kita menjadi pejuang di zaman ini. Pejuang bukan hanya di medan perang, tetapi di kelas dengan menuntut ilmu, di kantor dengan bekerja jujur, di rumah dengan mendidik anak-anak berakhlak mulia, dan di masyarakat dengan menjaga persatuan serta menebar kasih sayang.

Inilah jihad kita di era ini, jihad dengan ilmu, akhlak, kejujuran, doa, dan persatuan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ أَهْلِهِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا، وَاحْفَظْنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَفِتْنَةٍ

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, penuh kelapangan dan keberkahan. Satukan hati penduduknya, berkahilah agama dan dunia kami, serta lindungilah kami dari segala keburukan dan fitnah.”.Aamiin..

 

Irfan Suba Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.