MAKASSAR, muisulsel.or.id – Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan Prof Dr KH Muammad Bakry menghadiri pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) ICATT di Hotel Vasaka Makassar, Kamis (14/5/2026). Ketua Yayasan Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), Prof. H. Andi Aderus secara langsung melantik pengurus baru ICATT masa khidmat 2026-2029.
Dalam pembukaan pelantikan tersebut, Sekretaris Umum MUI Sulsel memimpin doa dimana kegiatan ini dirangkaikan dengan rapat kerja dan dialog interaktif yang menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga organisasi kepemudaan (OKP).
Muammar Bakry mengucapkan selamat kepada pengurus baru ICATT. “Selamat kepada ketua terpilih yang juga merupakan pengurus MUI Sulawesi Selatan,” unggahnya. Banyak pengurus MUI merupakan alumni timur tengah yang juga pengurus ICATT dan menjadi tulang punggung kegiatan MUI Sulawesi Selatan dalam menyebarkan dakwah yang moderat

Tambahnya, kami berharap pengurus ICATT yang baru dapat memberi sumbangsih yang lebih banyak kepada masyarakat Sulawesi Selatan utamanya dalam memberikan pemahaman Islam yang lebih moderat.
Ketua DPP ICATT, Mallingkai Ilyas mengatakan, agenda tersebut menjadi momentum awal untuk menggali sekaligus memperkuat potensi intelektual yang dimiliki para alumni Timur Tengah.
“Hari ini kan kami melakukan pelantikan dan rapat kerja sekaligus dirangkaikan dengan dialog interaktif dalam rangka menggali sejauh mana potensi-potensi yang ada di ICATT,” kata Mallingkai Ilyas kepada wartawan usai pelantikan.
Ia mengaku bersyukur kegiatan berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta yang hadir.
Dalam kesempatan itu, Mallingkai Ilyas menegaskan ICATT akan mengambil peran sebagai gerakan intelektual yang aktif membangun narasi positif, khususnya di ruang digital.
Menurutnya, ICATT ingin menghadirkan pemahaman Islam yang moderat, sejuk, dan berkeadilan sesuai dengan prinsip rahmatan lil alamin.
“ICATT ini gerakan intelektual. Kami akan berupaya membangun narasi-narasi positif di ruang digital. Kami ingin menjelaskan bagaimana Islam rahmatan lil alamin, bagaimana Islam moderat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyampaian pemahaman keislaman berdasarkan sumber-sumber ajaran yang otentik dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau kita bicara Al-Qur’an pasti banyak penafsiran, tapi mana penafsiran yang pada umumnya dipakai. Begitu juga pemahaman fikih yang berkembang sesuai zamannya, dan kami akan menjelaskan itu dengan baik,” ujarnya.
