AG Prof Dr KH Faried Wadjedy Lc MA (Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulsel)
Makassar, muisulsel.or.id – Salat gerhana bulan (shalat khusuf) merupakan salah satu ibadah sunnah yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW ketika terjadi gerhana bulan. Ibadah ini menjadi salah satu bentuk penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT sekaligus wujud kepatuhan terhadap tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Menurut penjelasan para ulama, shalat gerhana bulan mulai disyariatkan pada tahun kelima Hijriah. Pensyariatannya bertepatan dengan terjadinya gerhana bulan pada masa Rasulullah SAW. Sejak saat itu, umat Islam diajarkan agar tidak menyikapi gerhana dengan mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar, melainkan dengan memperbanyak ibadah dan mengingat kebesaran Allah SWT.
Pada masa jahiliah, masyarakat Arab meyakini bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang yang memiliki kedudukan penting. Rasulullah SAW kemudian meluruskan keyakinan tersebut melalui sabdanya:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda datangnya musibah ataupun berkaitan dengan nasib seseorang. Gerhana merupakan salah satu ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada manusia agar mereka semakin mengingat dan mengagungkan-Nya.
Oleh karena itu, ketika gerhana bulan terjadi, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak zikir, doa, istigfar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melaksanakan salat gerhana. Semua amalan tersebut menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memohon ampunan atas segala dosa.
Shalat gerhana bulan dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan tata cara khusus sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Pelaksanaannya lebih utama dilakukan secara berjamaah di masjid sehingga menjadi syiar Islam yang mempererat ukhuwah di antara kaum Muslimin. Setelah shalat, imam juga dianjurkan menyampaikan nasihat atau khutbah yang mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan dan mengambil pelajaran dari fenomena alam tersebut.
Melalui shalat gerhana bulan, umat Islam diajak merenungkan bahwa matahari, bulan, dan seluruh alam semesta bergerak sesuai ketetapan Allah SWT. Tidak ada satu pun yang terjadi di alam ini tanpa izin dan kehendak-Nya.
Karena itu, setiap kali terjadi gerhana bulan, seorang Muslim hendaknya tidak hanya menyaksikan fenomena tersebut sebagai peristiwa astronomi semata. Lebih dari itu, gerhana menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta menyadari bahwa manusia adalah hamba yang senantiasa membutuhkan rahmat, ampunan, dan pertolongan-Nya. Dengan demikian, shalat gerhana bulan menjadi syiar yang mengingatkan umat akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang meliputi seluruh alam semesta.
Selengkapnya simak video di bawah ini
*Irfan Suba Raya*
