Amirullah Syaifuddin (Peserta PKU 2026)
Makassar, muisulsel.or.id – Kader ulama perlu membangun rekam jejak digital yang menunjukkan bidang keilmuan, aktivitas, dan kontribusinya kepada masyarakat. Kehadiran di ruang digital bukan semata-mata untuk mengejar popularitas, melainkan untuk memperluas manfaat dakwah dan memudahkan masyarakat menemukan sosok yang memiliki kompetensi.
Hal tersebut disampaikan H. Rizkayadi, S.Pd.I., M.Sc. saat membawakan materi “Sosial Media dan Personal Branding Ulama” kepada 25 peserta Program Intensifikasi Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulawesi Selatan 2026 di Makassar, Ahad (9/8/2026).
Menurutnya, media sosial telah mengubah cara masyarakat mengenal ulama, lembaga, program, dan gagasan. Perjumpaan pertama masyarakat dengan seorang tokoh kini sering kali terjadi melalui hasil pencarian Google, berita daring, video, podcast, media sosial, dan berbagai karya yang tersimpan di internet.
Karena itu, kader ulama tidak harus menjadi kreator yang mengejar jutaan pengikut. Hal yang lebih penting adalah memiliki jejak digital yang benar, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak harus terkenal, tetapi harus dapat ditemukan. Tidak harus viral, tetapi harus memiliki jejak yang benar.”
Rizkayadi menjelaskan bahwa personal branding ulama tidak cukup dibangun melalui foto profil, slogan, atau banyaknya unggahan. Reputasi yang kuat lahir dari kesesuaian antara ilmu, karya, aktivitas, nilai, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.

Seorang kader ulama perlu dikenal melalui bidang keilmuan yang ditekuninya. Tulisan, kajian, penelitian, wawancara, dan kegiatan dakwah yang terdokumentasi dapat membantu masyarakat menemukan rujukan yang tepat ketika membutuhkan penjelasan mengenai persoalan agama.
Rekam jejak digital juga mempunyai daya jangkau yang panjang. Berita atau karya yang diterbitkan hari ini masih dapat ditemukan bertahun-tahun kemudian. Oleh sebab itu, setiap aktivitas digital perlu dijaga agar mencerminkan ilmu, integritas, dan keteladanan seorang kader ulama.
Menjadi dikenal tidak selalu identik dengan kesombongan. Masyarakat perlu mengetahui orang-orang yang memiliki kompetensi pada bidang tertentu. Yang harus dijaga adalah niat dan substansinya, sehingga personal branding tidak berubah menjadi pencitraan tanpa karya.
Media sosial dapat menjadi ruang dakwah yang luas apabila digunakan secara bijak. Tema boleh dibuat menarik dan aktual, tetapi tidak seharusnya mengandalkan judul menyesatkan, sensasi, atau konflik semata-mata untuk mendapatkan perhatian. Dakwah digital tetap harus mengedepankan adab, kebenaran informasi, dan tanggung jawab keilmuan.
Pada akhirnya, kader ulama masa kini tidak cukup hanya memiliki ilmu. Mereka juga perlu mampu mengomunikasikan ilmu, mendokumentasikan kontribusi, dan membangun jejak yang dapat ditemukan masyarakat.
Algoritma pada dasarnya hanya memperbesar apa yang tersedia. Jika yang dibangun adalah karya, integritas, dan kontribusi, teknologi akan membantu memperluas manfaatnya. Sebaliknya, jika yang dibangun hanya sensasi, teknologi juga dapat memperbesar kelemahannya.
Karena itu, setiap peserta PKU diharapkan menyelesaikan program tidak hanya dengan membawa sertifikat, tetapi juga memiliki portofolio, jaringan, karya, dan arah dakwah yang jelas.
