Resmi Ditutup, Prof. Najamuddin Minta Kader PKU Jadi Penyejuk dan Mitra Pemerintah

Makassar, muisulsel.or.id — Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan resmi ditutup pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Penutupan berlangsung di Hotel UIN Alauddin Makassar dan dihadiri jajarann Pengurus MUI Sulsel, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta para peserta PKU.

Ketua Umum MUI Sulsel, Prof. Dr. KH. Najamuddin Abd Safa, Lc., MA, dalam sambutannya berharap para peserta PKU mampu tampil sebagai ulama yang mengayomi masyarakat, menjadi pelayan umat, mitra pemerintah, sekaligus penyejuk di tengah masyarakat.

Menurut Prof. Najamuddin, pembekalan yang diberikan selama PKU menjadi modal penting bagi para kader ulama untuk menjawab berbagai persoalan keumatan, khususnya persoalan faktual dan kontemporer yang berkembang di masyarakat.

“Ilmu yang dibekali dalam PKU ini sangat bagus, terutama bagaimana menjawab persoalan-persoalan serius di masyarakat, terutama persoalan-persoalan faktual,” ujarnya.

Ia menyebut para peserta telah mendapatkan berbagai bekal keilmuan, mulai dari bahasa Arab, akidah, metode fatwa, tafsir, hingga ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Namun, Prof.Najamuddin mengingatkan bahwa keluasan ilmu harus berjalan beriringan dengan kerendahan hati.

Ia meminta para kader ulama tidak menjadi sosok yang merasa lebih tinggi dari masyarakat. Sebaliknya, ulama harus mampu hadir dengan sikap rendah hati, menghargai masyarakat, menyebarkan kedamaian, serta menjadi penyejuk ketika terjadi persoalan di tengah umat.

“Jangan menjadi ulama yang tidak menghargai masyarakat. Jadilah ulama yang menyejukkan, menyebarkan kedamaian, dan mengayomi masyarakat,” pesannya.

Prof.Najamuddin juga menegaskan posisi ulama sebagai mitra pemerintah. Menurutnya, ulama memiliki peran penting dalam membantu pemerintah membangun kehidupan masyarakat yang harmonis sekaligus menjadi shadiqul hukama atau mitra pemerintah.

Pemprov Sulsel Dorong PKU Berkelanjutan

Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur Sulsel yang diwakili Biro Kesra Sulsel, Andi Munawir, S.Pt., M.M. menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada MUI Sulsel serta seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan program PKU.

Ia berharap PKU tidak berhenti setelah kegiatan pendidikan selesai, tetapi dapat dilanjutkan dan dikembangkan pada masa mendatang.

Menurutnya, kaderisasi ulama penting untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu menghadirkan kesejukan dan kedamaian di tengah masyarakat.

Para peserta, kata dia, telah memperoleh bekal dari para pakar dan ulama di Sulawesi Selatan. Bekal tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan umat dan bangsa.

“Kami berharap kader-kader ulama ini nantinya dapat menjadi pengayom dan penyejuk di masyarakat, membangun Indonesia yang damai, harmonis, dan tenteram,” katanya.

Ia juga berharap para alumni PKU dapat memberikan kontribusi nyata dalam dakwah Islamiyah sekaligus ikut menangkal paham radikal dan ekstrem yang berkembang di tengah masyarakat.

Ke depan, Pemprov Sulsel juga membuka ruang kolaborasi dengan para alumni PKU agar dapat menjadi mitra pemerintah dalam mendukung berbagai program pembangunan di Sulawesi Selatan.

Peserta: PKU Ajarkan Menghargai Perbedaan Mazhab

Sementara itu, perwakilan peserta PKU,KM. Muhammad Sulfadli, S.H.menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan MUI Sulsel.

Ia menilai materi yang diberikan selama PKU sangat berharga, terutama dalam membangun cara pandang keagamaan yang lebih luas dan terbuka.

Salah satu pelajaran penting yang ia dapatkan adalah bagaimana menghargai perbedaan, khususnya perbedaan mazhab dan latar belakang organisasi keagamaan.

Menurutnya, peserta PKU berasal dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang organisasi serta pemahaman keagamaan yang beragam. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi ruang untuk belajar saling memahami.

“Ilmu agama itu sangat luas. Kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain. Kita harus lebih banyak saling menghargai dan berkolaborasi,” ujarnya.

Ia menilai PKU telah mempertemukan para peserta dalam ruang belajar yang membuat perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan.

Sebaliknya, mereka didorong untuk saling membangun dan memperkuat dalam mengembangkan syiar Islam di Sulawesi Selatan.

“Bagaimana Islam bisa bersatu dengan adanya perbedaan mazhab, tetapi kita tetap saling menghargai,” katanya.

Rangkaian penutupan PKU ditandai dengan penyerahan ijazah kepada para peserta sebagai tanda selesainya proses pendidikan. Ketua MUI Sulsel juga menyerahkan cinderamata berupa selendang kepada peserta.

Penutupan tersebut menjadi penanda berakhirnya proses pendidikan sekaligus awal bagi para kader ulama untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di tengah masyarakat—sebagai ulama yang mengayomi, menyejukkan, menghargai perbedaan, dan menjadi mitra pemerintah.

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.