Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)
Makassar, muisulsel.or.id – Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, ada dua kata penting yang menjelaskan hakikat tauhid, yaitu الرَّبّ (Ar-Rabb) dan الإِلٰه (Al-Ilah). Keduanya menggambarkan dua sisi tauhid, Rububiyyah (mengenal Allah sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pemilik alam semesta) serta Uluhiyyah (mengenal Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah). Memahami dua kata ini, baik dari segi bahasa maupun ajaran agama, sangat penting agar kita bisa berakidah dengan lurus sebagaimana para ulama salaf memahaminya.
Ar-Rabb (الرَّبّ)
Secara bahasa, kata Ar-Rabb berasal dari kata kerja رَبَّ – يَرُبُّ – رُبُوبِيَّةً yang berarti: mendidik, mengatur, menjaga, dan memelihara.
Maka Ar-Rabb adalah Allah ta’ala, satu-satunya yang menciptakan, mengatur, dan menguasai seluruh makhluk.
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2).
Dari sisi akidah, ini disebut Tauhid Rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, dan mengatur semua makhluk. Bahkan orang-orang musyrik Arab dulu pun mengakuinya.
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ
Artinya: “Jika engkau bertanya kepada mereka: Siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka menjawab: Allah.” (QS. Luqman: 25).

Al-Ilah (الإِلٰه)
Kata Al-Ilah berasal dari أَلِهَ – يَأْلَهُ – إِلٰهَةً yang artinya, beribadah, tunduk, mencintai, dan berlindung.
Maka Al-Ilah adalah Allah, satu-satunya Dzat yang berhak disembah dengan penuh cinta, pengagungan, dan ketundukan.
وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ لَّا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِيم
Artinya: “Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (yang benar) kecuali Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah hal doa, cinta, takut, tawakal, sujud, rukuk, dan seluruh bentuk penghambaan. Inilah inti dakwah semua nabi dan rasul.
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ
Artinya: “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum engkau, kecuali Kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25)
Para ulama salaf menjelaskan bahwa mengakui Allah sebagai Pencipta saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang bertauhid. Ia juga harus mengesakan Allah ta’ala dalam segala bentuk ibadah.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata
من أقر بتوحيد الربوبية ولم يعبد الله وحده، فهو مشرك.
Artinya: “Siapa yang mengakui tauhid rububiyyah tapi tidak beribadah hanya kepada Allah, maka dia tetap musyrik.” (Majmu‘ Fatawa).
Allah ta’ala berfirman
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ
Artinya: “Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah kecuali mereka juga berbuat syirik.” (QS. Yusuf: 106)
Sebagian kaum muslimin hari ini memang mengakui Allah ta’ala sebagai Rabb Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta. Namun sayangnya, dalam praktik ibadah masih ada yang terjerumus ke dalam syirik tanpa disadari. Mereka berdoa kepada selain Allah, meminta hajat di kuburan orang yang sudah wafat, mendatangi dukun dan paranormal, atau menggantungkan harapan pada kekuatan gaib, mitos, dan khurafat. Padahal semua itu adalah bentuk penyembahan selain Allah ta’ala yang jelas-jelas dilarang.
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
Artinya: “Mereka menyembah selain Allah yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat. Mereka berkata: Mereka adalah (perantara) pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)
Dua lafaz tauhid ini saling melengkapi. Ar-Rabb menegaskan bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur, sedangkan Al-Ilah menuntut kita hanya tunduk dan patuh sepenuhnya beribadah semata hanya kepadaNya.
ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۖ فَٱعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Itulah Allah Rabb kalian, pemilik kerajaan. Maka sembahlah Dia. Tidakkah kalian mengambil pelajaran?” (QS. Yunus: 3).
Oleh karena itu, tauhid bukan hanya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi juga menjadikanNya satu-satunya tempat bergantung dalam doa, harapan, dan ibadah. Sebab, ketika hati masih berpaling kepada selain Allah ta’ala, seperti meminta hajat kepada penghuni kubur, mendatangi dukun, atau mempercayai mitos dan khurafat, maka saat itu tauhid kita telah ternodai. Akibatnya, seseorang bisa kehilangan keikhlasan yang murni, amal ibadahnya sia-sia, bahkan tanpa disadari telah terjerumus dalam syirik yang menghapus iman.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ رَبًّا نُقِرُّ بِرُبُوبِيَّتِكَ، وَلَكَ إِلٰهًا نُفْرِدُكَ بِالْعِبَادَةِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى التَّوْحِيدِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِكَلِمَةِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.
Artinya: “Ya Allah, jadikan kami hamba yang mengakui Engkau sebagai Rabb, hanya menyembahMu sebagai Ilah, teguhkan hati kami di atas tauhid, dan wafatkan kami dengan kalimat La ilaha illallah.”
Aamiin ..
Irfan Suba Raya
