Makassar,muisulsel.or.id – Program Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulawesi Selatan menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam ilmu agama sekaligus memperluas perspektif melalui perjumpaan dengan kader dari berbagai latar belakang pendidikan, organisasi, dan corak pemikiran.
Salah seorang peserta, Abdullah Syahid Mansyuri, mengaku tertarik mengikuti PKU setelah memperoleh informasi dari keluarganya. Bagi Abdullah, program tersebut menjadi momentum untuk melanjutkan proses belajar setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1).
“Alhamdulillah, ini adalah program dari PKU. Kebetulan keluarga yang mengirimkan informasinya kepada saya. Intinya, ini menjadi momen saya untuk lebih mendalami ilmu lagi, apalagi program ini diadakan oleh MUI,” ujarnya pada Podcast MUI Update, di Hotel Sultan Alauddin Makassar,Senin ,11 Agustus 2026.
Syahid menuturkan, dirinya baru menyelesaikan pendidikan S1 sekitar tiga tahun sebelumnya. Alih-alih berhenti belajar setelah meraih gelar akademik, ia justru merasa perlu kembali memperdalam ilmu, khususnya ilmu agama.
“Setelah selesai belajar, saya merasa perlu lagi untuk mendalami, khususnya agama. Setelah melihat informasi ini, saya merasa sepertinya saya harus ikut,” katanya.
Selama mengikuti program yang dirancang berlangsung selama dua bulan tersebut, Abdullah mengaku mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari para pengajar yang dihadirkan MUI Sulsel.
Dari berbagai materi yang diterimanya, ia memberikan apresiasi terhadap metode penyampaian salah seorang ustaz yang dinilainya mampu menghidupkan materi pembelajaran.
“Yang bagi saya paling menarik adalah materinya, cara penyampaiannya, dan metodenya. Beliau sangat menjiwai apa yang beliau bawa. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada guru-guru yang lainnya, saya sangat suka cara ustaz menyampaikan materi,” tuturnya.
Namun, bagi Syahid , pelajaran terbesar dari PKU justru tidak hanya berlangsung di dalam kelas.Perjumpaan dengan peserta lain yang memiliki latar belakang organisasi, pendidikan, dan keilmuan berbeda menjadi pengalaman yang memperluas cara pandangnya dalam memahami kehidupan beragama.
Ia mengaku menemukan pengalaman baru ketika berinteraksi dengan peserta yang sebelumnya tidak pernah ditemuinya.
“Melalui program ini saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki background yang belum pernah saya temui sebelumnya. Bermacam-macam, dari berbagai latar belakang organisasi, pendidikan, dan keilmuan,” ujarnya.
Dari keberagaman tersebut, Syahid mendapatkan satu pelajaran penting: kehidupan beragama tidak semestinya dibangun dengan membatasi diri hanya pada kelompok sendiri.
Menurutnya, kader ulama harus mampu keluar dari sekat kelompok dan bersedia berdialog dengan berbagai corak pemikiran.
“Dari situ saya belajar bahwa kita dalam beragama, dalam berinteraksi sesama muslim, tidak bisa hanya dengan kelompok kita saja. Kita harus berinteraksi dengan berbagai macam pola pikir. Kita harus terbuka dan toleran,” katanya
Pembinan Ponpes Darul Aman Gombara Makassar ini mengemukakan keterbukaan bukan berarti kehilangan prinsip, tetapi kemampuan untuk memahami perbedaan tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Selain materi dan interaksi antarpeserta, Abdullah juga mengapresiasi penyelenggaraan PKU MUI Sulsel, termasuk fasilitas dan pelayanan selama kegiatan berlangsung di Hotel Green Alauddin.
“Alhamdulillah, dari fasilitas dan pelayanan, bagi saya sudah sangat bagus. Baik dari pihak hotel maupun panitia dan fasilitator. Fasilitator juga sangat membantu kami dalam menjalankan program,” ungkapnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada MUI Sulsel yang telah menyelenggarakan program tersebut.
Baginya, PKU bukan sekadar ruang untuk menambah pengetahuan agama, tetapi juga tempat membangun jejaring, memperluas perspektif, dan belajar memahami keberagaman di tengah umat.
“Bagi saya, program ini adalah program yang sangat bermanfaat,” pungkasnya.
*Irfan Suba Raya*
