Makassar, muisulsel.or.id — Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulawesi Selatan tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam ilmu agama. Bagi Maschan Fadhil Muhammad, peserta asal Nganjuk, Jawa Timur, PKU menjadi momentum untuk meng-upgrade cara berpikir dalam memahami fikih, metodologi fatwa, dan persoalan umat.
Maschan mengaku, mengikuti PKU MUI Sulsel membuatnya seperti menemukan kembali sesuatu yang selama ini ia cari, terutama dalam memperdalam fikih dan memahami bagaimana sebuah fatwa dirumuskan.
“Bagi saya, mengikuti PKU ini seperti menemukan kembali sesuatu yang selama ini saya cari,” kata Maschan saat diwawancarai dalam program podcast MUI Update di Hotel Sultan Alauddin Makassar, Ahad (10/8/2026).
Selama ini, Maschan banyak membaca buku, mempelajari teori dari para guru, kemudian berusaha menyampaikan kembali ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat. Namun, dari proses tersebut ia menyadari bahwa ada bidang yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan umat, yakni pendidikan dan peran ulama dalam membimbing masyarakat.
Maschan sendiri telah cukup lama mempelajari fikih. Kurang lebih enam tahun ia menempuh pendidikan di pondok pesantren. Selama berada di pesantren, ia tidak hanya belajar fikih, tetapi juga Al-Qur’an dan berbagai disiplin ilmu keislaman.

Meski demikian, ia merasa pengetahuan fikih yang dimilikinya masih perlu terus diperkuat. Karena itu, ketika mengikuti PKU MUI Sulsel, ia merasa kembali dipertemukan dengan fikih, tetapi dengan perspektif yang lebih luas.
“Ketika mengikuti PKU, saya seperti kembali dipertemukan dengan fikih, sekaligus mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu saya bayangkan, yaitu belajar bagaimana metode berfatwa,” ujarnya.
Menurut Maschan, pembelajaran metodologi fatwa menjadi salah satu pengalaman paling berharga selama mengikuti program tersebut. Sebab, seorang ulama tidak cukup hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga harus memiliki kemampuan metodologis dalam merespons berbagai persoalan umat.
Di sinilah, menurut Maschan, PKU memberi pengalaman yang berbeda: ilmu agama tidak berhenti pada hafalan dan teori, tetapi didorong untuk mampu membaca realitas dan menjawab persoalan masyarakat.
Menariknya, pengalaman Maschan mengikuti PKU juga berbeda dari bayangan awalnya. Ia semula membayangkan pendidikan kader ulama akan berlangsung dalam suasana sederhana dengan fasilitas terbatas.
Namun, kenyataannya justru berbeda. Para peserta dibina di hotel dengan fasilitas yang memadai, pelayanan yang baik, serta proses pembinaan yang serius.
“Kami mendapatkan pelayanan yang baik, tempat yang nyaman, dan proses pembinaan yang serius. Hal tersebut membuat kami merasa sangat dihargai dan nyaman selama mengikuti kegiatan,” katanya.
Bagi Maschan, kenyamanan tersebut bukan sekadar persoalan fasilitas. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai bentuk keseriusan dalam menyiapkan kader ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan wawasan luas.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah perjumpaan dengan peserta dari berbagai latar belakang pendidikan dan kelompok.
Para peserta datang dengan pengalaman, tradisi pendidikan, dan lingkungan yang berbeda. Namun, melalui PKU, mereka dipertemukan dalam satu ruang belajar dan memiliki kesempatan yang sama untuk berdiskusi.
“Perbedaan latar belakang justru menjadi kesempatan untuk saling mengenal, berdiskusi, dan memperluas wawasan,” tuturnya.
Maschan menilai pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari proses kaderisasi ulama yang ia rasakan selama mengikuti PKU MUI Sulsel.
Baginya, PKU bukan hanya tempat menambah ilmu, tetapi ruang untuk meng-upgrade cara berpikir, mempertemukan perbedaan, menguji gagasan, dan memperluas perspektif dalam membaca persoalan umat.
*Irfan Suba Raya*
