Ketika Manusia dikembalikan ke Usia Paling Lemah

Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd. (Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Makassar, muisulsel.or.id – Ada satu fase dalam hidup manusia yang begitu halus namun mengguncang hati, sebuah fase yang Allah sebut dengan nama yang tajam dan menyadarkan

أرذل العمر
Artinya: “Usia paling lemah”.

Itulah masa ketika manusia kembali seperti anak kecil, namun tanpa harapan untuk kembali kuat. Masa ketika mata mulai buram, telinga melemah, lidah tergagap, dan akal tak lagi mengikat ilmu sebagaimana dulu.

Allah ta’ala menggambarkan hakikat ini dalam firmanNya

وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya: “Dan di antara kalian ada yang dikembalikan kepada usia paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun setelah sebelumnya mengetahui. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nahl: 70).

Ayat ini mengajarkan bahwa perjalanan usia bukanlah milik manusia. Sebagian dipanggil sebelum tua, dan sebagian diseret oleh waktu hingga memasuki usia yang Allah ta’ala sebut sebagai paling rendah. Dan betapa indah Al-Qur’an menjelaskan siklus hidup ini pada banyak tempat

وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
Artinya: “Dan di antara kalian ada yang diwafatkan (lebih dahulu), dan di antara kalian ada pula yang dikembalikan kepada umur yang paling buruk (pikun), sehingga setelah pernah mengetahui, ia tidak mengetahui lagi sedikit pun.” (QS. Al-Hajj: 5).

Allah ta’ala berfirman

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
Artinya: “Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada keadaan lemah dalam penciptaannya. Maka apakah mereka tidak mengerti?” (QS. Yassin: 68).

Ayat ini adalah tanda bahwa umur adalah amanah yang dicatat, ditakar, dan ditetapkan oleh Allah ta’ala tak ada yang maju atau mundur sehelai pun dari ketentuanNya.

Betapa beratnya usia ini, sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri memohon perlindungan darinya. Dalam Shahih Bukhari, Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa

اللهم إني أعوذ بك من البخل والكسل وأرذل العمر وعذاب القبر وفتنة الدجال وفتنة المحيا والممات
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat kikir, dari sifat malas, dari usia yang paling buruk (masa pikun dan kelemahan), dari azab kubur, dari fitnah Dajjal, dan dari fitnah kehidupan serta kematian.”

Inilah doa seorang Nabi, manusia paling kuat jiwanya, yang meminta perlindungan dari usia ketika akal melemah, ingatan hilang, dan kehormatan diri runtuh tanpa daya.

Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah dalam Tuhfat al-Ahwazi berkata “Disebut Ardzal al-‘Umur karena ia merupakan keadaan paling buruk dari usia seseorang, yaitu masa pikun dan kelemahan yang membuatnya tidak mampu menunaikan kewajiban dan tidak mampu melayani diri sendiri dalam perkara-perkara kebersihan, sehingga ia menjadi beban bagi keluarganya, dan mereka berharap ia segera meninggal.” Penjelasan ini menggambarkan betapa beratnya kondisi itu bagi seorang hamba.

Para ulama berbeda pandangan, tetapi mereka sepakat bahwa ukuran usia ini bukan angka, melainkan keadaan. Karena Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berusia 75 tahun, dan Imam Qatadah rahimahullah 90 tahun.

Namun realitas menunjukkan, kata para ulama, ada yang baru 70 tetapi ruh dan jasadnya sudah rapuh, sementara yang berusia 90 tahun masih kokoh dan jernih.

Penyair Arab pun menggambarkan getirnya usia ini. Zuhair berkata

سَئِمْتُ تَكَالِيفَ الحَيَاةِ وَمَنْ يَعِشْ
ثَمَانِينَ حَوْلًا لَا أَبَا لَكَ يَسْأَمِ
Artinya: “Aku lelah dengan beban hidup, dan siapa yang hidup delapan puluh tahun, wahai saudaraku, ia pasti akan lelah.”

Ada sebuah kabar gembira yang diisyaratkan sebagian ulama, para ulama yang beramal, menjaga ilmu, dan menjaga hati, tidak terkena kerusakan akal dan ilmu pada usia tua.

Ulama kita mengisyaratkan makna itu dari firman Allah ta’ala

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Artinya: “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tin: 5-6).

Kemudian berkata bahwa tidak semua orang dikembalikan kepada kehinaan usia tua. Ada jiwa-jiwa yang Allah ta’ala muliakan dengan iman dan amal, sehingga ilmu, akal, dan kejernihan hati mereka tetap terjaga.

Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap mengingatkan batas usia umat beliau dalam sebuah hadis sahih

أعمارُ أمتي ما بين الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يَجُوزُ ذلك

Artinya: “Umur umatku berada antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sangat sedikit di antara mereka yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini bukan sekadar informasi, tetapi peringatan lembut bahwa hidup ini singkat, dan kesempatan untuk memperbaiki diri lebih singkat lagi.

Oleh karena itu, siapa yang masih diberi kesehatan, kejernihan akal, dan kemampuan beribadah sesungguhnya sedang memegang nikmat besar yang tidak boleh disia-siakan. Sebab akan datang masa ketika rukuk menjadi berat, doa tak lagi mengalir, dan satu ayat pun sulit terucap. Allah ta’ala ingin kita memahami bahwa kekuatan hanyalah titipan yang akan dicabut kapan saja. Maka usia tua bukanlah kehinaan, yang hina adalah hati yang tiba di sana tanpa iman dan amal. Adapun mereka yang hidup dalam ketaatan, setiap bertambah umur adalah bertambah kemuliaan dan derajat di sisi Allah ta’ala.

اللهم إنا نعوذ بك من أرذل العمر، واجعل بقية أعمارنا في طاعتك، واختم لنا بالإيمان.
Artinya: “Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari usia paling lemah; jadikan sisa umur kami dalam ketaatan, dan wafatkan kami di atas iman.”Aamiin …

 

*Irfan Suba Raya*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
1
MUI MENJAWAB: Silahkan ajukan pertanyaan seputar Islam, akan dijawab Langsung ULAMA dari MUI SULSEL.