MAKASSAR — Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan mengingatkan pentingnya mengembalikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan adab, akhlak, serta memberikan perlindungan kepada para santri.
Pesan tersebut disampaikan Hj. Masnawati Mappasawang, S.H., M.Kn., dalam momentum Hari Santri Nasional, Kamis 22 Oktober 2026.
Ia menyoroti sejumlah kasus pelanggaran kesusilaan yang terjadi di lingkungan pesantren dan dinilai dapat merusak citra lembaga pendidikan Islam tersebut.
Menurut Masnawati, persoalan yang terjadi di sejumlah pesantren sangat disayangkan, terlebih apabila pelanggaran justru dilakukan oleh orang-orang yang berada di dalam lembaga pendidikan itu sendiri.
“Yang sangat disayangkan ketika ada oknum dari dalam pesantren sendiri yang merusak citranya. Kita harus mengembalikan pesantren sebagai tempat pendidikan adab dan akhlak, selain ilmu,” ujarnya.
Masnawati yang juga Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dan Tarbiyah Notaris Muslim Indonesia ini menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh digeneralisasi sebagai gambaran seluruh pesantren. Sebab, banyak pesantren yang telah melahirkan santri dan alumni berilmu, beradab, serta memiliki akhlak yang baik.
Karena itu, menurutnya, kasus yang melibatkan oknum tertentu harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pengelolaan dan pengawasan di lingkungan pesantren.
Masnawati menilai, upaya pembenahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem pengelolaan lembaga, pembinaan calon pendidik, hingga penguatan pemahaman santri mengenai batas-batas tubuh dan keberanian melaporkan tindakan yang tidak pantas.
Selain itu, pesantren perlu memastikan bahwa hubungan antara pendidik dan santri tidak disalahgunakan melalui kekuasaan atau otoritas keagamaan.
“Perlindungan itu bukan membuat santri merasa takut terhadap kekuasaan. Karena itu, perlu ada pembenahan sistem, pembinaan pendidik, pendidikan tentang batas tubuh, serta keberanian untuk melapor,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan terhadap para pengasuh dan pendidik. Menurutnya, kualitas akhlak santri tidak dapat dilepaskan dari keteladanan orang-orang yang membimbing mereka setiap hari.
“Kalau pembinanya sendiri berakhlak buruk, bagaimana bisa menciptakan santri yang berakhlak baik? Karena itu, pembinaan bukan hanya dilakukan dari luar, tetapi juga harus menyentuh lingkungan internal pesantren,” tegasnya.
Masnawati berharap momentum Hari Santri menjadi pengingat bagi seluruh pengelola pesantren untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pendidikan serta perlindungan santri.
Ia menegaskan, pesantren tetap memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan yang berilmu, berakhlak, dan berkualitas.
“Harapan umat sangat besar kepada pesantren untuk mendidik generasi yang berakhlak dan berkualitas. Generasi emas ke depan juga diharapkan lahir dari pesantren-pesantren yang berkualitas,” pungkasnya.
Irfan Suba Raya
