Empat Kekeliruan Besar dalam Mendidik Anak

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Ketika kita mendidik anak, sering kali kita lupa bahwa mereka adalah amanah yang lembut dan peka. Ulama besar, Imam Abu Umar Yusuf bin Abd al-Barr al-Qurthuby rahimahullah mengingatkan dalam kitab Jami Bayan al-Ilm wa Fadlihi

تَبْقَى حَالُ الطِّفْلِ مَاثِلَةً أَمَامَ المُرَبِّي حِينَ تَرْبِيَتِهِ، كَمَا تَتَجَلَّى حَالُ المَرِيضِ أَمَامَ الطَّبِيبِ حِينَ مُعَالَجَتِهِ

Artinya: “Keadaan seorang anak selalu tampak jelas di hadapan pendidiknya, sebagaimana kondisi seorang pasien tampak jelas bagi dokter yang mengobatinya.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa anak adalah cermin keikhlasan dan kebijaksanaan kita. Hati mereka seperti tanah yang lembut, apa yang kita tanam akan tumbuh pada waktunya.

Banyak orang tua menyangka ketegasan harus dibarengi kekerasan, padahal kekerasan merusak jiwa anak. Para pakar pendidikan dan psikologi menganggap metode ini sebagai cara paling berbahaya bagi anak jika sering digunakan. Ketegasan memang diperlukan pada situasi tertentu, namun kekerasan dan sikap terlalu keras justru memperparah masalah. Ketika emosi menguasai orang tua, bentakan dan caci maki melukai kedalaman hati mereka. Dampaknya sering tampak di masa depan dalam bentuk kemarahan berlebihan, ketakutan yang terpendam, atau perilaku agresif.

Chamdar Nur Lc SPd MPd, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Sulsel

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang masyhur

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Artinya: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali memperindahnya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya.”

Anak tidak membutuhkan suara yang keras, tetapi sikap yang lembut dan pengertian yang menenangkan.

Ada pula orang tua yang terlalu memanjakan. Apa pun yang diminta anak diberi, apa pun kesalahannya dibiarkan. Kasih sayang seperti ini perlahan melemahkan kemampuan anak untuk menghadapi kehidupan. Mereka tumbuh tanpa daya tahan, tanpa kesanggupan menahan diri, dan tanpa kemampuan mematuhi aturan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan pentingnya kasih sayang yang seimbang

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا

Artinya: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengetahui hak yang besar.”

Kasih sayang bukan berarti memenuhi semua keinginannya. Terkadang, cinta terbesar hadir ketika kita mampu berkata tidak boleh nak.

Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung. Hari ini dimarahi karena sesuatu tanpa penjelasan, besok dibiarkan, lalu esoknya dilarang lagi. Anak kehilangan arah, tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Allah ta’ala berfirman

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Artinya: “Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat, dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (QS. Thaha: 132).

Kata وَاصْطَبِرْ menunjukkan bahwa ketegasan harus disertai konsistensi dan kesabaran.

Ketidakadilan adalah racun sunyi yang menimbulkan luka dalam di hati anak. Ada orang tua yang lebih menyayangi anak yang lebih cantik, lebih pintar, atau karena ia laki-laki. Semua itu menjadi sumber kecemburuan dan kebencian dalam hati anak yang lain.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. Muslim)

Ketidakadilan bukan hanya merusak hubungan antarsaudara, tetapi juga melukai kejiwaan anak yang terzalimi.

Anak-anak kita adalah amanah menuju surga. Setiap kata, sikap, dan keputusan kita akan kembali kepada kita dalam bentuk akhlak dan masa depan mereka.

Oleh karena itu, hendaknya kita mendidik dengan kelembutan, bersikap proporsional, dan mengasihi dengan penuh hikmah. Hendaknya kita berlaku adil tanpa kecuali, serta berusaha mendekatkan mereka kepada Allah ta‘ala. Sebab mereka tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi membutuhkan kehadiran kita dengan cinta, akhlak, serta doa-doa tulus yang terus mengiringi mereka.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَارِكْ فِي أَهْلِنَا.

Artinya: “Ya Allah, perbaikilah anak-anak kami dan berkahilah keluarga kami.” Aamiin …

 

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.