Makassar, muisulsel.or.id – Ketua Umum MUI Sulsel Prof Dr KH Nadjamuddin H Abd Shafa Lc MA menanggapi perbedaan penentuan awa Dzulhijjah yang sering terjadi di Indonesia.
Merutnnya,perbedaan penentuan terjadi karena ada dua metode yang digunakan yaitu Hisab dan Rukyatul Hilal keduanya memiliki landasan yang kuat tapi sebagai warga negara Indonesia kita harus menyerahkan kepada pemerintah.
“Jika terjadi perbedaan pendapat maka kita wajib mengikuti pemerintah karena dalam Islam kita diwajibkan untuk taat kepada pemimpin.”Jika pemerintah salah dalam melakukan ijtihad maka tetap mendapatkan satu pahala tapi benar maka akan mendapatkan dua pahala juga,”.katanya saat tausiah di Acara Penentuan Awal Dzulhijjah di Delft Apartemen CPI Makassar,Selasa 27 Mei 2024.
Ia juga melanjutkan di Mesir dan Arab misalnya harus mengikuti Mufti sedangkan di Indonesia ada Kementerian Agama.
Terkait dengan perbedaan awal Dzulhijjah Ia mengatakan sebaiknya ormas yang berbeda pendapat mengikuti ketentuan pemerintah karena hari raya idul fitri merupakan sunnah sehingga bisa ditunda pelaksanaanya untuk menjaga persatuan umat,jelasnya.
Selain tausiyah Prof Nadjamuddin juga memimpin doa keselamatan dan keberkahan acara.
Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan, Dr H Ali Yafid selaku penyelenggara mengatakan, dari hasil pemantauan dan hasil sidang isbat yang dilakukan hari ini diputuskan maka tidak memenuhi syarat.
“Hilal tidak terlihat karena berawan dan tinggi yang disebutkan belum bisa terpantau dan memang tidak bisa terlihat di Sulsel,” jelasnya.
Ali Yafid juga mengungkapkan, dari hasil pemantauan yang ada hanya tinggi bulan yang memenuhi syarat. Dua di antaranya tidak memenuhi persyaratan.
“Hasil ini sebentar dilaporkan ke Kementerian Agama karena salah satu titik untuk memberikan masukan ke Kementerian Agama adalah titik sidang isbat, sidang rukyatul hilal yang ada di Provinsi Sulsel,” jelasnya.
Sementara dari BMKG Wilayah IV Makassar jamroni mengatakan cuaca agak mendung sehingga potensi atau kemungkinan untuk pengamatan di Kota Makassar cukup kecil. “Mungkin nanti diharapkan di wilayah-wilayah yang makin ke barat di Indonesia seperti Aceh dan lain sebagainya,” jelasnya.
Irfan Suba Raya
