ke MUI Sulsel, ICC Bahas Peluang Kerja Sama Kebudayaan dan Keilmuan

Makassar, muisulsel.or.id — Lembaga Pusat Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Centre/ICC) Jakarta bersama delegasi dari Republik Iran melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, pada Selasa (29/7). Kunjungan ini bertujuan untuk membuka ruang kerja sama di bidang kebudayaan dan keilmuan antar dua lembaga.

Rombongan ICC yang dipimpin oleh Ketua ICC Jakarta, Prof Muhammad Sharifani, disambut langsung oleh Ketua Umum MUI Sulsel Gurutta Prof Najmuddin AS, didampingi jajaran pimpinan MUI seperti Prof Burhanuddin Arafah, selaku Ketua Bidang Seni dan Kebudayaan Islam, Prof Dr KH Mustari Mustafa, selaku Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Dr KH Norman Said, Sekretaris bidang, Dr Chamdar, selaku anggota bidang serta sejumlah pemuda MUI.

Dalam sambutannya, Prof Najmuddin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kunjungan ini dan berharap silaturahmi seperti ini bisa memperkuat ukhuwah Islamiyah. “Selamat datang di Makassar. Ini adalah kunjungan kedua dari ICC dan kami sangat menghargai inisiatif ini,” ucapnya.

Sementara di pihak ICC Jakarta, turut hadir Ketua ICC Jakarta, Prof Muhammad Sharifani, di dampingi oleh Wakil Ketua Deputi Riset Dr Akmal Kamil, juga sekaligus penerjemah ketua ICC, Prof Khusnul Yaqin, dan Supratman, selaku dosen dari kampus Unhas Makassar.

Pada kalimat pembukanya, Prof Sharifani mengajak semua pihak untuk terus mempererat hubungan antarumat Muslim tanpa terjebak pada perbedaan. “Apa yang selama ini dianggap berbeda oleh masyarakat umum sebenarnya hanyalah perbedaan pendapat (ikhtilaf), namun secara prinsip, nilai-nilai fundamental kita tetap sama,” jelasnya.

Diskusi hangat pun berlangsung. Ketua Bidang Kebudayaan Islam Prof Burhanuddin menyampaikan keinginan untuk membangun kerja sama kebudayaan lebih konkret. “Saya ingin tahu, bagaimana cara menjalin hubungan kebudayaan yang lebih luas, khususnya dengan Iran, apa yang harus dilakukan,” tanyanya.

Tak kalah menariknya, tanggapan pun datang dari Norman Said, yang mengajukan pertanyaan tentang minimnya literasi soal Syiah yang selama ini dipahami oleh masyarakat luas. Dirinya mengungkapkan bahwa sebagai dosen pengajar, ia agak kesulitan bagaimana memberikan pemahaman tentang Syiah itu sendiri karena minimnya liyerasi tersebut.

Pertemuan ini diakhiri dengan pemberian cenderamata berupa buku literasi kebudayaan Iran dan karpet hias khas Persia, serta sesi foto bersama sebagai penanda terjalinnya hubungan kedua pihak.

Kontributor: Nur Abdal Patta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.